Dampak Harga BBM dan LPG Naik: Pejabat Berhemat, UMKM Tertekan

Dampak Harga BBM dan LPG Naik: Pejabat Berhemat, UMKM Tertekan

Kenaikan harga BBM dan LPG nonsubsidi memicu efek berantai. Pejabat mulai berhemat, sementara pelaku UMKM tertekan dan harus menyiasati lonjakan biaya

(Kompas.com) 22/04/26 10:08 198789

JAKARTA, KOMPAS.com – Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan liquefied petroleum gas (LPG) nonsubsidi sejak Sabtu (18/4/2026) mulai memicu efek berantai, dari langkah efisiensi pejabat daerah hingga tekanan pada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Pemerintah melalui PT Pertamina (Persero) resmi menaikkan harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex, serta LPG nonsubsidi. Penyesuaian ini mengacu pada formula harga dasar BBM sesuai Keputusan Menteri ESDM.

Kenaikan harga BBM nonsubsidi tergolong signifikan. Untuk wilayah Jakarta, harga Pertamax Turbo naik menjadi Rp 19.400 per liter dari sebelumnya Rp 13.100.

Harga Dexlite melonjak ke Rp 23.600 per liter dari Rp 14.200, sementara Pertamina Dex naik menjadi Rp 23.900 per liter dari Rp 14.500. Secara rata-rata, kenaikan mencapai sekitar 60 persen.

Selain BBM, harga LPG nonsubsidi juga meningkat. LPG 12 kg di Jakarta kini berada di kisaran Rp 228.000 per tabung, naik Rp 36.000 dari sebelumnya Rp 192.000. Sementara LPG 5,5 kg naik Rp 17.000 dari Rp 90.000 menjadi Rp 107.000 per tabung.

Kenaikan ini terjadi seiring lonjakan harga energi global, termasuk minyak mentah dan kontrak LPG dunia, yang dipicu ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.

Pejabat mulai berhemat

Dampak langsung mulai terlihat di daerah. Di Tasikmalaya, Wakil Wali Kota Diky Candra Negara mengambil langkah efisiensi dengan mengganti kendaraan dinasnya.

Ia memilih beralih dari Mitsubishi Pajero berbahan bakar Pertamina Dex ke Toyota Innova Zenix yang dinilai lebih hemat. Menurut dia, lonjakan harga BBM jenis diesel dan bensin beroktan tinggi berpotensi membebani anggaran operasional daerah.

"Saya secara pribadi sudah menyampaikan ke bagian umum, bahwa ke depan saya pake mobil Toyota Innova Zenix itu lebih irit karena tidak ada kenaikan (signifikan pada jenis BBM-nya)," ujar Diky, Minggu (19/4/2026), dikutip dari Kompas.com.

Ia menilai mempertahankan kendaraan lama akan memicu pembengkakan anggaran. Karena itu, ia mengusulkan agar mobil dinas sebelumnya diistirahatkan atau dilelang.

"Kalau pake Pajero yang sekarang untuk sehari-hari, kemungkinan akan membengkak dan tentunya harus ada tambahan BBM dan itu tidak mungkin nambah anggaran," katanya.

Diky juga menekankan pentingnya perubahan gaya hidup pejabat di tengah kondisi ekonomi saat ini.

"Jangan pernah berpikir lagi pola hidup dimana pejabat teh kudu keren, di mana pejabat kudu kitu (begitu), kita tidak seperti itu dengan kondisi sekarang yuk menyesuaikan diri dengan kondisi bahwa pejabat pun sama manusia," tegasnya.

Selat Hormuz Sempat Dibuka, Kenapa Harga BBM Nonsubsidi di Indonesia Naik? Harga BBM hari ini kembali menjadi sorotan setelah terjadi penyesuaian signifikan pada BBM nonsubsidi. PT Pertamina (Persero) menaikkan harga BBM Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex. Selat Hormuz Sempat Dibuka, Kenapa Harga BBM Nonsubsidi di Indonesia Naik?

UMKM tertekan, putar strategi

Di sisi lain, pelaku UMKM mulai merasakan tekanan akibat kenaikan harga energi. Untuk menekan biaya operasional, sebagian pelaku usaha mencari alternatif penggunaan energi.

Pemilik Kedai Siberat di Jakarta, Novia Ajeng, mengaku harus menyiasati kenaikan harga LPG.

"Biasanya pakai yang 12 kilo (gram). Cuma buat sekarang karena harganya naik lumayan banget ya, kadang kita akalin pakai yang 3 kilo (gram), yang subsidi," ujarnya, Selasa (21/4/2026), dikutip dari Kompas.tv.

Meski biaya operasional meningkat, Ajeng belum berani menaikkan harga jual produknya. Ia khawatir pelanggan akan berkurang karena sensitif terhadap kenaikan harga.

"Karena kita UMKM kan sangat berpengaruh ya kalau ada kenaikan-kenaikan dari harga gas, plastik, bahan baku lainnya, dan enggak bisa semena-mena kita naikin harga jualnya," katanya.

Ia memilih mencari efisiensi lain agar usaha tetap berjalan, meski margin keuntungan berpotensi tergerus.

Kompas.com/Faqih Rohman Syafei Deretan LPG non-subsidi di distributor resmi Pertamina di Jalan Emong, Kota Bandung, Senin (20/4/2026).

Mengikuti mekanisme pasar

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan, kenaikan harga BBM dan LPG nonsubsidi merupakan konsekuensi mekanisme pasar.

"Nah, kenapa harganya naik? Saya katakan bahwa kita mengatur harga yang bisa menjamin untuk harganya enggak naik itu adalah yang bersubsidi. Sementara yang tidak bersubsidi itu dipakai oleh industri, jadi itu memang tidak kita atur harganya," ujar Bahlil.

Ia menambahkan, harga energi nonsubsidi akan mengikuti pergerakan harga global. Jika harga minyak dunia turun, maka harga BBM dan LPG nonsubsidi juga berpotensi ikut turun.

Sementara itu, pemerintah memastikan harga dan stok LPG subsidi 3 kilogram tetap terjaga agar tetap terjangkau bagi masyarakat.

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Langkah Hemat Diky Candra Hadapi Kenaikan BBM Nonsubsidi, Pajero Ditinggal, Zenix Dipilih dan telah tayang di Kompas.tv dengan judul Harga Elpiji 12 Kg Naik, Pelaku UMKM di Jakarta Putar Otak

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#harga-bbm #mobil-dinas #harga-bbm-nonsubsidi #harga-lpg-nonsubsidi #dampak-harga-bbm-naik #harga-lpg-12-kg-naik

https://money.kompas.com/read/2026/04/22/100734426/dampak-harga-bbm-dan-lpg-naik-pejabat-berhemat-umkm-tertekan