Kolaborasi ASEAN–Korea Dorong UMKM Go Green Lewat Energi Terbarukan dan Pembiayaan Berkelanjutan

Kolaborasi ASEAN–Korea Dorong UMKM Go Green Lewat Energi Terbarukan dan Pembiayaan Berkelanjutan

Upaya mempercepat transisi menuju ekonomi hijau di kawasan ASEAN terus diperkuat melalui kolaborasi lintas negara dan sektor.

(WE Finance) 23/04/26 22:59 201167

Warta Ekonomi, Bekasi -

Upaya mempercepat transisi menuju ekonomi hijau di kawasan ASEAN terus diperkuat melalui kolaborasi lintas negara dan sektor. Hal ini tercermin dalam penyelenggaraan seminar multinasional oleh Green Innovation Cooperation Center (GICC) bersama ASEAN-ROK Financial Cooperation Centre, BINUS University, dan Innobiz Association, dengan dukungan Kementerian Koperasi serta Kementerian UMKM Republik Indonesia.

Seminar yang digelar di BINUS University Bekasi ini mengangkat tema penguatan ekonomi hijau melalui pemanfaatan energi terbarukan dan pembiayaan berkelanjutan, khususnya bagi pelaku UMKM, koperasi, dan startup di kawasan ASEAN.

GICC sendiri merupakan inisiatif di bawah ASEIC (ASEM SMEs Eco-Innovation Center) yang berbasis di Korea Selatan, dengan fokus pada pengembangan inovasi ramah lingkungan serta peningkatan kapasitas UMKM di negara-negara mitra ASEM.

Acara ini menjadi wadah strategis yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, akademisi, industri, hingga organisasi internasional, untuk membahas langkah konkret dalam mendorong ekonomi hijau yang inklusif dan berkelanjutan.

Direktur GICC, Kim Heesoon, dalam sambutannya menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor menjadi kunci utama dalam membangun ekosistem ekonomi hijau di kawasan.

“Untuk membangun ekosistem ekonomi hijau yang berkelanjutan, kolaborasi lintas sektor sangat penting, dengan UMKM dan koperasi sebagai pilar utama ekonomi ASEAN,” ujarnya.

Sejumlah tokoh turut hadir dalam kegiatan ini, di antaranya Ketua ASEAN-ROK Financial Cooperation Centre Lee Young Jick, Vice President BINUS Higher Education George Wijaya Hadipoespito, serta perwakilan dari Kementerian UMKM dan Kementerian Koperasi Republik Indonesia.

Dalam sesi diskusi, para pembicara menyoroti berbagai tantangan dan peluang dalam penerapan ekonomi hijau di tingkat UMKM. Topik yang dibahas mencakup pemanfaatan teknologi energi terbarukan, penguatan akses terhadap pembiayaan berkelanjutan, hingga integrasi inovasi digital dalam transformasi bisnis.

Analis dekarbonisasi bisnis dari University of Oxford, Andi Darell Alhakim, menilai bahwa tantangan terbesar bagi UMKM bukan hanya keterbatasan solusi, melainkan titik awal untuk memulai perubahan.

“Bagi banyak UMKM, tantangan terbesar bukanlah kurangnya solusi, tetapi mengetahui dari mana harus memulai. Pada kenyataannya, langkah-langkah kecil dan praktis sudah dapat memberikan dampak yang berarti,” jelasnya.

Senada dengan itu, Lee Young Jick menekankan pentingnya integrasi antara berbagai faktor pendukung dalam mempercepat transisi hijau.

“Memperkuat keterkaitan antara teknologi, keuangan, dan kebijakan akan menjadi kunci untuk mempercepat keberhasilan transisi hijau di kawasan ASEAN,” katanya.

Selain sesi pemaparan materi, seminar ini juga menghadirkan talk show interaktif dan presentasi dari para ahli serta praktisi. Diskusi turut menyoroti peran universitas dalam mendorong inovasi UMKM, kebijakan pemerintah, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), hingga strategi dekarbonisasi.

Tak hanya menjadi ruang pertukaran gagasan, kegiatan ini juga membuka peluang kemitraan strategis antara sektor publik dan swasta di tingkat regional. Melalui forum ini, GICC kembali menegaskan komitmennya dalam mendorong inovasi, memperkuat kolaborasi internasional, serta mendukung pengembangan ekonomi hijau yang inklusif dan berkelanjutan di kawasan ASEAN.

#umkm

https://wartaekonomi.co.id/read609059/kolaborasi-aseankorea-dorong-umkm-go-green-lewat-energi-terbarukan-dan-pembiayaan-berkelanjutan