Indonesia Masuk Fase "Aging Population", Lansia Tembus 11,97 Persen
Proporsi penduduk lanjut usia (lansia) kian meningkat hingga menandai masuknya Indonesia ke fase aging population atau populasi menua.
(Kompas.com) 05/05/26 16:31 211941
JAKARTA, KOMPAS.com – Struktur demografi Indonesia menunjukkan perubahan penting dalam satu dekade terakhir.
Di satu sisi, jumlah penduduk terus bertambah dan masih didominasi usia produktif. Namun di sisi lain, proporsi penduduk lanjut usia (lansia) kian meningkat hingga menandai masuknya Indonesia ke fase aging population atau populasi menua.
Hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah penduduk Indonesia mencapai 284,67 juta jiwa.
Image credit: Ryoji Iwata/Unsplash Ilustrasi populasi duniaPertumbuhan ini terjadi di tengah tren perlambatan laju pertumbuhan penduduk yang kini berada di angka 1,08 persen per tahun dalam lima tahun terakhir.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyatakan, perlambatan ini mencerminkan perubahan pola demografi yang perlu dicermati dalam perencanaan pembangunan.
“Laju pertumbuhan penduduk yang melambat menunjukkan adanya perubahan pola demografi yang perlu diantisipasi dalam perencanaan pembangunan ke depan,” ujar Amalia dalam jumpa pers di Jakarta, Selasa (5/5/2026).
Bonus demografi masih berlangsung
Meski laju pertumbuhan melambat, struktur umur penduduk Indonesia saat ini masih didominasi oleh kelompok usia produktif. Berdasarkan SUPAS 2025, sekitar 68,94 persen penduduk berada pada rentang usia 15 sampai 64 tahun.
Komposisi ini diperkuat dengan dominasi generasi muda, yakni Generasi Z dan milenial yang secara total mencakup hampir separuh populasi. Bahkan jika ditambah dengan kelompok Post-Gen Z, totalnya mencapai sekitar 68,92 persen dari keseluruhan penduduk.
FREEPIK/FREEPIK Ilustrasi Gen Z. Perbedaan cara berkomunikasi hingga penggunaan media sosial membuat sejumlah kebiasaan Gen Z dinilai membingungkan hingga memicu stres bagi generasi milenial.Dominasi usia produktif tersebut menempatkan Indonesia masih berada dalam fase bonus demografi. Hal ini juga tercermin dari rasio ketergantungan yang masih berada di bawah 50, yakni sebesar 45,05 pada 2025.
Artinya, setiap 100 penduduk usia produktif menanggung sekitar 45 penduduk usia nonproduktif.
Namun demikian, tren rasio ketergantungan mulai menunjukkan kenaikan dibandingkan periode sebelumnya. Pada Long Form Sensus Penduduk 2020, rasio ini masih berada di angka 44,33.
“Kita perlu hati-hati sebab angka rasio ketergantungan mulai meningkat. Indonesia masih mengalami bonus demografi, namun kita sudah memasuki fase aging population karena proporsi penduduk lansia sudah berada di atas 10 persen, tepatnya 11,97 persen,” kata Amalia.
Awal fase penuaan penduduk
Masuknya Indonesia ke fase aging population ditandai oleh meningkatnya proporsi penduduk berusia 60 tahun ke atas yang telah melampaui ambang 10 persen.
SUPAS 2025 mencatat, persentase lansia mencapai 11,97 persen, naik signifikan dibandingkan 9,93 persen pada 2020, 8,47 persen pada 2015, dan 7,59 persen pada 2010.
Data tersebut memperlihatkan tren penuaan penduduk yang konsisten dalam 15 tahun terakhir. Secara rinci, lansia perempuan memiliki proporsi lebih tinggi, yakni 12,61 persen, dibandingkan lansia laki-laki sebesar 11,34 persen.
Kondisi ini menandakan perubahan struktur umur penduduk, di mana kelompok usia tua semakin membesar, sementara kelompok usia muda cenderung menyusut.
Pada periode 2010–2025, proporsi penduduk usia 0–14 tahun turun dari 28,87 persen menjadi 23,44 persen, sedangkan kelompok usia 65 tahun ke atas meningkat dari 5,04 persen menjadi 7,62 persen.
Perubahan tersebut menggambarkan pergeseran demografi yang secara bertahap mengarah pada populasi yang menua.
Freepik Ilustrasi populasi manusia dalam suatu ekologi. Jumlah manusia yang bisa ditampung Bumi tergantung dari bagaimana cara manusia berkembangFertilitas menurun, mendekati titik pengganti
Salah satu faktor utama yang mendorong penuaan penduduk adalah penurunan tingkat fertilitas. SUPAS 2025 mencatat angka kelahiran total (Total Fertility Rate/TFR) sebesar 2,13, menurun dari 2,18 pada hasil Long Form SP2020.
Angka ini semakin mendekati replacement level sebesar 2,10, yakni tingkat kelahiran yang diperlukan agar suatu populasi dapat menggantikan dirinya secara alami tanpa migrasi.
Penurunan fertilitas terjadi secara konsisten dalam satu dekade terakhir. Pada 2010, TFR masih berada di angka 2,41, kemudian turun menjadi 2,28 pada 2015, 2,18 pada 2020, dan kini 2,13 pada 2025.
Penurunan ini terutama terlihat pada kelompok perempuan usia muda. Angka kelahiran pada kelompok usia 15–19 tahun turun signifikan dari 41,30 per 1.000 perempuan pada 2010 menjadi 16,99 pada 2025.
Selain itu, terjadi pergeseran pola fertilitas, di mana puncak kelahiran tetap berada pada kelompok usia 25–29 tahun, tetapi mulai bergeser dengan meningkatnya kontribusi kelompok usia 30–44 tahun.
Perbaikan kesehatan dan harapan hidup
Selain penurunan fertilitas, penuaan penduduk juga dipengaruhi oleh meningkatnya kualitas kesehatan dan penurunan angka kematian.
SUPAS 2025 mencatat angka kematian bayi (Infant Mortality Rate/IMR) turun menjadi 14,12 kematian per 1.000 kelahiran hidup. Angka ini menurun tajam dibandingkan 26,09 pada 2010.
Penurunan juga terjadi pada indikator lain seperti angka kematian ibu melahirkan (Maternal Mortality Ratio/MMR) yang kini berada di angka 144, turun signifikan dibandingkan satu dekade sebelumnya.
Getty Images Ilustrasi lansiaPerbaikan indikator kesehatan tersebut berkontribusi pada meningkatnya harapan hidup, yang pada akhirnya memperbesar jumlah penduduk lansia dalam struktur demografi.
Variasi antarwilayah
Fenomena penuaan penduduk tidak terjadi secara merata di seluruh wilayah Indonesia. SUPAS 2025 menunjukkan adanya disparitas antarprovinsi dalam proporsi lansia.
Provinsi dengan persentase lansia tertinggi adalah DI Yogyakarta sebesar 17,83 persen, diikuti Jawa Timur sebesar 15,45 persen, dan Bali sebesar 15,07 persen.
Sebaliknya, wilayah dengan persentase lansia terendah berada di kawasan timur Indonesia, seperti Papua Tengah (6,71 persen), Papua Barat (6,77 persen), dan Papua Selatan (6,81 persen).
Perbedaan ini mencerminkan variasi tingkat fertilitas, mortalitas, serta dinamika sosial ekonomi antarwilayah.
Lansia dan sumber penghidupan
SUPAS 2025 juga memberikan gambaran mengenai kondisi ekonomi lansia, khususnya terkait sumber utama penghidupan.
Sebagian besar lansia masih bergantung pada keluarga, dengan proporsi mencapai 48,56 persen. Sementara itu, 37,72 persen lansia masih memperoleh penghasilan dari pekerjaan.
Sumber lain yang menopang kehidupan lansia antara lain pensiun sebesar 8,82 persen, jaminan sosial atau bantuan sosial sebesar 2,42 persen, serta tabungan dan investasi yang hanya berkontribusi 1,13 persen.
Data ini menunjukkan, ketergantungan lansia terhadap keluarga masih menjadi pola dominan dalam struktur sosial ekonomi Indonesia.
Dok. UNSPLASH/Mufid Majnun Ilustrasi penduduk Jakarta.Dinamika mobilitas dan implikasi demografi
Perubahan struktur demografi juga terjadi bersamaan dengan meningkatnya mobilitas penduduk.
SUPAS 2025 mencatat bahwa sekitar 15 dari 1.000 penduduk usia 5 tahun ke atas tinggal di provinsi berbeda dibandingkan lima tahun sebelumnya.
Di sisi lain, migrasi internasional menunjukkan bahwa jumlah penduduk yang keluar negeri lebih besar dibandingkan yang masuk.
Pada periode 2022–2025, tercatat sekitar satu juta orang keluar dari Indonesia, sementara migrasi masuk mencapai 537.000 orang.
Selain itu, fenomena komuter juga meningkat, terutama di wilayah metropolitan. Sekitar 8 dari 100 penduduk usia 5 tahun ke atas melakukan perjalanan pulang-pergi antarwilayah dalam aktivitas sehari-hari.
Mobilitas ini mencerminkan perubahan pola aktivitas ekonomi dan keterkaitan antarwilayah yang semakin kuat.
Pergeseran struktur jangka panjang
Secara keseluruhan, hasil SUPAS 2025 menunjukkan Indonesia berada dalam fase transisi demografi yang kompleks.
Di satu sisi, bonus demografi masih berlangsung dengan dominasi usia produktif. Namun di sisi lain, peningkatan proporsi lansia menandai awal fase penuaan penduduk.
Kombinasi antara penurunan fertilitas, peningkatan kualitas kesehatan, serta perubahan struktur umur menjadi faktor utama yang mendorong pergeseran ini.
“Indonesia saat ini berada pada fase ageing population dengan persentase penduduk lanjut usia mencapai 11,97 persen,” ungkap BPS dalam laporannya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang#lansia #jumlah-penduduk #pertumbuhan-penduduk #usia-produktif #aging-population