CORE:

CORE: "Swap currency" perlu dukungan fiskal jaga stabilitas rupiah

Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Dipo Satria Ramli menilai kerja sama pertukaran mata uang antarnegara (swap currency) dan diversifikasi ...

(Antara) 06/05/26 16:28 213295

Jakarta (ANTARA) - Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Dipo Satria Ramli menilai kerja sama pertukaran mata uang antarnegara (swap currency) dan diversifikasi pembiayaan non-dolar dapat membantu menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan global.

Namun demikian, ia menilai langkah tersebut belum cukup untuk memperkuat fundamental rupiah tanpa didukung perbaikan faktor domestik, terutama persepsi fiskal.

Swap currency dan diversifikasi pembiayaan non-dolar bisa (membantu) sebagai stabilisasi rupiah, namun bukan obat untuk penguatan fundamental rupiah,” kata Dipo kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.

Kerja sama swap currency merupakan mekanisme pertukaran mata uang antarbank sentral negara untuk memperkuat likuiditas dan mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam transaksi maupun stabilisasi pasar keuangan.

Ia menjelaskan instrumen tersebut dapat menjadi bantalan likuiditas ketika terjadi arus modal keluar (capital outflow) dalam jumlah besar.

Menurut dia, kerja sama pembiayaan non-dolar juga memberikan sinyal kepada pasar bahwa Indonesia memiliki cadangan likuiditas untuk menghadapi gejolak eksternal.

“Pada intinya, swap currency dan pembiayaan non-dolar bertindak sebagai dana cadangan kalau ada capital outflow besar-besaran,” ujarnya.

Dipo menilai tekanan terhadap rupiah tidak hanya berasal dari faktor global, seperti penguatan dolar AS dan ketidakpastian geopolitik, tetapi juga faktor domestik.

Ia mengatakan pelemahan rupiah dalam terhadap sejumlah mata uang kawasan dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan adanya kekhawatiran pelaku pasar terhadap kondisi dalam negeri.

“Pelemahan rupiah itu bukan hanya faktor global, tetapi juga domestik,” tuturnya.

Menurut Dipo, salah satu perhatian utama pelaku pasar adalah persepsi terhadap kondisi fiskal, termasuk defisit APBN dan disiplin belanja pemerintah.

Ia menilai penguatan kepercayaan pasar terhadap kebijakan fiskal menjadi penting agar fundamental rupiah dapat lebih kuat.

Di sisi lain, Dipo menilai Bank Indonesia (BI) telah melakukan langkah stabilisasi secara optimal melalui intervensi di pasar valuta asing.

“Kalau dari BI itu sebenarnya (langkah) sudah sangat maksimal. Mereka sudah intervensi di pasar spot dan pasar NDF, cadangan devisa kita juga sehat,” ungkap Dipo.

Berdasarkan data Bank Indonesia, kurs transaksi BI pada Rabu menunjukkan nilai tukar dolar AS berada di level Rp17.512,13 untuk kurs jual dan Rp17.337,88 untuk kurs beli.

Sementara itu, rupiah pada perdagangan Rabu pagi dilaporkan menguat 34 poin menjadi Rp17.390 per dolar AS dibandingkan posisi sebelumnya Rp17.424 per dolar AS.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah bersama Bank Indonesia menyiapkan kerja sama swap currency dengan China, Jepang, Korea Selatan, dan sejumlah negara lain sebagai salah satu langkah menjaga stabilitas rupiah.

Pemerintah juga menyiapkan diversifikasi penerbitan surat berharga dalam beberapa mata uang seperti Yuan China dan Yen Jepang guna mengurangi tekanan terhadap dolar AS di tengah dinamika ekonomi global.

Pewarta: Aria Ananda
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026

#rupiah #nilai-tukar #ekonom #core #swap-currency #airlangga-hartarto

https://www.antaranews.com/berita/5556552/core-swap-currency-perlu-dukungan-fiskal-jaga-stabilitas-rupiah