Freeport Indonesia Setor Rp 75 T ke Negara: Pajak, Royalti, Dividen 2025
PT Freeport Indonesia telah menyetor Rp 75 triliun ke negara di 2025 dari pajak, royalti, dan dividen. Perusahaan targetkan pemulihan produksi penuh dan investasi sosial meningkat.
(Kompas.com) 08/05/26 14:39 215594
JAKARTA, KOMPAS.com - PT Freeport Indonesia (PTFI) total telah menyetorkan Rp 75 triliun kepada negara.
Nilai itu berasal dari pajak, royalti, dividen, hingga bagian keuntungan bersih perusahaan tahun 2025.
Terbaru, PTFI menyetorkan tambahan bagian keuntungan bersih perusahaan tahun 2025 sebesar Rp 4,8 triliun kepada pemerintah pusat dan pemerintah daerah di Papua Tengah pada 8 April 2026.
(Istimewa Karyawan PTFI ) Kawasan Grasberg wilayah objek vital nasional tambang PT Freeport Indonesia, Mimika, Papua Tengah, diselimuti hujan salju, Senin (26/1/2026)."Perusahaan senantiasa mengedepankan transparansi dan akuntabilitas dalam menjalankan kewajibannya kepada negara dan daerah dengan harapan agar dapat dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kepentingan rakyat di daerah masing-masing," ujar Presiden Direktur PTFI Tony Wenas dalam keterangannya, Jumat (8/5/2026).
Secara perinci, dari total setoran Rp 75 triliun tersebut, termasuk dividen kepada MIND ID selaku pemegang saham pemerintah Indonesia sebesar Rp 16,9 triliun.
Selain itu, pemerintah daerah juga menerima bagian sebesar Rp 13,48 triliun.
Nilai tersebut terdiri dari Rp 10,6 triliun yang telah dibayarkan sepanjang 2025 dan tambahan Rp 2,88 triliun yang berasal dari pembagian keuntungan bersih perusahaan tahun 2025.
Kemudian tambahan Rp 4,8 triliun bagian keuntungan bersih perusahaan meliputi, pemerintah pusat sebesar Rp 1,92 triliun atau 4 persen, Pemerintah Provinsi Papua Tengah sebesar Rp 720,5 miliar atau 1,5 persen, dan Pemerintah Kabupaten Mimika sebesar Rp 1,2 triliun atau 2,5 persen.
Serta diberikan pada tujuh kabupaten lain di Papua Tengah masing-masing menerima Rp 137,2 miliar dengan total Rp 960,4 miliar atau 2 persen.
Tujuh kabupaten tersebut yakni Kabupaten Nabire, Paniai, Puncak, Puncak Jaya, Dogiyai, Deiyai, dan Intan Jaya.
KOMPAS.com/SUPARJO RAMALAN Presiden Direktur PTFI, Tony Wenas, mengatakan prioritas utama perusahaan saat ini bukan soal kepemilikan saham, melainkan pemulihan tambang Grasberg (GBC) pasca insiden longsorTony mengatakan, kontribusi PTFI kepada negara masih berpotensi meningkat seiring harga komoditas mineral yang relatif tinggi.
Namun demikian, saat ini operasional perusahaan masih dalam tahap pemulihan pasca insiden di tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC).
"Saat ini operasional PTFI masih dalam tahap pemulihan setelah insiden tambang bawah tanah Grasberg Block Cave (GBC), dengan tingkat produksi baru mencapai sekitar 40 hingga 50 persen. Perusahaan menargetkan dapat kembali mencapai kapasitas penuh pada awal tahun 2028," jelas Tony.
Selain kontribusi kepada negara, PTFI juga melanjutkan program investasi sosial di sekitar wilayah operasional perusahaan.
Sepanjang 2025, nilai investasi sosial perusahaan mencapai Rp 2 triliun.
Ke depan, PTFI menargetkan investasi sosial sekitar 100 juta dollar AS atau setara Rp 1,7 triliun per tahun hingga 2041.
"Keberhasilan PTFI sebagai perusahaan adalah ketika masyarakat di sekitar wilayah operasional turut meningkat taraf hidup dan kesejahteraannya. Kami percaya tidak ada perusahaan yang berhasil di tengah masyarakat yang gagal. Karena itu, kami akan terus tumbuh dan berkembang bersama masyarakat hingga selesainya operasi penambangan," pungkas Tony.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang#pt-freeport-indonesia #investasi-sosial #kontribusi-negara #tambang-grasberg-block-cave