Akhiri Pekan, Rupiah Ditutup ke Level Rp 17.597 per Dollar AS
Nilai tukar rupiah melemah 0,39% dipicu tensi geopolitik Timur Tengah, penguatan dolar AS, dan potensi suku bunga tinggi The Fed. BI berupaya intervensi hingga pasar domestik kembali buka.
(Kompas.com) 15/05/26 15:41 221877
JAKARTA, KOMPAS.com - Nilai tukar rupiah di pasar spot masih ditutup melemah pada perdagangan Jumat (15/5/2026). Mata uang Garuda melemah 0,39 persen ke level Rp 17.597 per dollar Amerika Serikat (AS).
Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai pelemahan rupiah dipicu kombinasi sentimen eksternal dan domestik, mulai dari tensi geopolitik yang memanas di Timur Tengah, penguatan dollar AS hingga tren suku bunga tinggi.
"Kondisi eksternal membuat dollar mengalami penguatan, kemudian harga minyak juga naik dan berdampak terhadap pelemahan mata rupiah," ujar Ibrahim dalam keterangannya, Jumat (15/5/2026).
Pasar global saat ini mencermati ketegangan di Selat Hormuz yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat (AS). Situasi memanas setelah Iran menggelar latihan perang besar-besaran di kawasan tersebut.
Selain itu, insiden kapal kargo yang tenggelam di perairan Oman dan penahanan sejumlah kapal oleh Iran turut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap keamanan jalur distribusi minyak dunia.
Menurut Ibrahim, kondisi tersebut membuat harga minyak dunia naik dan mendorong investor memburu aset safe haven berupa dollar AS.
Mengutip Reuters, indeks dollar AS tercatat berada di posisi 98,98 pada hari ini, naik ke level tertinggi dalam dua minggu.
Secara mingguan, indeks tersebut diperkirakan menguat lebih dari 1 persen, yang sekaligus kenaikan terbesar sejak awal Maret 2026.
Di sisi lain, ekspektasi bahwa bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga tinggi juga memperkuat indeks dollar AS.
"Ada kemungkinan besar di tahun 2026 ini, bank sentral Amerika tidak akan menurunkan suku bunga. Ini mengindikasikan bahwa mempertahankan suku bunga lebih tinggi lagi ini akan berdampak terhadap penguatan indeks dollar, apalagi dibarengi dengan perang dagang nanti," kata dia.
Dari dalam negeri, Ibrahim menilai pelemahan rupiah semakin terasa karena pasar domestik sedang libur panjang sehingga intervensi Bank Indonesia (BI) hanya bisa dilakukan di pasar internasional.
Adapun pasar saat ini libur panjang dalam rangka peringatan Hari Kenaikan Yesus Kristus pada 14 Mei 2026, yang kemudian berlanjut dengan cuti bersama dan akhir pekan hingga Minggu.
"Intervensi di pasar internasional itu tidak terlalu signifikan. Karena kita lihat bahwa liburnya pasar di Indonesia ini membuat tekanan yang begitu besar secara eksternal, sehingga membuat transaksi valuta asing di pasar internasional itu begitu luar biasa dampaknya," ucap Ibrahim.
Meski begitu, upaya BI terus melakukan intervensi dinilai cukup baik, sebab kurs rupiah mulai menunjukkan penguatan dengan berada di level Rp 17.596 per dollar AS per hari ini pukul 15.00 WIB dari pagi tadi berada di level 17.600 per dollar AS.
"Ini artinya BI benar-benar melakukan intervensi di pasar internasional. Mungkin nanti kita akan berbicara berbeda pada saat pembukaan pasar di hari Senin," katanya.
Ibrahim menambahkan, tingginya impor minyak mentah Indonesia juga menjadi salah satu faktor yang membebani rupiah.
Ia bilang, sekitar 85 persen impor minyak digunakan untuk subsidi bahan bakar minyak (BBM).
"Permasalahan anggaran yang cukup besar untuk subsidi minyak mentah ini salah satu penyebab pelemahan rupiah,” ucap Ibrahim.
Ke depan, Ibrahim pun memperkirakan BI berpotensi menaikkan suku bunga acuan demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
"Ada kemungkinan besar Bank Indonesia akan menaikkan suku bunga 25 sampai 50 basis point untuk menstabilkan rupiah," katanya.
Meski demikian, ia menilai fundamental ekonomi Indonesia masih relatif kuat karena mayoritas kepemilikan obligasi pemerintah masih didominasi investor domestik.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang#suku-bunga-the-fed #rupiah-melemah #intervensi-bank-indonesia #geopolitik-timur-tengah