Nissan Yakin Kembali Meraih Keuntungan Setelah Hampir Dua Tahun Terus Merugi
Nissan Yakin Akan Kembali Meraih Keuntungan Setelah Hampir Dua Tahun Terus Merugi Nissan memperkirakan perusahaan akan kembali meraih keuntungan pada tahun fiskal... | Halaman Lengkap
(SINDOnews Ekbis) 15/05/26 15:47 221899
TOKYO - Nissan memperkirakan perusahaan akan kembali meraih keuntungan pada tahun fiskal saat ini setelah mencatat kerugian bersih selama tujuh kuartal berturut-turut.Produsen mobil Jepang ini saat ini sedang mempercepat berbagai langkah restrukturisasi termasuk mengurangi kapasitas produksi, menutup operasi tertentu, mengurangi jumlah karyawan, dan menjual aset untuk mengurangi biaya operasional global yang terus meningkat.
Untuk tiga bulan yang berakhir Maret, Nissan mencatat kerugian bersih sebesar ¥282,9 miliar, tetapi angka tersebut lebih baik daripada kerugian sebesar ¥676 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Untuk tahun fiskal yang dimulai pada April 2026, Nissan memperkirakan pendapatan akan meningkat 8,3 persen menjadi ¥13 triliun, selain menargetkan laba bersih sebesar ¥20 miliar.
Nissan sebelumnya mencatatkan kerugian bersih sebesar ¥533,1 miliar untuk tahun fiskal penuh yang berakhir Maret 2026.
Nissan juga memperkirakan penjualan global akan meningkat 4,7 persen menjadi 3,3 juta unit tahun ini setelah penjualannya turun 5,8 persen pada tahun fiskal sebelumnya.
Namun, pendapatan untuk kuartal keempat masih turun 1,7 persen year-on-year menjadi ¥3,43 triliun.
Untuk mengendalikan pengeluaran, Nissan saat ini menerapkan berbagai langkah drastis termasuk mengurangi jumlah pabrik perakitan, mengecilkan kapasitas produksi global, dan mengurangi jumlah model dalam portofolio produknya.
Awal bulan ini, Nissan mengumumkan pengurangan ratusan pekerjaan di Eropa serta restrukturisasi operasi di wilayah tersebut.
Pada bulan April, Nissan mengumumkan bahwa beberapa model yang kurang laku akan dihentikan untuk fokus pada model yang lebih menguntungkan.
Sebagai bagian dari rencana pemulihan perusahaan, Nissan sebelumnya setuju untuk menjual operasi pabriknya di Afrika Selatan kepada Chery Automobile.
Langkah ini dipandang sebagai upaya untuk mengurangi beban operasi global di samping memperkuat posisi keuangan perusahaan.
Pada saat yang sama, Nissan juga mulai fokus pada teknologi mobilitas masa depan termasuk pengembangan layanan mengemudi otonom dan robotaxi.
Baru-baru ini, Nissan berkolaborasi dengan Uber Technologies dan perusahaan rintisan teknologi mengemudi otonom dari Inggris, Wayve, untuk mengembangkan layanan robotaxi di Jepang.
Program percontohan pertama diharapkan dimulai di Tokyo pada akhir tahun 2026.
Dalam laporan keuangannya, Nissan juga mengakui bahwa tarif impor AS masih memberikan tekanan signifikan pada keuntungan perusahaan.
Menurut Nissan, tarif tersebut menyebabkan laba operasional menurun sebesar ¥54 miliar untuk tiga bulan yang berakhir Maret.
Kendaraan buatan Jepang saat ini masih dikenakan tarif impor sebesar 15 persen di Amerika Serikat menyusul perjanjian perdagangan yang ditandatangani dengan Washington pada Juli tahun lalu.
(wbs)
#nissan #indomobil-nissan #nissan-magnite #industri-otomotif