Rupiah Tembus Rp 17.600 per Dollar AS, Barang Apa Saja yang Berpotensi Naik?

Rupiah Tembus Rp 17.600 per Dollar AS, Barang Apa Saja yang Berpotensi Naik?

Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menyentuh level Rp 17.600 per dollar AS pada Jumat (15/5/2026).

(Kompas.com) 15/05/26 16:41 221940

JAKARTA, KOMPAS.com - Nilai tukar rupiah kembali tertekan hingga menyentuh level Rp 17.600 per dollar AS pada Jumat (15/5/2026). Pelemahan rupiah hari ini dipicu kombinasi tekanan eksternal dan domestik yang membebani pasar keuangan.

Kondisi tersebut membuat banyak masyarakat bertanya rupiah melemah karena apa dan bagaimana dampaknya terhadap harga kebutuhan sehari-hari.

Pelemahan rupiah dinilai berisiko mendorong kenaikan harga sejumlah barang konsumsi, mulai dari pangan impor, gadget, obat-obatan, hingga suku cadang kendaraan.

Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan penguatan dollar AS terjadi seiring meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah, kenaikan harga minyak dunia, hingga ekspektasi suku bunga tinggi Amerika Serikat (AS) yang bertahan lebih lama.

“Kondisi eksternal membuat dollar mengalami penguatan, kemudian harga minyak juga naik dan berdampak terhadap pelemahan mata rupiah,” ujar Ibrahim, Jumat (15/5/2026).

Di sisi domestik, ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin menilai tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi faktor internal, mulai dari potensi pelebaran defisit APBN, kebutuhan penerbitan utang pemerintah, hingga tekanan pada neraca pembayaran.

Pelemahan rupiah tersebut dinilai berisiko memicu imported inflation atau inflasi impor karena Indonesia masih bergantung pada bahan baku dan barang impor untuk memenuhi berbagai kebutuhan domestik.

Secara sederhana, rupiah melemah artinya masyarakat membutuhkan lebih banyak rupiah untuk membeli barang atau bahan baku yang dibayar menggunakan dollar AS.

KOMPAS.COM/SUCI RAHAYU Hampir semua pengusaha tahu di Surabaya menggunakan kedelai impor dari Amerika yang bersih.

Pangan impor paling cepat terdampak

Dalam kondisi rupiah melemah hari ini, kenaikan harga biasanya paling cepat terjadi pada produk pangan yang bahan bakunya masih diimpor, seperti gandum dan kedelai.

Guru Besar Universitas Airlangga, Rahma Gafmi mengatakan harga bahan baku impor di tingkat produsen mulai naik sejak akhir April 2026 dan berpotensi diteruskan ke konsumen dalam beberapa bulan ke depan.

“Pada komoditas berbasis impor seperti gandum dan kedelai, harga akan naik. Ini berarti harga mi instan, roti, tahu, dan tempe berpotensi merangkak naik,” ujar Rahma.

Di sisi lain, Indonesia juga masih mengimpor gandum, kedelai, bawang putih, susu, hingga berbagai bahan baku pangan lainnya. Ketika rupiah melemah, biaya impor otomatis meningkat karena transaksi menggunakan dollar AS.

Dampaknya tidak hanya terasa pada produk impor langsung, tetapi juga makanan olahan yang memakai bahan baku impor. Kenaikan harga gandum, misalnya, dapat memengaruhi harga roti, biskuit, mi instan, hingga pakan ternak.

Karena itu, sembako naik karena rupiah melemah menjadi salah satu risiko yang mulai diwaspadai pelaku pasar dan konsumen.

Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun mengingatkan pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya produksi industri yang pada akhirnya diteruskan ke harga barang di tingkat konsumen.

“Kalau pelemahan rupiah ini tidak dimitigasi dengan cepat, dampaknya bisa langsung terasa ke biaya produksi, harga barang impor, sampai harga kebutuhan masyarakat,” kata Misbakhun.

Elektronik dan gadget berisiko naik

Setelah pangan, tekanan kurs rupiah juga biasanya cepat terasa pada produk elektronik dan gadget.

Hal ini karena sebagian besar komponen elektronik, semikonduktor, hingga perangkat jadi masih bergantung pada impor dan transaksi global berbasis dollar AS.

Produk seperti telepon seluler, laptop, televisi, konsol gim, kamera, hingga perangkat rumah tangga elektronik berpotensi mengalami penyesuaian harga lebih cepat dibandingkan barang lain.

Distributor dan retailer umumnya mulai menyesuaikan harga ketika stok lama habis dan digantikan barang impor baru dengan kurs yang lebih mahal.

Tekanan serupa juga dapat terjadi pada aksesori elektronik, suku cadang komputer, hingga perangkat jaringan internet yang mayoritas masih didatangkan dari luar negeri.

MacRumors ilustrasi hp iphone 15 bekas

Obat dan kosmetik ikut tertekan

Pelemahan rupiah juga berpotensi memengaruhi harga obat-obatan dan kosmetik.

Indonesia masih mengimpor bahan baku farmasi dalam jumlah besar. Ketika kurs dollar AS naik, biaya produksi industri farmasi otomatis meningkat.

Kondisi tersebut dapat berdampak pada harga obat, vitamin, alat kesehatan, hingga produk perawatan tubuh dan kosmetik yang menggunakan bahan baku impor.

Ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda mengatakan imported inflation akan mulai terasa pada berbagai barang yang terkait impor, baik bahan baku maupun barang konsumsi.

Imported inflation akan terjadi, terutama untuk barang yang terkait impor, baik bahan baku, penolong, ataupun konsumsi,” ujarnya.

FREEPIK ilustrasi obat.

Otomotif dan harga kendaraan ikut terdampak

Sektor otomotif juga berpotensi terdampak pelemahan rupiah, terutama kendaraan yang masih mengandalkan komponen impor.

Kenaikan kurs dollar AS dapat meningkatkan harga suku cadang, ban, pelumas, hingga komponen elektronik kendaraan.

Kenaikan biaya operasional transportasi juga mulai menjadi perhatian seiring mahalnya suku cadang kendaraan yang mayoritas masih impor.

Di saat yang sama, tekanan kurs dan kenaikan harga minyak dunia mulai berdampak pada harga BBM nonsubsidi. Kenaikan biaya energi dinilai dapat memicu efek berantai terhadap ongkos logistik dan distribusi barang.

"Kenaikan harga BBM nonsubsidi meningkatkan ongkos angkut barang dari pelabuhan ke pasar. Akibatnya harga sayur-mayur lokal pun bisa naik meski bukan barang impor,” ujar Rahma.

Jika biaya distribusi meningkat, harga barang lokal pun berisiko ikut terdorong naik karena rantai pasok menjadi lebih mahal.

Strategi konsumen menghadapi potensi kenaikan harga

Di tengah tekanan nilai tukar, masyarakat perlu mulai mengantisipasi potensi kenaikan harga dalam beberapa bulan ke depan.

Berikut beberapa langkah yang dapat dilakukan:

1. Prioritaskan kebutuhan pokok

Masyarakat disarankan mengurangi pembelian barang tersier yang sensitif terhadap kurs, seperti gadget baru atau barang elektronik non-prioritas.

2. Memanfaatkan produk lokal

Produk lokal umumnya lebih tahan terhadap fluktuasi kurs dibandingkan barang impor atau produk dengan kandungan bahan baku impor tinggi.

3. Belanja lebih awal untuk kebutuhan tertentu

Untuk kebutuhan yang berpotensi naik lebih cepat, seperti elektronik, suku cadang kendaraan, atau kosmetik impor, konsumen dapat mempertimbangkan pembelian lebih awal sebelum stok baru masuk dengan harga lebih mahal.

4. Menjaga pengeluaran rutin

Kenaikan harga pangan dan energi biasanya berdampak langsung terhadap pengeluaran bulanan rumah tangga. Karena itu, masyarakat perlu mulai mengatur ulang anggaran konsumsi.

5. Menghindari utang konsumtif berbunga tinggi

Pelemahan rupiah juga meningkatkan peluang kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia. Jika suku bunga naik, cicilan kredit konsumtif berpotensi ikut meningkat.

Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul:

Rupiah Sudah Anjlok sampai 17.600 per Dollar AS, Apa Sebabnya?

Rupiah Tembus Rp 17.600, DPR Ingatkan Risiko Harga Naik

Rupiah Melemah Mulai Hantam Dapur Warga: Harga Tahu, Tempe, hingga Mi Instan Terancam Naik

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#rupiah-hari-ini #rupiah-anjlok #rupiah-melemah-hari-ini #rupiah-melemah-karena-apa #rupiah-17600 #sembako-naik-karena-rupiah #rupiah-melemah-artinya

https://money.kompas.com/read/2026/05/15/163233926/rupiah-tembus-rp-17600-per-dollar-as-barang-apa-saja-yang-berpotensi-naik