Misbakhun Bela Prabowo soal “Orang Desa Tak Pakai Dollar”, Sebut untuk Redam Panik
Rupiah terus melemah hingga Rp 17.600 per dollar AS, DPR menilai pernyataan Prabowo ditujukan menjaga psikologis publik.
(Kompas.com) 19/05/26 07:45 224442
JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun menilai pernyataan Presiden Prabowo Subianto terkait orang desa tidak pakai dollar AS bukan hal yang negatif.
Sebab tujuan pernyataan itu dilontarkan semata-mata hanya untuk menenangkan masyarakat di tengah fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dollar AS.
Untuk diketahui, selama Mei 2026 rupiah berulang kali mencetak rekor terendah sepanjang sejarah.
Mulai dari turun ke level Rp 17.400 pada 5 Mei, menjadi Rp 17.500 pada 12 Mei, dan melemah lagi ke Rp 17.600 pada 15 Mei hingga saat ini. Hal ini menimbulkan kepanikan di kalangan masyarakat.
"Apa yang disampaikan oleh Pak Presiden itu adalah upaya untuk menenangkan masyarakat. Jangan dibaca terlalu eksplisit. Upaya Bapak Presiden adalah menenangkan masyarakat," ujarnya saat ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (18/5/2026).
Dia melanjutkan, melalui pernyataan tersebut Presiden justru ingin mengingatkan bahwa fundamental ekonomi RI kuat meski mata uang rupiah melemah.
Oleh karenanya, pelemahan rupiah yang saat ini berada di level 17.600 per dollar AS tidak bisa disamakan dengan saat krisis ekonomi tahun 1998 yang sempat tembus level Rp 17.000 per dollar AS dari sekitar Rp 2.450 per dollar AS.
"Jangan membandingkan nilai tukar yang ada saat ini dengan nilai tukar pada saat kita menjelang krisis tahun 98. Karena komposisi struktur ekonomi kita saat ini itu berbeda sekali dengan komposisi dan struktur ekonomi Indonesia menjelang tahun 98," ungkapnya.
Misbakhun juga menilai pesan Presiden secara tidak langsung menjadi pengingat agar pelemahan rupiah tidak terus berlanjut.
Namun, tujuan utamanya tetap menjaga stabilitas psikologis masyarakat agar tidak panik menghadapi isu pelemahan rupiah. Selain itu juga, jangan sampai isu ini dibenturkan ke masyarakat kaya dengan masyarakat miskin.
"Jangan sampai kemudian gejolak isu itu menimbulkan hal-hal yang tidak diharapkan. Adanya ketidakstabilan politik karena masyarakat sibuk membicarakan hal-hal yang sifatnya rumor-rumor seperti itu. Rupiah naik karena akan ada ini, akan ada itu, akan ada ini, akan ada itu," ucapnya.
Misbakhun juga membantah kritik publik yang menilai Presiden tidak peka terhadap dampak kenaikan dollar AS terhadap masyarakat.
Misbakhun menegaskan Presiden memahami bahwa pelemahan rupiah tetap berdampak luas, termasuk masyarakat pedesaan.
"Pak Presiden tahu bahwa dampak dollar AS itu dirasakan oleh semua masyarakat. Yang dimaksud Bapak Presiden itu orang desa tidak menggunakan dollar AS. Tapi itu adalah pesan yang tersirat. Tujuannya adalah menenangkan," tukasnya.
Sebagai informasi, Presiden Prabowo Subianto sempat menyinggung kondisi nilai tukar rupiah saat meresmikan Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, Sabtu (16/5/2026).
Dalam pidatonya, Prabowo menilai masyarakat kecil, khususnya di desa, tidak terlalu terdampak langsung oleh gejolak kurs dollar AS karena mayoritas tidak bertransaksi menggunakan mata uang tersebut.
“Saya yakin sekarang ada yang selalu entah apa saya tidak mengerti. Sebentar-sebentar Indonesia akan collapse, akan chaos. Rupiah begini, dollar begini, orang rakyat di desa enggak pakai dollar kok,” ujar Prabowo.
Dia juga menegaskan kondisi Indonesia masih relatif stabil di tengah ketidakpastian global yang memicu kepanikan di sejumlah negara. Menurutnya, ketahanan pangan dan energi nasional masih terjaga.
“Pangan aman, energi aman. Banyak negara panik, Indonesia masih oke,” kata Prabowo.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang