Prajogo Pangestu Lengser dari Orang Terkaya Nomor I RI, Harta Menguap Rp 49,6 T
Konglomerat Tanah Air, Prajogo Pangestu, kini tak lagi bertengger menjadi orang terkaya nomor I RI versi Forbes. BerdasarkanForbes Real Time Billionaires per Kamis (21/5) harta Prajogo turun 16,9%
(Katadata) 21/05/26 12:42 227492
Konglomerat Tanah Air, Prajogo Pangestu, kini tak lagi bertengger menjadi orang terkaya nomor I RI versi Forbes. Berdasarkan data Forbes Real Time Billionaires per Kamis (21/5) harta kekayaan Prajogo anjlok hingga 16,97%.
Masih merujuk data Forbes, kekayaan Prajogo menguap sekitar US$ 2,8 miliar atau sekitar Rp 49,6 triliun dengan asumsi kurs: Rp 17.719 per dolar AS. Alhasil hartanya kini sisa US$ 13,7 miliar atau sekitar Rp 242,75 triliun.
Bila dilihat dari global, Prajogo masih menempati posisi ke-219 orang terkaya dunia versi Forbes secara real time. Namun posisinya kini turun menjadi orang terkaya nomor tiga di Indonesia.
Saat ini posisi orang terkaya nomor I ditempati oleh konglomerat Grup Djarum R Budi Hartono dengan kekayaaran US$ 15.58 miliar atau setara Rp 276 triliun diikuti konglomerat batu bara Low Tuck Kwong dengan kekayaan US$ 15,2 miliar atau setara Rp 269 triliun.
Turunnya harta kekayaan pendiri Grup Barito itu karena sahamnya ambruk pada perdagangan saham hari ini, Kamis (21/5). PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) anjlok 14,66% menjadi Rp 2.270 per saham.
Lalu PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) turun 7,59% menjadi Rp 730 dan PT Petrosea Tbk (PTRO) merosot 11,50% menjadi Rp 3.540 per saham. Kemudian saham PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) meroost 9,32% menjadi Rp 535 dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) anjlok 10,75% menjadi Rp 2.490 per saham.
Adapun Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG babak belur 2,76% ke level 6.144 pada sesi pertama hari ini. Volume yang diperdagangkan 19,91 miliar, dengan nilai transaksi Rp 9,78 triliun, dan kapitalisasi pasarnya menjadi Rp 10.642 triliun.
BRI Danareksa Sekuritas mengatakan anjloknya IHSG karena dihantam oleh tekanan dari faktor domestik dan global. Dari dalam negeri, kenaikan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% menimbulkan kekhawatiran pasar karena ketatnya likuiditas dan meningkatnya biaya pendanaan (cost of capital) bagi emiten.
Tekanan juga datang dari pergerakan saham-saham grup Prajogo Pangestu seperti BREN, TPIA, dan BRPT yang menjadi pemberat utama indeks akibat aksi jual investor.
Sementara itu, dari eksternal, risalah FOMC menunjukkan sikap The Fed yang masih hawkish di tengah risiko inflasi yang dipicu oleh ketegangan konflik Iran, sehingga memperkuat sentimen negatif di pasar global dan turut menekan IHSG.
“Rupiah yang masih berada di kisaran Rp17.600 per dolar AS turut meningkatkan kekhawatiran capital outflow,” demikian tertulis BRI Danareksa, Kamis (21/5).