Elon Musk Mau Bawa SpaceX IPO meski Masih Rugi Besar
SpaceX siap melantai di bursa lewat IPO jumbo Rp 1.326 triliun meski masih merugi Rp 45,9 triliun tahun lalu.
(Kompas.com) 21/05/26 15:18 227735
KOMPAS.com - Elon Musk bersiap melakukan salah satu penjualan saham terbesar dalam sejarah pasar modal lewat rencana membawa SpaceX melantai di bursa saham.
Dokumen pengajuan yang dirilis pada Rabu menunjukkan perusahaan antariksa milik Musk itu masih membukukan kerugian besar meski pendapatannya terus melonjak.
SpaceX tercatat merugi 2,6 miliar dollar AS atau sekitar Rp 45,9 triliun sepanjang tahun lalu, dengan kurs Rp 17.687 per dollar AS.
Pendapatan perusahaan mencapai 18,7 miliar dollar AS atau sekitar Rp 330,7 triliun.
Kerugian perusahaan disebut masih berlanjut pada awal tahun ini.
Meski belum menyebut target resmi dana yang ingin dihimpun, sejumlah laporan memperkirakan SpaceX membidik sekitar 75 miliar dollar AS atau sekitar Rp 1.326 triliun dari penawaran saham perdana atau initial public offering (IPO).
Jika terealisasi, angka tersebut akan menjadi IPO terbesar dalam sejarah modern, melampaui Saudi Aramco yang menghimpun 26 miliar dollar AS saat melantai di bursa pada 2019.
SpaceX, yang memiliki nama resmi Space Exploration Technologies Corp, menyatakan dana hasil IPO akan dipakai membiayai proyek kolonisasi luar angkasa.
X/@SpaceX SpaceX tengah menyiapkan IPO pada 2026 dengan target dana lebih dari 25 miliar dollar AS. Jika terealisasi, valuasi perusahaan Elon Musk itu bisa melampaui 1 triliun dollar AS.Perusahaan menegaskan target utamanya ialah membawa manusia ke Bulan dan Mars demi menjaga keberlangsungan spesies manusia.
“Kami tidak ingin manusia mengalami nasib yang sama seperti dinosaurus,” tulis SpaceX dalam dokumen prospektusnya.
Bonus Musk dikaitkan target koloni Mars
Prospektus tersebut memperlihatkan besarnya ambisi Musk.
Sebagian kompensasi saham Musk dikaitkan langsung dengan target pembangunan koloni permanen manusia di Mars.
Dokumen itu menyebut Musk baru akan menerima sebagian insentif saham jika berhasil membangun “koloni manusia permanen di Mars dengan setidaknya satu juta penduduk.”
Jika IPO berjalan sukses, Musk berpotensi menjadi triliuner pertama di dunia.
Forbes saat ini memperkirakan kekayaan Musk mencapai sekitar 839 miliar dollar AS atau sekitar Rp 14.840 triliun.
Selain bisnis roket, SpaceX juga memiliki sejumlah lini usaha lain dengan performa berbeda.
Starlink menjadi salah satu sumber pendapatan terbesar perusahaan.
Bisnis internet satelit tersebut menghasilkan laba operasional 4,4 miliar dollar AS atau sekitar Rp 77,8 triliun tahun lalu.
Starlink kini mengoperasikan sekitar 10.000 satelit orbit rendah dan melayani sekitar 10 juta pelanggan di 150 negara dan wilayah.
Namun tidak semua bisnis Musk berjalan mulus.
Unit media sosial X yang sebelumnya bernama Twitter serta perusahaan AI miliknya, xAI, disebut masih merugi besar.
Kedua perusahaan tersebut baru baru ini diakuisisi SpaceX.
Sebagian investor mengkritik langkah itu dan menilai akuisisi tersebut seperti penyelamatan bisnis bermasalah.
Prospektus menunjukkan bisnis AI xAI merugi 6,4 miliar dollar AS atau sekitar Rp 113,2 triliun tahun lalu.
Ketergantungan kontrak pemerintah disorot
Bisnis utama SpaceX di sektor roket dan peluncuran satelit selama ini banyak ditopang kontrak pemerintah AS.
Kondisi itu memunculkan pertanyaan baru terkait hubungan dekat Musk dengan pemerintahan Donald Trump.
Dalam lima tahun terakhir, SpaceX memenangkan kontrak pemerintah AS senilai sekitar 6 miliar dollar AS atau sekitar Rp 106,1 triliun dari NASA, Departemen Pertahanan AS, dan lembaga federal lainnya.
Sekitar seperlima pendapatan SpaceX tahun lalu berasal dari pemerintah federal AS.
Sejumlah pengawas etika mempertanyakan apakah kedekatan Musk dengan Trump membantu SpaceX mendapatkan perlakuan khusus.
Musk diketahui menjadi donor terbesar kampanye Trump dan masih mendukung presiden AS tersebut meski hubungan keduanya beberapa kali terlihat tegang.
Musk tetap pegang kendali besar
Dokumen IPO juga memperlihatkan Musk akan tetap memegang kendali besar atas perusahaan.
Musk dan sejumlah pemegang saham tertentu akan memperoleh saham kelas khusus dengan hak 10 suara untuk setiap satu saham.
Struktur tersebut membuat mereka tetap dapat mengontrol mayoritas dewan direksi SpaceX.
“Ini akan membatasi atau menghalangi kemampuan Anda untuk memengaruhi urusan perusahaan dan pemilihan direksi kami,” tulis SpaceX dalam peringatan kepada calon investor.
Kompensasi Musk juga bergantung pada target valuasi perusahaan.
Prospektus menyebut insentif saham Musk dibagi menjadi 15 tahap, masing masing sekitar 67 juta saham.
Seluruh bonus itu baru diberikan jika kapitalisasi pasar SpaceX mencapai target tertentu.
Untuk memperoleh penghargaan penuh, valuasi SpaceX harus mencapai 7,5 triliun dollar AS atau sekitar Rp 132.652 triliun.
Musk juga dijanjikan tambahan saham jika SpaceX berhasil membangun pusat data raksasa di luar angkasa.
Sementara itu, gaji tahunan Musk di SpaceX relatif kecil untuk ukuran miliarder dunia, yakni 54.080 dollar AS atau sekitar Rp 956,7 juta per tahun.
Angka tersebut tidak berubah sejak 2019.
SpaceX diperkirakan mulai melakukan road show atau presentasi kepada investor pada 4 Juni mendatang, sekitar dua pekan setelah prospektus dipublikasikan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang