Ekonom Sebut Kenaikan BI Rate 50 Bps Terlambat, Kepercayaan ke Rupiah Menurun

Ekonom Sebut Kenaikan BI Rate 50 Bps Terlambat, Kepercayaan ke Rupiah Menurun

Ekonom menilai kenaikan BI Rate 50 bps menjadi 5,25% terlambat merespons tekanan rupiah dan menurunnya kepercayaan pasar domestik.

(WE Finance) 21/05/26 21:00 228258

Warta Ekonomi, Jakarta -

Bank Indonesia (BI) memutuskan menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 50 basis poin (bps) menjadi 5,25% pada Mei 2026. Kebijakan tersebut dinilai sebagai langkah yang terlambat di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan perubahan arah kebijakan moneter global.

Ekonom Bright Institute, Yanuar Rizky, mengatakan kenaikan BI Rate masih akan terasa berat karena bank sentral dinilai berada dalam posisi behind the curve atau terlambat merespons dinamika pasar.

“Pendapat saya soal BI rate naik 50 bps, tetap akan berat karena behind the curve,” kata Yanuar dalam keterangannya, Jakarta, dikutip Kamis (20/5/2026).

Ia berharap kondisi dapat membaik apabila pada Juli mendatang, bank-bank sentral utama dunia mulai membalik arah kebijakan moneternya. Menurut dia, peluang tersebut bisa terjadi apabila Federal Reserve (The Fed), Bank of Japan (BOJ), dan European Central Bank (ECB) mulai memasuki fase pelonggaran kebijakan.

Yanuar menjelaskan, secara umum terdapat dua instrumen utama dalam kebijakan moneter, yakni melalui suku bunga acuan (Keynesian) serta pengendalian jumlah uang beredar (monetaris).

Namun, ia mengatakan saat ini negara-negara maju cenderung melakukan normalisasi neraca dengan melepas surat utang pemerintah yang sebelumnya dibeli bank sentral. Kebijakan tersebut dilakukan untuk mengendalikan inflasi jangka pendek tanpa harus agresif menaikkan suku bunga.

“Negara maju lakukan normalisasi neraca, surat utang pemerintah di bank sentral di lepas, kompensasi inflasi short term dari menaikan yield menurunkan harga gov bond, rate ditahan,” jelasnya.

Ia menilai BI sebelumnya terlalu lama diam di tengah tekanan terhadap rupiah karena mempertimbangkan kepentingan pemerintah menjaga citra pasar surat berharga negara (SBN) tetap kuat.

“Ya, ini semua pilihan, tapi kalo menurut saya BI saat ini behind the curve, kalo mau ahead a curve ya udah telat, karena persepsi dalam negeri juga sudah gak percaya ke Rupiah,” ujarnya.

Yanuar memperkirakan tekanan dapat mereda dengan sendirinya apabila bank-bank sentral global kembali memasuki fase ekspansi moneter dengan lakukan Quantitative Easing lagi seperti bottom 2008, reverse policy maret 2009.

“Kalaupun sembuh sendiri, masalah kita tetap sama, struktural ekonomi terus melemah, dan juga sinyal tata kelola udah berantakan melawan pasar lagi,” pungkasnya.

#bank-indonesia #bi-rate #rupiah

https://wartaekonomi.co.id/read612789/ekonom-sebut-kenaikan-bi-rate-50-bps-terlambat-kepercayaan-ke-rupiah-menurun