Jelang IPO, SpaceX Disebut Berpeluang Dimerger dengan Tesla
Elon Musk disebut berpeluang menggabungkan Tesla dan SpaceX setelah perusahaan antariksa itu bersiap masuk bursa.
(Kompas.com) 27/05/26 16:24 233492
KOMPAS.com- Elon Musk disebut berpeluang menggabungkan Tesla dan SpaceX setelah perusahaan antariksa miliknya bersiap melantai di bursa saham.
Spekulasi tersebut menguat karena Tesla dan SpaceX kini semakin banyak berbagi sumber daya.
Kerja sama itu terutama terlihat dalam pengembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence.
SpaceX diperkirakan mulai diperdagangkan di Nasdaq dalam sekitar dua pekan.
Sebelumnya, perusahaan tersebut memperoleh valuasi pasar privat sekitar 1,25 triliun dollar AS. Dengan kurs Rp 17.812 per dollar AS, nilai itu setara sekitar Rp 22.265 triliun.
Valuasi tersebut tercapai awal tahun ini setelah SpaceX bergabung dengan xAI, perusahaan artificial intelligence milik Musk.
Sementara itu, kapitalisasi pasar Tesla saat ini berada di kisaran 1,6 triliun dollar AS. Nilai tersebut setara sekitar Rp 28.499 triliun.
Jika rencana tersebut benar terjadi, Musk berpotensi mengendalikan dua dari 10 perusahaan paling bernilai di Amerika Serikat.
Sejumlah sumber yang mengetahui pembahasan tersebut menyebut Musk telah membicarakan kemungkinan penggabungan Tesla dan SpaceX dengan beberapa koleganya.
AFP/RONALDO SCHEMIDT Roket Starship SpaceX lepas landas dari Starbase, Texas, seperti yang terlihat dari Pulau Padre Selatan pada 26 Agustus 2025, untuk uji terbang kesepuluhnya. Megaroket Starship SpaceX melesat ke angkasa pada hari Selasa dalam uji terbang kesepuluhnya, setelah serangkaian kegagalan ledakan yang menimbulkan keraguan tentang kemampuannya untuk mewujudkan visi Elon Musk untuk menjajah Mars.Seorang karyawan Tesla mengatakan banyak pekerja di perusahaan kendaraan listrik itu sudah lama memperkirakan transaksi semacam itu pada akhirnya akan terjadi.
Topik tersebut bahkan disebut sering dibahas secara terbuka di internal perusahaan.
Sumber lain yang dekat dengan Tesla mengatakan keterbatasan daya listrik dan kapasitas komputasi membuat kedua perusahaan semakin sering bekerja sama.
Tesla dan SpaceX makin bertumpu pada AI
Tesla dan SpaceX terlihat bergerak di bisnis berbeda. Namun, kedua perusahaan kini menghadapi tantangan teknologi yang mirip.
Tesla membutuhkan sistem AI canggih untuk kendaraan otonom, robot, dan layanan digital.
SpaceX membutuhkan komputasi besar untuk satelit, roket, Starlink, dan proyek AI melalui xAI.
Lebih dari tiga perempat belanja modal SpaceX senilai 10,1 miliar dollar AS pada kuartal pertama disebut terkait AI.
Nilai tersebut setara sekitar Rp 179,9 triliun.
Tesla juga menyatakan belanja modalnya akan meningkat tiga kali lipat tahun ini. Nilainya diperkirakan menjadi lebih dari 25 miliar dollar AS atau sekitar Rp 445,3 triliun.
Mantan insinyur yang kini menjadi venture capitalist di Theory Ventures, Tomasz Tunguz, mengatakan Tesla dan SpaceX sama sama harus memecahkan persoalan teknis yang sulit.
“Tesla harus menjalankan sistem AI yang canggih di dalam kendaraan yang bergerak dengan batasan ketat pada daya, pendinginan, latensi, keandalan, dan biaya,” kata Tunguz.
“SpaceX harus memikirkan komputasi di orbit, di mana radiasi, siklus termal, massa peluncuran, pembangkit listrik, dan pembuangan panas semuanya menjadi kendala desain yang sangat penting,” lanjut dia.
Tunguz mengatakan potensi merger Tesla dan SpaceX mulai menjadi pembicaraan di kalangan teknologi Silicon Valley.
Namun, ia menilai transaksi sebesar itu akan sangat kompleks. Perwakilan SpaceX dan Tesla tidak menanggapi permintaan komentar CNBC.
Musk mulai roadshow SpaceX
Musk dijadwalkan memulai roadshow SpaceX pekan depan. Orang terkaya di dunia itu akan berupaya meyakinkan investor Wall Street.
SpaceX kini bukan lagi perusahaan roket semata.
Perusahaan tersebut mencakup bisnis roket yang dapat digunakan ulang, layanan internet satelit Starlink, xAI, serta platform media sosial X yang sebelumnya bernama Twitter.
SpaceX juga memiliki kesepakatan untuk membeli startup alat pemrograman AI Cursor senilai 60 miliar dollar AS. Nilai tersebut setara sekitar Rp 1.068 triliun.
Investor lama SpaceX sekaligus CEO Nebex, Tejpaul Bhatia, menilai Musk sudah menunjukkan kemampuan menjalankan banyak perusahaan besar sekaligus.
“Saya pikir itu telah dibuktikan oleh Elon sendiri,” kata Bhatia.
“Kewirausahaan paralel tampaknya berhasil untuknya,” lanjut dia.
Tesla dan SpaceX sudah lama berbagi sumber daya
Tesla dan SpaceX selama bertahun tahun sudah berbagi sumber daya, teknologi, dan personel. Musk duduk di dewan direksi kedua perusahaan.
Investor Ira Ehrenpreis juga menjadi anggota dewan di keduanya. Saudara Musk, Kimbal Musk, saat ini berada di dewan Tesla dan pernah menjadi direktur SpaceX.
Sejumlah tokoh lain juga pernah berpindah atau memiliki peran di dua perusahaan tersebut.
Salah satu figur penting ialah Charles Kuehmann, wakil presiden teknik material untuk Tesla dan SpaceX.
Ia bergabung dari Apple sekitar satu dekade lalu dan dikenal berperan dalam menyelesaikan berbagai masalah desain penting.
Pada Januari, Tesla mengungkapkan investasi senilai 2 miliar dollar AS di xAI. Nilai tersebut setara sekitar Rp 35,6 triliun.
Setelah xAI bergabung dengan SpaceX, kepemilikan tersebut berubah menjadi saham di SpaceX.
SpaceX juga mencatat dalam prospektusnya, perusahaan membeli sistem penyimpanan energi baterai Megapack Tesla senilai 697 juta dollar AS pada 2024 dan 2025. Nilai tersebut setara sekitar Rp 12,4 triliun.
Baterai itu digunakan untuk memasok listrik ke pusat data xAI di sekitar fasilitas Colossus di Memphis, Tennessee.
SpaceX juga menghabiskan 131 juta dollar AS untuk membeli Tesla Cybertruck pada 2025. Nilainya setara sekitar Rp 2,33 triliun.
Sebelumnya, Tesla juga pernah menjual peralatan tenaga surya dan suku cadang mobil kepada SpaceX.
Tesla juga menggunakan jet pribadi SpaceX dan mengandalkan SpaceX untuk mengembangkan campuran logam khusus bagi Cybertruck.
Pemasok bahkan terkadang melihat perusahaan perusahaan Musk sebagai satu pelanggan besar.
Pada 2024, Nvidia menyetujui pengalihan pesanan graphics processing unit atau GPU senilai 500 juta dollar AS dari Tesla ke xAI atas permintaan Musk. Nilai tersebut setara sekitar Rp 8,9 triliun.
Merger besar yang rumit
Pakar hukum menilai merger Tesla dan SpaceX kemungkinan tidak akan menimbulkan masalah antimonopoli besar. Alasannya, bisnis utama kedua perusahaan berbeda.
Namun, transaksi tersebut dapat memunculkan kekhawatiran dari pemegang saham masing masing perusahaan. Sejumlah pertanyaan sulit juga akan muncul.
Pertanyaan itu mencakup perusahaan mana yang menjadi induk, bagaimana rasio pertukaran saham ditentukan, serta siapa yang berwenang menetapkan valuasi yang adil.
Di SpaceX, Musk hampir pasti tidak menghadapi banyak hambatan dari dewan direksi.
Prospektus SpaceX menyebut perusahaan itu berstatus sebagai “perusahaan yang dikendalikan” karena Musk memiliki 85 persen hak suara.
Status tersebut membuat SpaceX mendapat pengecualian dari sebagian aturan tata kelola Nasdaq.
SpaceX juga memperingatkan calon investor, pemegang saham kelas A tidak akan memiliki perlindungan yang sama seperti pemegang saham perusahaan publik lain yang tunduk pada seluruh persyaratan tata kelola Nasdaq.
Musk bisa jadi paling diuntungkan
Penerima manfaat terbesar dari potensi penggabungan Tesla dan SpaceX kemungkinan adalah Musk sendiri.
SpaceX telah mengaitkan kompensasi Musk dengan dua target besar.
Target pertama, kapitalisasi pasar SpaceX harus mencapai 7,5 triliun dollar AS atau sekitar Rp 133.590 triliun.
Target kedua, SpaceX harus membangun koloni Mars dengan setidaknya 1 juta penduduk.
Di Tesla, pemegang saham juga telah menyetujui paket kompensasi baru Musk yang terdiri dari 12 tahap.
Setiap tahap dikaitkan dengan kenaikan kapitalisasi pasar dan pencapaian operasional tertentu.
CEO perusahaan investasi Gerber Kawasaki, Ross Gerber, sebelumnya mengatakan penggabungan SpaceX dan Tesla akan membuat Musk lebih mudah menjalankan satu perusahaan raksasa.
Menurut Gerber, struktur tersebut juga bisa memudahkan Musk menggalang dan meminjam dana untuk bersaing dalam AI dengan perusahaan seperti Google.
Namun, Bhatia melihat potensi penggabungan itu dari sisi lain. Menurut dia, peluang utama tetap berada di pasar luar angkasa.
“Saya percaya bahwa pasar luar angkasa saat ini sangat besar,” kata Bhatia.
“Dan itu akan semakin besar setelah IPO SpaceX,” lanjut dia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang