Pelemahan Rupiah Berlanjut, Investor RI Alihkan Dana ke Valas, Dollar AS Jadi Favorit

Pelemahan Rupiah Berlanjut, Investor RI Alihkan Dana ke Valas, Dollar AS Jadi Favorit

Tekanan terhadap rupiah juga terjadi terhadap sejumlah mata uang utama lainnya

(Kompas.com) 28/05/26 05:10 233695

JAKARTA, KOMPAS.com - Pelemahan rupiah yang terus berlanjut mendorong investor domestik mulai melirik aset valuta asing (valas) sebagai instrumen lindung nilai atau hedging untuk menjaga nilai kekayaan.

Mengutip data Bloomberg, rupiah di pasar spot melemah 0,03 persen secara harian ke level Rp 17.801 per dollar AS pada Rabu (27/5/2026). Sepanjang tahun berjalan atau year to date (YTD), rupiah tercatat sudah melemah sekitar 6,8 persen terhadap dollar AS.

Tekanan terhadap rupiah juga terjadi terhadap sejumlah mata uang utama lainnya. Rupiah melemah terhadap dollar Selandia Baru (NZD) sebesar 8,89 persen, franc Swiss (CHF) 7,78 persen, dan dollar Singapura (SGD) sekitar 7,50 persen.

Sementara itu, terhadap poundsterling Inggris (GBP), rupiah tertekan 6,72 persen, dollar Kanada (CAD) 6,06 persen, dan euro sebesar 5,59 persen.

Di kawasan Asia, pelemahan rupiah paling dalam terjadi terhadap yuan China (CNY) yang mencapai 10,07 persen secara YTD. Rupiah juga melemah terhadap ringgit Malaysia (MYR) sebesar 9,25 persen dan dollar Singapura (SGD) sebesar 7,52 persen.

Adapun terhadap yen Jepang (JPY), rupiah melemah sekitar 5,02 persen, sedangkan terhadap peso Filipina (PHP) pelemahannya mencapai 2,14 persen sepanjang tahun berjalan.

Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan dollar AS masih menjadi pilihan utama masyarakat Indonesia untuk investasi valas.

Menurut dia, tren tersebut tercermin dari meningkatnya dana masyarakat yang ditempatkan di tabungan valas. Berdasarkan data Bank Indonesia, simpanan valas perbankan tumbuh 8,6 persen secara tahunan menjadi Rp 2.338,6 triliun per Maret 2026.

Adapun tabungan valas mencatat pertumbuhan paling tinggi, yakni mencapai 24,4 persen secara tahunan menjadi Rp 242,9 triliun.

“Sebenarnya masyarakat Indonesia, kalau dilihat dari tabungan, dari data Bank Indonesia itu sekitar 24 persen sudah dipindahkan ke valas. Kebanyakan ditempatkan pada dollar AS karena masyarakat menilai dollar paling kuat,” ujar Ibrahim kepada Kontan.

Ia menjelaskan, dominasi dollar AS dipengaruhi persepsi masyarakat yang mengaitkan pelemahan rupiah dengan penguatan dollar AS. Kondisi tersebut membuat investor lebih memilih membuka tabungan dollar dibandingkan mata uang lainnya.

Menurut Ibrahim, pasangan USD/IDR masih berpotensi melanjutkan penguatan seiring tekanan terhadap rupiah yang belum mereda. Bahkan, jika dollar AS menembus level Rp 18.000, peluang menuju Rp 20.000 per dollar AS masih terbuka, tergantung perkembangan geopolitik di Timur Tengah.

Ia menilai ketegangan geopolitik global masih menjadi faktor utama yang memengaruhi arah pasar. Meski terdapat upaya negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran, persoalan terkait program uranium dinilai masih menyisakan ketidakpastian.

Selain dollar AS, Ibrahim menilai dollar Singapura terhadap rupiah (SGD/IDR) juga menarik sebagai alternatif investasi valas. Fundamental ekonomi Singapura yang dinilai kuat serta tingginya mobilitas masyarakat Indonesia ke negara tersebut menjadi faktor pendukung.

Sementara itu, yen Jepang terhadap rupiah (JPY/IDR) mulai banyak dilirik karena dianggap lebih murah dan berpotensi menjadi instrumen diversifikasi investasi.

Ibrahim juga menyoroti yuan China terhadap rupiah (CNY/IDR). Menurut dia, pelemahan yuan masih berpotensi berlanjut akibat ketidakpastian perdagangan global dan risiko gangguan distribusi energi imbas konflik di Timur Tengah.

Meski peluang keuntungan investasi valas masih terbuka, Ibrahim mengingatkan investor ritel agar berhati-hati melakukan akumulasi pada level kurs saat ini.

“Kalau saat ini USD/IDR berada di Rp 17.700-Rp 17.800, investor perlu berhati-hati. Jangan sampai masuk di harga tinggi lalu terkena koreksi,” katanya.

Ia menyarankan investor mempertimbangkan momentum masuk ketika USD/IDR kembali turun ke kisaran Rp 17.500 per dollar AS. Karena itu, investasi valas dinilai lebih tepat dilakukan secara bertahap dan berorientasi jangka panjang.

Saat ini, pasangan USD/IDR berada di level 17.801. Sementara CNY/IDR di kisaran 2.621, JPY/IDR sebesar 111,72, dan SGD/IDR berada di level 13.928.

Untuk semester I 2026, Ibrahim memproyeksikan USD/IDR bergerak menuju level 18.300. Adapun SGD/IDR diperkirakan mencapai 14.500, JPY/IDR di kisaran 150,50, dan CNY/IDR berpotensi menuju level 2.850. (Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti)

Artikel ini telah tayang di Kontan.co.id dengan judul Pelemahan Rupiah Berlanjut, Dolar AS Jadi Favorit untuk Simpan Valas

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#investor #valas #nilai-tukar-rupiah #rupiah

https://money.kompas.com/read/2026/05/28/051000426/pelemahan-rupiah-berlanjut-investor-ri-alihkan-dana-ke-valas-dollar-as-jadi