Ekonom: Pemerintah perlu siapkan stimulus usai kenaikan BBM nonsubsidi
Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mendorong pemerintah untuk menyiapkan stimulus yang tepat sasaran untuk ...
(Antara) 15/06/26 17:10 250641
Jakarta (ANTARA) - Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mendorong pemerintah untuk menyiapkan stimulus yang tepat sasaran untuk mengantisipasi dampak lanjutan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi, termasuk Pertamax.
Yusuf menilai stimulus tersebut diperlukan apabila tekanan inflasi akibat kenaikan BBM mempengaruhi daya beli masyarakat berpendapatan menengah.
“Bantuan tunai tetap dapat menjadi salah satu instrumen yang dipertimbangkan,” katanya saat dihubungi di Jakarta, Senin.
Yusuf menuturkan kenaikan harga BBM akan meningkatkan biaya transportasi dan logistik, yang kemudian mendorong kenaikan biaya distribusi barang.
Tekanan tersebut, lanjut dia, dapat merembet ke harga berbagai kebutuhan pokok dan memicu inflasi yang dirasakan masyarakat secara lebih luas.
Ia menyebut sektor yang paling terdampak kenaikan harga BBM nonsubsidi adalah industri yang memiliki konsumsi energi tinggi serta sangat bergantung pada distribusi, seperti manufaktur, logistik, dan transportasi barang.
"Kenaikan harga BBM akan langsung meningkatkan biaya operasional mereka. Dalam jangka pendek, ruang untuk melakukan efisiensi biasanya terbatas sehingga margin usaha tertekan," katanya.
Menurut dia, apabila kenaikan harga BBM berlangsung cukup besar atau terjadi berulang, sebagian pelaku usaha cenderung meneruskan beban biaya tersebut kepada konsumen melalui penyesuaian harga.
Untuk itu, Yusuf menilai kebijakan stimulus perlu dirancang secara hati-hati agar benar-benar menjangkau kelompok masyarakat yang terdampak.
Pelaksanaannya juga harus tepat sasaran agar manfaatnya optimal dan tidak membebani anggaran secara berlebihan.
Selain bantuan tunai, pemerintah juga dinilai perlu menjaga stabilitas pasokan dan harga BBM subsidi, memperkuat pengawasan terhadap harga kebutuhan pokok, serta menyiapkan dukungan yang lebih selektif bagi sektor yang terdampak langsung, terutama angkutan dan logistik.
"Dengan pendekatan yang terarah, dampak ekonomi dari kenaikan harga BBM non-subsidi dapat dikelola dengan lebih efektif," kata Yusuf.
Sementara itu, Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun mengatakan pemerintah bersama DPR tengah mengkaji skema stimulus sebagai upaya mitigasi dampak kenaikan harga BBM jenis Pertamax.
"Sudah didiskusikan (dengan pemerintah), sedang dilakukan upaya penghitungan apa yang nanti menjadi stimulus atau insentif sektor," kata Misbakhun kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (10/6).
Misbakhun berpendapat kenaikan harga BBM pada umumnya akan diikuti oleh meningkatnya inflasi, meskipun pihaknya belum menghitung secara rinci besaran potensi kenaikan inflasi akibat penyesuaian harga BBM tersebut.
Pewarta: Shofi Ayudiana
Editor: Faisal Yunianto
Copyright © ANTARA 2026
#bbm-non-subsidi #stimulus-ekonomi #bantuan-tunai #inflasi #harga-pertamax