Sumbar Alami Inflasi 4,52% pada Oktober 2025, Harga Cabai Merah masih Pedas
Inflasi Sumbar Oktober 2025 capai 4,52%, dipicu kenaikan harga cabai merah akibat pasokan berkurang dan gagal panen.
(Bisnis.Com) 03/11/25 20:18 26062
Bisnis.com, PADANG — Laju inflasi tahunan di Sumatra Barat mencapai 4,52% pada Oktober 2025. Pemantauan Badan Pusat Statistik (BPS) Sumbar di empat kabupaten dan kota menunjukkan bahwa sejumlah komoditas mengalami kenaikan harga.
Kepala BPS Sumbar Sugeng Arianto mengatakan sejumlah komoditas yang terpantau mengalami kenaikan mencakup cabai merah, emas perhiasan, minyak goreng, santan segar, hingga ikan di pasar.
“Adanya kenaikan harga sejumlah komoditas itu, Sumbar mengalami inflasi YoY [tahunan]sebesar 4,52% atau terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen [IHK] dari 106,24 menjadi 111,04,” katanya dikutip dari data resmi BPS, Senin (3/11/2025).
Sumbar juga mencatatkan laju inflasi sebesar 0,40% secara bulanan. Sementara laju inflasi sepanjang 2025 mencapai 3,87%.
“Kenaikan harga cabai merah memang menjadi salah satu andil yang menyebabkan Sumbar mengalami inflasi,” ujarnya.
Dari empat kota dan kabupaten yang dipantau, semua wilayah mencatatkan inflasi tahunan. Laju inflasi tertinggi terpantau di Kabupaten Pasaman Barat sebesar 6,67% dengan IHK sebesar 113,33 dan terendah terjadi di Kota Padang sebesar 3,90% dengan IHK sebesar 110,32.
Kemudian, Kabupaten Dharmasraya mengalami inflasi sebesar 4,59% dengan IHK sebesar 111,71 dan Kota Bukittinggi mengalami inflasi sebesar 4,50% dengan IHK sebesar 110,73.
Melihat kondisi di sejumlah pasar di Padang, harga cabai merah rata-rata bertengger di Rp50.000 per kilogram terhitung awal November 2025 ini. Selama Oktober 2025, harga cabai merah pernah mencapai Rp90.000 hingga Rp100.000 per kilogram.
Dinas Perkebunan Tanaman Pangan dan Hortikultura (DPTPH) Sumbar mengemukakan andil besar harga cabai merah terhadap laju inflasi disebabkan oleh berkurangnya pasokan selama Oktober 2025.
“Perubahan iklim yang melanda di sejumlah wilayah di daerah itu menjadi salah satu penyebab menurunnya produksi cabai merah,” ucap Kepala Dinas Perkebunan Tanaman Pangan dan Hortikultura Sumbar, Afniwirman.
Dia mengemukakan kondisi pasokan yang berkurang telah terjadi sejak 2,5 bulan terakhir. Perkembangan cuaca di sentra produksi tanaman cabai merah di Sumatra Barat memicu gagal panen. Serangan hama turut memperburuk pasokan.
“Kami telah turun ke lapangan, jadi para petani cabai merah ini mengaku kondisi cuaca yang dihadapi pada 2,5 bulan terakhir berada di luar dugaan. Sehingga tanaman cabai yang masih tumbuh tidak bisa menghasilkan buah yang bagus. Parahnya lagi, ada serangan hama,” sebutnya.
Daerah yang menjadi sentra penghasil cabai merah di Sumbar meliputi Kabupaten Solok, Agam, Lima Puluh Kota, Padang Panjang, dan Tanah Datar. Sedangkan kawasan pertanian cabai merah daerah lain seperti Kabupaten Pesisir Selatan, Solok Selatan, Padang Pariaman, hingga Kota Padang tidak menghasilkan produksi dalam volume besar.
Dia menyebutkan meski pemerintah daerah berupaya mencari tambahan pasokan cabai merah dari luar daerah seperti Kerinci, Medan, hingga di Pulau Jawa, pasokan cabai ke Sumbar belum bisa terpenuhi.
“Akibat dari kondisi ini, pasokan cabai merah ke Sumbar sangat sedikit,” jelasnya.
#inflasi-sumbar #inflasi-oktober-2025 #harga-cabai-merah #inflasi-tahunan-sumbar #bps-sumbar #kenaikan-harga-komoditas #inflasi-pasaman-barat #inflasi-kota-padang #inflasi-dharmasraya #inflasi-bukittin