RI Butuh 4 Juta KL Etanol Buat Program E20

RI Butuh 4 Juta KL Etanol Buat Program E20

Kementerian ESDM butuh 4 juta KL etanol untuk program E20, targetkan pengurangan impor bensin hingga 4 juta KL per tahun. Ini dorong produksi bioetanol lokal.

(Kompas.com) 28/06/26 19:08 262101

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengungkapkan, dibutuhkan 4 juta kiloliter (KL) etanol untuk mendukung implementasi program E20, yakni pencampuran 20 persen etanol pada bensin.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan, kebutuhan tersebut dihitung berdasarkan konsumsi bensin nasional yang mencapai sekitar 40 juta KL per tahun.

"Kebutuhan bensin kita itu kurang lebih sekitar 40 juta KL, dan dari 40 juta KL itu, kapasitas produksi kita itu hanya 14,3 juta KL jadi impornya hampir 25 juta KL," ujarnya dalam keterangan resmi, Minggu (28/6/2026).

Namun, seiring beroperasinya Proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan, kapasitas produksi nasional bertambah sekitar 5,5 juta KL per tahun.

Alhasil, kebutuhan impor bensin RI kini menyusut menjadi sekitar 20 juta KL per tahun.

Kendati kebutuhan impor bensin sudah berkurang, namun pemerintah perlu terus menekan ketergantungan terhadap impor bahan bakar.

Maka dari itu, disiapkan program E20, yang mengombinasikan bensin dengan etanol dari bahan baku pertanian. "Untuk mengurangi impor yang tersisa 20 juta KL maka kita akan menerapkan program E20, yang idenya berangkat dari kesuksesan program B10 hingga B50. Kita bikin etanol dengan bahan bakunya dari tebu, singkong dan jagung dengan total produksi yang diperlukan 4 juta KL," ucap Bahlil.

Ia memastikan pemerintah bakal bertindak sebagai pembeli utama (off-taker) untuk menjamin penyerapan produksi etanol yang dihasilkan petani maupun pelaku usaha di sektor hulu.

Menurut Bahlil, skema tersebut tidak hanya bertujuan mengurangi ketergantungan pada impor bensin, tetapi juga membuka pasar bagi hasil produksi petani serta mendorong berkembangnya industri bioetanol di dalam negeri.

Sebelumnya, ia sempat mengungkapkan bahwa kebijakan E20 ditargetkan mulai diterapkan pada 2028.

Kebijakan itu diperkirakan bakal menekan impor bensin hingga 4 juta KL per tahun.

Bahlil menyatakan, pemerintah akan terus mendorong pengurangan impor BBM, termasuk melalui pengembangan energi alternatif berbasis nabati.

Program E20 pun terinspirasi keberhasilan mandatori biodiesel yang saat ini sudah mencapai B40, dan akan berkembang menjadi B50 pada Juli 2026, alias campuran 50 persen fatty acid methyl ester (FAME) berbasis minyak sawit dengan solar.

"Sekalipun lifting kita katakanlah enggak mencukupi, kita harus konversi dia untuk bauran energi dengan energi nabati. Kalau B50 (campuran solar dengan minyak sawit) bisa memenuhi kebutuhan solar kita, kenapa bensin tidak?," ucapnya dalam diskusi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) di Aryaduta, Jakarta, Kamis (25/6/2026).

Menurutnya, kebijakan penggunaan bensin bercampur etanol bukanlah hal baru, sebab sejumlah negara sudah lebih dahulu menerapkannya, seperti Amerika Serikat dan Brasil.

Bahlil bilang, penerapan campuran etanol ini bertujuan mengurangi impor BBM sehingga kebutuhan devisa untuk membeli bahan bakar dari luar negeri dapat ditekan. "Ini terjadi di Amerika, di Brasil, dan beberapa negara lain. Tujuannya apa? Agar kita bisa mengurangi impor kita. Agar devisa kita itu tidak keluar," ucap dia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#impor-bbm #kementerian-esdm #program-e20 #etanol-bensin

https://money.kompas.com/read/2026/06/28/190859326/ri-butuh-4-juta-kl-etanol-buat-program-e20