Google Batasi Akses Gemini untuk Meta, Krisis Komputasi AI Mulai Terlihat
Google membatasi penggunaan AI Gemini oleh induk Instagram, Meta karena keterbatasan kapasitas komputasi, sehingga mengganggu sejumlah proyek internal perusahaan raksasa media sosial tersebut.
(Katadata) 30/06/26 14:46 263765
Google dilaporkan membatasi penggunaan model kecerdasan buatan (AI) Gemini oleh Meta setelah perusahaan induk Facebook, Instagram, dan WhatsApp itu meminta kapasitas komputasi yang lebih besar daripada yang dapat disediakan Google.
Laporan Financial Times yang dikutip Reuters menyebut Google telah memberi tahu Meta pada Maret, bahwa perusahaan tidak dapat memenuhi seluruh kapasitas Gemini yang ingin dibeli Meta. Keterbatasan itu dilaporkan mengganggu dan menunda sejumlah proyek AI internal Meta.
Media industri Mobile World Live melaporkan pembatasan itu masih berlaku hingga saat ini. Menurut sumber Financial Times, Meta menjadi pelanggan yang paling terdampak karena permintaannya terhadap kapasitas komputasi AI jauh lebih besar dibandingkan klien Google lainnya.
Perkembangan ini menjadi salah satu indikasi paling jelas bahwa industri AI mulai menghadapi keterbatasan infrastruktur, meskipun perusahaan teknologi telah menggelontorkan miliaran dolar untuk chip, pusat data, dan pasokan listrik.
Reuters mencatat bahwa lonjakan kebutuhan komputasi untuk melatih dan menjalankan model AI kini melampaui kecepatan pembangunan infrastruktur baru. Akibatnya, bahkan perusahaan teknologi terbesar di dunia pun mulai menghadapi kelangkaan kapasitas komputasi.
Dikutip dari Mobile World Live, Meta menggunakan Gemini untuk berbagai kebutuhan, mulai dari otomatisasi keamanan, layanan pelanggan, alat periklanan hingga sejumlah alur kerja pemrograman internal. Namun setelah aksesnya dibatasi, perusahaan mulai mengurangi ketergantungan terhadap model eksternal dan beralih ke model internal bernama Muse Spark.
Laporan Financial Times yang dirangkum Reuters juga menyebut Meta mendorong karyawannya menggunakan token AI secara lebih efisien. Token merupakan satuan yang digunakan untuk mengukur konsumsi model AI, sehingga penghematan penggunaan token dapat menekan kebutuhan komputasi sekaligus biaya operasional.
Meski Meta menjadi pihak yang paling terdampak, pembatasan kapasitas tidak hanya dirasakan satu perusahaan. Financial Times melaporkan sejumlah pelanggan Google lainnya juga mengalami kendala serupa, meski dalam skala yang lebih kecil.
Situasi ini menunjukkan bahwa persaingan AI tidak lagi hanya ditentukan oleh kualitas model atau jumlah talenta yang direkrut, tetapi juga oleh kemampuan memperoleh akses terhadap infrastruktur komputasi dalam jumlah besar.
Untuk mengatasi kekurangan kapasitas tersebut, Google disebut terus menambah pasokan komputasi. Mobile World Live melaporkan perusahaan itu baru menandatangani kesepakatan senilai sekitar US$ 920 juta per bulan untuk menyewa kapasitas komputasi dari perusahaan milik Elon Musk, SpaceX.
Langkah serupa juga dilakukan perusahaan AI lainnya. Menurut Mobile World Live, Anthropic pada Mei meneken perjanjian kapasitas komputasi dengan SpaceX sekitar US$ 1,25 miliar per bulan. Kesepakatan-kesepakatan ini menunjukkan bahwa akses terhadap infrastruktur AI kini menjadi komoditas strategis yang semakin langka.
Di sisi lain, Meta terus meningkatkan investasi AI dalam upayanya mengembangkan teknologi superintelligence. Namun berbeda dengan Google yang memiliki bisnis cloud publik besar, Meta masih mengandalkan kombinasi infrastruktur internal dan layanan pihak ketiga untuk menjalankan sebagian beban kerja AI-nya.
Kondisi ini memperlihatkan paradoks baru dalam industri AI. Di tengah perlombaan investasi bernilai ratusan miliar dolar untuk membangun model yang semakin canggih, kapasitas komputasi justru menjadi sumber daya yang semakin terbatas. Bahkan perusahaan sebesar Meta dan Google kini harus berebut akses terhadap infrastruktur yang dibutuhkan untuk menopang ambisi AI mereka.