Jelang Penerapan BBM E10, Peneliti ITB: Industri Etanol Lokal Harus Diperkuat

Jelang Penerapan BBM E10, Peneliti ITB: Industri Etanol Lokal Harus Diperkuat

Pemerintah perlu memperkuat industri etanol lokal sebelum menerapkan BBM E10 pada 2026 untuk menghindari dampak negatif impor dan mendukung ekonomi lokal.

(Bisnis.Com) 20/10/25 22:46 10378

Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah dinilai perlu memperkuat rantai pasok industri etanol dalam negeri, sebelum menerapkan kebijakan mandatori pencampuran etanol 10% (E10) pada bahan bakar minyak (BBM) bensin di 2026 mendatang.

Peneliti Teknik Pangan Fakultas Teknologi Industri-Institut Teknologi Bandung (FTI-ITB) Prof. Ronny Purwadi mengatakan, jika pemerintah hanya memprioritaskan impor etanol, maka pelaku industri bioetanol dalam negeri akan terpukul, layaknya industri tekstil yang rontok digempur barang impor.

"Saya contohkan dengan pabrik tekstil. Ketika produk tekstil impor China masuk, maka terjadi PHK massal, pabrik tidak jalan dan mesin rusak. Lalu pada saat kemudian harga tekstilnya terguncang, tidak gampang untuk membangkitkannya lagi," ujar Ronny di Jakarta, Senin (20/10/2025).

Alhasil, menurutnya pemerintah perlu memprioritaskan para pelaku industri etanol di Indonesia, sehingga akan menciptakan efek pengganda (multiplier effect) yang menguntungkan berbagai pihak, bahkan hingga ke petani tebu atau jagung yang memproduksi bahan baku etanol.

Perlu diketahui, etanol merupakan senyawa alkohol yang dibuat dari hasil fermentasi bahan nabati seperti tebu, jagung, singkong, atau molases (tetes tebu). Ketika dicampurkan ke dalam bensin, etanol berfungsi sebagai oksigenat, yaitu zat yang membantu proses pembakaran menjadi lebih sempurna.

“Jadi ini juga mesti menjadi pelajaran buat pemerintah. Kalau impor etanol itu juga harus memperkuat industri etanol di Indonesia. Supaya pada saatnya nanti industri etanol di Indonesia bisa bersaing sama impor,” katanya.

Lebih lanjut dia mengatakan, pabrik yang memproduksi etanol di dalam negeri juga perlu mengutamakan efisiensi biaya produksi agar tidak mengalami kerugian.

"Pabriknya juga mesti lebih efisien. Kita tahu lah kenapa pabrik gula di Indonesia itu boros atau rugi terus. Karena ongkos energinya lebih besar dari keuntungan. Nah itu kan harus dibenerin, baru nanti ke etanol,” pungkas Ronny.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) mengatakan bahwa pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) berencana untuk mulai menggunakan campuran etanol 10% dengan BBM jenis bensin atau E10.

“Wajib [bensin menggunakan 10% etanol]. Tapi kalau kita sudah siap ya, perintah Bapak Presiden begitu,” kata Zulhas dalam konferensi pers di acara Trade Expo Indonesia (TEI) ke-40 di Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD City, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (15/10/2025).

Alhasil, dalam hal ini, pemerintah akan mulai menggunakan premium atau bensin campur 10% etanol pada 2026 mendatang.

#bbm-e10 #industri-etanol #etanol-lokal #penerapan-e10 #kebijakan-etanol #etanol-indonesia #impor-etanol #industri-bioetanol #etanol-bensin #oksigenat-etanol #produksi-etanol #efisiensi-etanol #etanol

https://ekonomi.bisnis.com/read/20251020/44/1921979/jelang-penerapan-bbm-e10-peneliti-itb-industri-etanol-lokal-harus-diperkuat