AAJI Sebut Kenaikan Biaya Medis jadi Aral Penjualan Asuransi Kesehatan

AAJI Sebut Kenaikan Biaya Medis jadi Aral Penjualan Asuransi Kesehatan

AAJI menyoroti kenaikan biaya medis sebagai tantangan utama penjualan asuransi kesehatan, memerlukan pendekatan kolektif dan pengendalian risiko terintegrasi.

(Bisnis.Com) 06/02/26 10:55 127955

Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mengungkapkan tantangan utama saat ini dalam memasarkan produk asuransi kesehatan adalah kenaikan biaya layanan medis.

Direktur Eksekutif AAJI, Emira E. Oepangat menegaskan hal itu bukan semata tantangan industri asuransi saja, tetapi juga menjadi tantangan ekosistem kesehatan.

“Ekosistem kesehatan melibatkan banyak pihak, dan apabila salah satu mata rantai tidak berjalan optimal, baik dari sisi tarif, penggunaan obat, maupun pola perawatan, maka tekanan biaya akan muncul dan tercermin dalam nilai klaim serta premi,” ungkapnya kepada Bisnis, Rabu (4/2/2026).

Emira meneruskan, lonjakan klaim dipengaruhi oleh waste and abuse, seperti penggunaan obat berharga tinggi meskipun tersedia alternatif yang lebih efisien, over treatment, dan variasi tarif yang tidak selalu sejalan dengan kebutuhan medis.

Tidak hanya itu, menurutnya industri asuransi kini dihadapi tantangan suspected systemic fraud dalam klaim kesehatan, yang memerlukan analisis lebih mendalam untuk mengidentifikasi pola dan modusnya.

Sebab demikian, dia berpendapat pengendalian risiko tidak cukup apabila dilakukan sendiri oleh masing-masing perusahaan. Diperlukan pooling data yang terintegrasi lintas perusahaan dan lintas fasilitas layanan kesehatan atau serupa dengan fungsi Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK) di sektor pembiayaan.

Pooling data ini, lanjutnya, akan membantu memonitor pola klaim, mendeteksi klaim berulang atau tidak wajar, serta mengidentifikasi indikasi abuse secara lebih dini dan objektif.

“Pendekatan kolektif berbasis data ini penting untuk memperkuat upaya pencegahan, meningkatkan efektivitas cost containment, dan menjaga keberlanjutan ekosistem asuransi kesehatan,” tegasnya.

Lebih lanjut, Emira menekankan bahwa produk asuransi kesehatan relevan bagi seluruh kelompok usia, termasuk anak-anak yang masih menjadi tanggungan orang tua.

Pasalnya, risiko kesehatan dapat dialami siapa pun tanpa memandang usia, jenis kelamin, maupun latar belakang. Faktor gaya hidup, lingkungan, dan jenis pekerjaan turut memengaruhi tingkat risiko kesehatan seseorang.

“Asuransi kesehatan dapat menjadi bagian dari strategi perlindungan jangka panjang, membantu masyarakat lebih siap secara finansial dalam menghadapi risiko kesehatan yang tidak terduga,” tutupnya.

Sebagai informasi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan terdapat peningkatan aktivitas klaim pada lini usaha asuransi kesehatan yang perlu dikelola secara hati-hati oleh industri.

Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan dan Dana Pensiun OJK Ogi Prastomiyono menuturkan pada November 2025, klaim asuransi kesehatan di asuransi jiwa tercatat sebesar Rp22,10 triliun atau meningkat 11,20% year-on-year (YoY). “Dari sisi rasio klaim, lini usaha kesehatan mencatat rasio klaim sebesar 71,66%,” ungkap Ogi.

OJK, katanya, terus memantau perkembangan itu dan mendorong perusahaan asuransi untuk memperkuat manajemen risiko, kecukupan pencadangan, serta menjaga kualitas layanan kepada pemegang polis agar kinerja industri tetap terjaga secara berkelanjutan.

#kenaikan-biaya-medis #penjualan-asuransi-kesehatan #tantangan-asuransi-kesehatan #ekosistem-kesehatan #nilai-klaim-asuransi #premi-asuransi-kesehatan #waste-and-abuse #over-treatment #systemic-fraud-k

https://finansial.bisnis.com/read/20260206/215/1950407/aaji-sebut-kenaikan-biaya-medis-jadi-aral-penjualan-asuransi-kesehatan