RI Butuh 600.000 Talenta Digital per Tahun, YCAB–Orica Luncurkan STEM Spark
Kebutuhan tenaga kerja dengan keterampilan sains dan teknologi di Indonesia terus meningkat seiring berkembangnya ekonomi digital.
(Kompas.com) 03/03/26 16:47 153599
JAKARTA, KOMPAS.com – Kebutuhan tenaga kerja dengan keterampilan sains dan teknologi di Indonesia terus meningkat seiring berkembangnya ekonomi digital.
Pemerintah menargetkan Indonesia memiliki 9 juta talenta digital pada 2030 untuk mendukung transformasi ekonomi berbasis teknologi.
Namun, ketersediaan talenta digital saat ini masih terbatas. Data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menunjukkan Indonesia baru menghasilkan sekitar 100.000 hingga 200.000 talenta digital setiap tahun, sementara kebutuhan mencapai sekitar 600.000 talenta per tahun.
PEXELS/FAUXELS Ilustrasi bekerja di kantor.Di tengah kesenjangan tersebut, penguatan pendidikan Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM) dinilai menjadi salah satu langkah penting untuk menyiapkan sumber daya manusia yang relevan dengan kebutuhan industri di masa depan.
YCAB Foundation bersama perusahaan solusi pertambangan dan infrastruktur global, Orica, meluncurkan program STEM Spark: Ignite Future Career Program di Kalimantan Timur.
Program ini dirancang untuk memperkuat pendidikan STEM yang lebih inklusif dan aplikatif bagi pelajar tingkat menengah.
Program STEM Spark akan berlangsung selama tiga tahun dengan fokus meningkatkan kesiapan siswa SMA dan SMK dalam menghadapi dunia kerja di masa depan, sekaligus mendukung kebutuhan talenta STEM dan digital yang kompetitif di Indonesia.
Selain itu, program ini juga menargetkan peningkatan partisipasi perempuan di bidang STEM. Partisipasi perempuan di sektor ini masih relatif terbatas, terutama dalam pendidikan vokasi.
imtmphoto Ilustrasi bekerjaDalam implementasinya, STEM Spark menargetkan 60 persen peserta merupakan perempuan sebagai bagian dari upaya memperluas partisipasi dan mengurangi kesenjangan gender dalam bidang STEM.
Program ini akan melibatkan sekitar 1.000 siswa SMA dan SMK, serta 50 guru mata pelajaran Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) dan Bimbingan Konseling (BK) dari 20 sekolah di Kalimantan Timur.
Pelaksanaannya dibagi dalam tiga fase utama, yaitu peningkatan kapasitas guru, pendalaman materi STEM dan design thinking untuk siswa, serta kompetisi STEM.
Pada tahap awal, sebanyak 50 guru akan mengikuti pelatihan Training of Trainers (ToT) untuk memperkuat metode pengajaran STEM yang lebih interaktif dan aplikatif.
Setelah itu, para guru akan mendampingi siswa melalui berbagai kegiatan pembelajaran seperti hands-on learning, gamifikasi, serta Career Day yang mempertemukan siswa dengan perusahaan dan berbagai profesi di bidang STEM.
Program ini kemudian akan ditutup dengan kompetisi berbasis proyek antar sekolah serta penyelenggaraan STEM Festival yang menjadi ruang berbagi pengetahuan sekaligus pengenalan peluang pendidikan lanjutan.
President Director Orica Indonesia, James Tiedgen, mengatakan dukungan terhadap pendidikan menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam pemberdayaan masyarakat di wilayah operasionalnya.
“Dukungan terhadap pendidikan selalu menjadi bagian utama dari komitmen Orica bagi masyarakat di wilayah operasional kami. Rekam jejak Orica yang ditopang oleh inovasi, riset, dan teknologi membuat kami menyadari pentingnya keterampilan dasar STEM dalam membuka peluang yang lebih luas,” ujar James dalam siaran pers, Selasa (3/3/2026).
Ia menambahkan, kolaborasi dengan YCAB Foundation bertujuan membekali pelajar dengan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan masa depan.
“Melalui kolaborasi ini, kami bertujuan untuk membekali para pelajar di seluruh Indonesia, khususnya di Kalimantan Timur, dengan keterampilan yang mereka perlukan untuk berkembang. Kami bangga dapat bermitra dengan YCAB Foundation untuk bersama-sama membuka jalan bagi lahirnya generasi penerus yang lebih siap menghadapi tantangan masa depan,” kata James.
Founder dan CEO YCAB Foundation Veronica Colondam mengatakan program tersebut juga dirancang untuk memperkuat hubungan antara dunia pendidikan dan dunia industri.
“Kolaborasi ini memastikan bahwa kami tidak hanya membekali generasi muda dengan pengetahuan dan keterampilan di bidang STEM, tetapi juga mengenalkan serta menjembatani mereka dengan dunia industri,” ujar Veronica.
Menurut dia, melalui program ini siswa dapat memahami keterkaitan antara pembelajaran di sekolah dengan kebutuhan dunia kerja.
“Melalui STEM Spark, siswa mendapatkan pemahaman yang lebih utuh tentang bagaimana pembelajaran di sekolah terhubung langsung dengan kebutuhan dan peluang di dunia kerja,” kata Veronica.
Sebagai bagian dari rangkaian program, pelatihan guru dalam program STEM Spark telah dilaksanakan pada 11–12 Februari 2026 di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Timur.
Kegiatan ini menjadi tahap awal untuk memastikan para guru siap mengimplementasikan modul pembelajaran STEM secara efektif di sekolah masing-masing.
Melalui program ini, kolaborasi antara YCAB Foundation dan Orica diharapkan dapat memperkuat ekosistem pendidikan STEM di Kalimantan Timur sekaligus memperluas akses generasi muda terhadap peluang pendidikan dan karier di bidang sains dan teknologi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang