Produksi Kopi Garut Melejit 31,7%, Tembus 6.246 Ton di 2025
Produksi kopi Garut naik 31,7% pada 2025, mencapai 6.246 ton, didorong oleh peningkatan produktivitas dan luas lahan.
(Bisnis.Com) 05/03/26 15:22 156102
Bisnis.com, GARUT - Produksi kopi di Kabupaten Garut, Jawa Barat, melonjak signifikan pada 2025. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) total produksi kopi mencapai 6.246 ton atau naik 1.504 ton dibandingkan 2024 yang tercatat 4.742 ton. Kenaikan ini setara pertumbuhan 31,7% dalam satu tahun.
Kepala BPS Kabupaten Garut, Sidik Edi Sutopo, mengatakan peningkatan tersebut menunjukkan sektor perkebunan kopi masih menjadi salah satu penopang ekonomi pertanian daerah.
“Produksi kopi tahun 2025 memang mengalami kenaikan cukup signifikan dibanding tahun sebelumnya. Ini terlihat dari kontribusi sejumlah kecamatan sentra yang mengalami peningkatan produksi,” ujar Sidik, Kamis (5/3/2026).
Data BPS mencatat, Kecamatan Cikajang menjadi penyumbang produksi terbesar pada 2025 dengan total 869 ton, meningkat dari 543 ton pada 2024. Posisi kedua ditempati Pakenjeng sebesar 864 ton, naik dari 760 ton. Disusul Cisurupan dengan 618 ton, meningkat dari 409 ton pada tahun sebelumnya.
Selain tiga kecamatan tersebut, sejumlah wilayah lain juga mencatat pertumbuhan produksi cukup tajam. Samarang naik dari 236 ton menjadi 309 ton. Pasirwangi meningkat dari 246 ton menjadi 338 ton. Banjarwangi melonjak dari 44 ton menjadi 174 ton, sementara Cigedug hampir dua kali lipat dari 118 ton menjadi 237 ton.
Sidik menjelaskan, kenaikan produksi dapat dipengaruhi beberapa faktor, antara lain bertambahnya luas tanaman menghasilkan serta meningkatnya produktivitas kebun rakyat.
“Peningkatan produksi biasanya terkait dengan tanaman yang sudah memasuki usia produktif optimal dan perbaikan pola budidaya. Faktor cuaca yang relatif mendukung juga berpengaruh,” katanya.
Meski demikian, tidak seluruh kecamatan mengalami tren positif. Beberapa wilayah justru mencatat penurunan produksi. Kecamatan Cisewu turun dari 240 ton menjadi 204 ton. Cikelet menurun dari 62 ton menjadi 40 ton. Karangpawitan juga turun dari 36 ton menjadi 20 ton, serta Wanaraja dari 39 ton menjadi 34 ton.
Menurut Sidik, fluktuasi tersebut merupakan hal yang lazim dalam sektor perkebunan yang sangat bergantung pada kondisi agroklimat dan perawatan tanaman.
“Perkebunan kopi sangat dipengaruhi faktor curah hujan, serangan hama, serta siklus produksi tanaman. Karena itu, pergerakan produksi antarwilayah bisa berbeda,” ujarnya.
Secara struktur, produksi kopi Garut masih terkonsentrasi di wilayah dataran tinggi bagian selatan dan tengah. Kecamatan seperti Cikajang, Pakenjeng, Cisurupan, Pamulihan, dan Pasirwangi menjadi basis utama produksi karena memiliki ketinggian dan karakter tanah yang sesuai untuk pengembangan kopi, khususnya jenis arabika.
Jika dihitung secara ekonomi, kenaikan produksi tersebut berpotensi meningkatkan perputaran uang di tingkat petani. Dengan asumsi harga rata-rata kopi biji kering di kisaran Rp60.000 per kilogram, total produksi 6.246 ton setara dengan potensi nilai lebih dari Rp374 miliar dalam satu tahun.
Sidik menegaskan, data produksi ini menjadi gambaran awal bagi pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan penguatan sektor perkebunan.
“Data statistik ini diharapkan dapat menjadi dasar perencanaan pembangunan, termasuk dalam pengembangan hilirisasi dan peningkatan kesejahteraan petani kopi,” katanya.
#kopi-garut #produksi-kopi #kopi-jawa-barat #kopi-cikajang #kopi-pakenjeng #kopi-cisurupan #kopi-samarang #kopi-pasirwangi #kopi-banjarwangi #kopi-cigedug #kopi-arabika #pertumbuhan-kopi #statistik-kop