Produksi kopi Garut naik lebih dari 10% pada 2025 meski lahan menyusut, membuka peluang hilirisasi dan ekspor. Efisiensi dan praktik budidaya membaik. [478] url asal
Bisnis.com, CIREBON – Produksi kopiKabupaten Garutmenunjukkan tren meningkat pada 2025 meski luas lahan mengalami penyusutan. Kenaikan produksi yang melampaui 10% dinilai membuka peluang penguatan nilai tambah melalui hilirisasi, ekspor, hingga pengembangan kopi spesialti.
Berdasarkan data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS), produksi kopi Garut tercatat mencapai 2.844,28 ton pada 2025, naik dari 2.552,50 ton pada 2024. Di sisi lain, luas lahan kopi justru turun dari 3.685,86 hektare menjadi 3.609,36 hektare.
KepalaBadan Pusat StatistikKabupaten Garut,Sidik Edi Sutopo, mengatakan peningkatan produksi di tengah penyusutan lahan mencerminkan adanya perbaikan produktivitas di tingkat petani.
“Secara agregat, produktivitas kopi mengalami peningkatan. Ini terlihat dari output yang naik meskipun luas lahan berkurang. Artinya, ada efisiensi dan kemungkinan perbaikan dalam praktik budidaya,” ujarnya, Jumat (17/4/2026).
Jika dihitung, produktivitas kopi Garut naik dari sekitar 0,69 ton per hektare pada 2024 menjadi 0,79 ton per hektare pada 2025. Kenaikan ini mengindikasikan adanya intensifikasi produksi, baik melalui penggunaan varietas unggul, perbaikan teknik budidaya, maupun faktor iklim yang lebih mendukung.
Sejumlah kecamatan tercatat menjadi penyumbang utama produksi kopi, di antaranya Cikajang, Pakenjeng, Cisurupan, dan Pamulihan. Wilayah-wilayah tersebut dikenal memiliki karakteristik agroklimat dataran tinggi yang sesuai untuk pengembangan kopi, khususnya jenis arabika.
Menurut Sidik, tren ini tidak hanya mencerminkan peningkatan kapasitas produksi, tetapi juga membuka ruang bagi pengembangan sektor hilir.
"Dengan produksi yang meningkat, peluang untuk masuk ke pasar bernilai tambah seperti specialty coffee atau ekspor semakin terbuka. Ini yang perlu didorong ke depan,” katanya.
Ia menambahkan, selama ini sebagian besar produksi kopi masih dijual dalam bentuk bahan mentah atau biji kering. Padahal, nilai ekonomi dapat meningkat signifikan jika dilakukan pengolahan lanjutan, seperti roasting, pengemasan, hingga branding produk.
“Kalau hilirisasi berjalan, dampaknya bukan hanya pada harga jual, tapi juga pada penyerapan tenaga kerja dan penguatan ekonomi lokal,” ujarnya.
Meski demikian, Sidik mengingatkan adanya tantangan yang perlu diantisipasi, terutama terkait konsistensi produktivitas dan kualitas. Penyusutan lahan, meski relatif kecil, perlu dicermati agar tidak berlanjut menjadi tren jangka panjang.
Selain itu, distribusi produksi yang masih terkonsentrasi di beberapa kecamatan menunjukkan adanya ketimpangan antarwilayah. Beberapa daerah belum optimal dalam pengembangan kopi, baik karena keterbatasan lahan, kondisi geografis, maupun faktor sumber daya manusia.
“Perlu ada intervensi kebijakan yang lebih terarah, terutama dalam hal pendampingan petani, akses terhadap teknologi, dan penguatan kelembagaan,” kata Sidik.
Ia juga menyoroti pentingnya regenerasi petani kopi, mengingat sebagian besar pelaku usaha tani masih didominasi kelompok usia lanjut. Tanpa regenerasi, keberlanjutan produksi dalam jangka panjang berpotensi terhambat.
Di sisi lain, tren peningkatan produktivitas dinilai menjadi sinyal positif bagi sektor perkebunan di Garut. Dengan strategi yang tepat, kopi berpotensi menjadi salah satu komoditas unggulan yang tidak hanya menopang ekonomi lokal, tetapi juga mampu bersaing di pasar global.
“Momentum ini perlu dimanfaatkan. Kenaikan produksi lebih dari 10% bukan sekadar angka, tetapi peluang untuk naik kelas, dari sekadar produsen bahan mentah menjadi pemain dalam rantai nilai yang lebih tinggi,” ujar Sidik.
Bisnis.com, JAKARTA — Pasar kopi global menghadapi tekanan baru dari lonjakan harga pupuk dan ketegangan geopolitik yang berpotensi mengganggu rantai pasok serta produksi ke depan, menurut laporan terbaru Organisasi Kopi Internasional (ICO).
Dalam laporan pasar Maret 2026, ICO menyebutkan bahwa dampak berkepanjangan dari tingginya harga pupuk berisiko menekan produksi kopi, terutama pada musim tanam mendatang.
“Meskipun produksi untuk panen 2025–2026 saat ini kemungkinan tidak akan terpengaruh secara signifikan karena pupuk telah diaplikasikan dalam sebagian besar kasus, hal ini menimbulkan beberapa risiko untuk panen 2026–2027 jika gangguan tersebut berkepanjangan,” kata ICO, dikutip Kamis (16/4/2026).
ICO melaporkan 25%–30% dari perdagangan pupuk global dan hingga 30% dari pupuk nitrogen (urea) transit melalui Selat Hormuz. Kawasan Teluk juga merupakan produsen pupuk utama.
Laporan ICO juga mencatat harga kopi global mulai pulih pada Maret 2026 setelah mengalami penurunan selama tiga bulan sebelumnya. Kenaikan ini terutama dipicu oleh gangguan distribusi akibat ketegangan di Asia Barat yang berdampak pada jalur pelayaran strategis Selat Hormuz.
Harga Indikator Komposit ICO tercatat naik 2,3% secara bulanan menjadi 273,70 sen AS per pon. Kenaikan tersebut mencerminkan meningkatnya biaya pengiriman serta ketidakpastian dalam rantai pasok global.
Sebagai gambaran, sekitar 25% perdagangan minyak dunia dan hampir 20% ekspor gas alam cair global melewati Selat Hormuz. Kondisi ini menempatkan Selat Hormuz sebagai jalur vital yang memengaruhi berbagai komoditas, termasuk kopi.
Secara rinci, harga kopi jenis Colombian Milds naik 2% menjadi rata-rata 337,45 sen AS per pon, sementara Other Milds meningkat 4,0% menjadi 334,34 sen AS per pon. Brazilian Naturals juga menguat 3,9% menjadi 320,51 sen AS per pon.
Di sisi lain, harga Robusta justru mengalami penurunan 1,6% menjadi 176,77 sen AS per pon. Pada pasar berjangka, kontrak London ICE turun 2,5% menjadi 161,91 sen AS per pon, sedangkan kontrak New York ICE naik tipis 0,5% menjadi 290,18 sen AS per pon.
Perbedaan pergerakan ini mencerminkan sentimen pasar yang beragam di tengah ketidakpastian global, sekaligus menunjukkan bahwa tekanan biaya dan gangguan logistik menjadi faktor utama yang membentuk arah harga kopi ke depan.
Bisnis.com, GARUT - Produksi kopi di Kabupaten Garut, Jawa Barat, melonjak signifikan pada 2025. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS) total produksi kopi mencapai 6.246 ton atau naik 1.504 ton dibandingkan 2024 yang tercatat 4.742 ton. Kenaikan ini setara pertumbuhan 31,7% dalam satu tahun.
Kepala BPS Kabupaten Garut, Sidik Edi Sutopo, mengatakan peningkatan tersebut menunjukkan sektor perkebunan kopi masih menjadi salah satu penopang ekonomi pertanian daerah.
“Produksi kopi tahun 2025 memang mengalami kenaikan cukup signifikan dibanding tahun sebelumnya. Ini terlihat dari kontribusi sejumlah kecamatan sentra yang mengalami peningkatan produksi,” ujar Sidik, Kamis (5/3/2026).
Data BPS mencatat, Kecamatan Cikajang menjadi penyumbang produksi terbesar pada 2025 dengan total 869 ton, meningkat dari 543 ton pada 2024. Posisi kedua ditempati Pakenjeng sebesar 864 ton, naik dari 760 ton. Disusul Cisurupan dengan 618 ton, meningkat dari 409 ton pada tahun sebelumnya.
Selain tiga kecamatan tersebut, sejumlah wilayah lain juga mencatat pertumbuhan produksi cukup tajam. Samarang naik dari 236 ton menjadi 309 ton. Pasirwangi meningkat dari 246 ton menjadi 338 ton. Banjarwangi melonjak dari 44 ton menjadi 174 ton, sementara Cigedug hampir dua kali lipat dari 118 ton menjadi 237 ton.
Sidik menjelaskan, kenaikan produksi dapat dipengaruhi beberapa faktor, antara lain bertambahnya luas tanaman menghasilkan serta meningkatnya produktivitas kebun rakyat.
“Peningkatan produksi biasanya terkait dengan tanaman yang sudah memasuki usia produktif optimal dan perbaikan pola budidaya. Faktor cuaca yang relatif mendukung juga berpengaruh,” katanya.
Meski demikian, tidak seluruh kecamatan mengalami tren positif. Beberapa wilayah justru mencatat penurunan produksi. Kecamatan Cisewu turun dari 240 ton menjadi 204 ton. Cikelet menurun dari 62 ton menjadi 40 ton. Karangpawitan juga turun dari 36 ton menjadi 20 ton, serta Wanaraja dari 39 ton menjadi 34 ton.
Menurut Sidik, fluktuasi tersebut merupakan hal yang lazim dalam sektor perkebunan yang sangat bergantung pada kondisi agroklimat dan perawatan tanaman.
“Perkebunan kopi sangat dipengaruhi faktor curah hujan, serangan hama, serta siklus produksi tanaman. Karena itu, pergerakan produksi antarwilayah bisa berbeda,” ujarnya.
Secara struktur, produksi kopi Garut masih terkonsentrasi di wilayah dataran tinggi bagian selatan dan tengah. Kecamatan seperti Cikajang, Pakenjeng, Cisurupan, Pamulihan, dan Pasirwangi menjadi basis utama produksi karena memiliki ketinggian dan karakter tanah yang sesuai untuk pengembangan kopi, khususnya jenis arabika.
Jika dihitung secara ekonomi, kenaikan produksi tersebut berpotensi meningkatkan perputaran uang di tingkat petani. Dengan asumsi harga rata-rata kopi biji kering di kisaran Rp60.000 per kilogram, total produksi 6.246 ton setara dengan potensi nilai lebih dari Rp374 miliar dalam satu tahun.
Sidik menegaskan, data produksi ini menjadi gambaran awal bagi pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan penguatan sektor perkebunan.
“Data statistik ini diharapkan dapat menjadi dasar perencanaan pembangunan, termasuk dalam pengembangan hilirisasi dan peningkatan kesejahteraan petani kopi,” katanya.
Bisnis.com, JAKARTA — Harga biji kopi robusta di Indonesia naik sebesar 15%, sejalan dengan harga global yang terkerek imbas dari produksi yang terganggu oleh kenaikan suhu.
Analisis terbaru dari Climate Central berjudul More Coffee-Harming Heat Due to Carbon Pollution mengungkap bahwa krisis iklim turut berdampak pada pasokan kopi global. Gelombang panas akibat memburuknya iklim telah memangkas produksi dan menaikkan harga biji kopi.
Harga kopi secara global telah melonjak 45,89% dari US$2,63 per kg (sekitar Rp44.239 per kg) pada 2023 menjadi US$4,86 per kg (Rp81.751 per kg) pada 2025.
Seiring dengan kondisi tersebut, krisis iklim telah menambah rata-rata 57 hari gelombang panas di lima negara pemasok kopi terbesar, yakni Brasil, Vietnam, Kolombia, Ethiopia dan Indonesia. Kelima negara ini menyumbang 75% suplai kopi secara global. Tambahan hari panas yang berbahaya bagi produksi kopi berdampak pada kesehatan dan pertumbuhan tanaman tersebut.
“Hampir setiap negara penghasil kopi utama kini mengalami lebih banyak hari dengan suhu panas ekstrem yang dapat merusak tanaman kopi, mengurangi hasil panen, dan memengaruhi kualitas. Seiring waktu, dampak ini dapat menyebar dari perkebunan ke konsumen, hingga memengaruhi kualitas dan biaya kopi yang diminum setiap hari,” kata Kristina Dahl, Wakil Presiden Sains Climate Central.
Indonesia berkontribusi sebesar 6% dalam pasokan kopi secara internasional. Tetapi pada 2025, terdapat rata-rata 129 hari dengan suhu panas yang merusak tanaman kopi, dengan tambahan 73 hari akibat perubahan iklim. Kondisi ini mengganggu produksi kopi sehingga terjadi inflasi harga 15%.
Kopi membutuhkan kondisi yang sangat spesifik untuk tumbuh optimal. Sebagian besar kopi berasal dari daerah yang dikenal sebagai "sabuk kopi", yakni wilayah geografis di sekitar Garis Khatulistiwa yang memiliki iklim tropis ideal dengan suhu stabil di bawah 30°C dan curah hujan tinggi.
Krisis iklim yang makin parah mengancam jumlah lahan yang layak dijadikan pertanian kopi. Lahan layak tersebut diproyeksikan berkurang hingga 50% pada 2050 jika tidak ada adaptasi yang memadai.
Ketika suhu naik di atas ambang batas 30°C, tanaman kopi seperti robusta dan arabika akan mengalami stres panas yang dapat mengurangi hasil panen. Hal ini lantas memengaruhi kualitas biji kopi dan meningkatkan kerentanan tanaman terhadap penyakit.
Secara bersamaan, dampak-dampak ini dapat mengurangi pasokan dan kualitas kopi serta berkontribusi pada kenaikan harga secara global, terutama kopi arabika yang lebih sensitif pada kenaikan suhu daripada robusta.
Kondisi ini paling berdampak buruk bagi petani kecil yang menyumbang sekitar 80% dari produksi global dan berkontribusi sekitar 60% pasokan kopi dunia. Namun, petani kecil hanya menerima 0,36% dari pendanaan yang dibutuhkan untuk beradaptasi dengan dampak perubahan iklim pada 2021, yakni US$2,19 per hari untuk satu hektare, kurang dari harga secangkir kopi di banyak negara. Petani kecil biasanya menggarap lahan kurang dari sekitar 12 hektar.
Menurut Yosi Amelia, Lead Program Iklim dan Ekosistem MADANI Berkelanjutan, pendekatan agroforestri bisa menjaga stabilitas ekologi kebun dalam konteks perubahan iklim. Sistem kopi dengan pohon naungan mampu menciptakan iklim mikro yang lebih stabil, menjaga kelembaban tanah, serta mengurangi dampak suhu ekstrem dan variabilitas curah hujan. Agroforestri berfungsi sebagai mekanisme adaptasi produksi yang memperkuat ketahanan tanaman sekaligus menjaga keanekaragaman hayati dan penyimpanan karbon.
“Tantangan terbesar justru terletak pada tata kelola perkebunan kopi. Sebagian besar kopi Indonesia diproduksi oleh petani kecil dengan akses terbatas terhadap penyuluhan, pembiayaan, informasi iklim, dan pasar yang adil. Tanpa sistem tata kelola yang kuat, upaya adaptasi akan berjalan sporadis dan sulit mencapai skala yang dibutuhkan,” jelas Yosi.
Bisnis.com, JAKARTA — Analisis terbaru dari Climate Central mengungkap bahwa perubahan iklim telah memicu kenaikan jumlah hari dengan suhu ekstrem yang mengancam panen kopi di negara-negara produsen utama. Situasi ini berisiko menurunkan volume panen dan berkontribusi terhadap kenaikan harga di tingkat konsumen.
Kopi sendiri merupakan salah satu minuman paling populer di dunia, dengan konsumsi harian menembus 2,2 miliar cangkir. Bahkan di Amerika Serikat, dua per tiga orang dewasa meminum kopi setiap hari.
Namun di balik popularitasnya, pasokan kopi justru menghadapi tekanan yang makin besar. Salah satu faktornya adalah perubahan iklim yang memicu kenaikan suhu rata-rata permukaan Bumi.
Laporan Climate Central menganalisis data suhu periode 2021–2025 dan membandingkannya dengan skenario tanpa polusi karbon menggunakan Climate Shift Index. Analisis tersebut menghitung tambahan jumlah hari per tahun ketika perubahan iklim mendorong suhu melampaui ambang batas berbahaya bagi kopi, yakni 30 derajat Celsius (°C).
Ketika suhu melampaui ambang tersebut, tanaman kopi mengalami stres panas yang dapat menurunkan hasil panen. Kondisi tersebut juga memengaruhi kualitas biji, serta meningkatkan kerentanan terhadap penyakit. Dampak gabungan ini berpotensi mengurangi pasokan dan kualitas kopi global, sekaligus memicu kenaikan harga.
Lima negara produsen kopi terbesar, yakni Brasil, Vietnam, Kolombia, Ethiopia, dan Indonesia, tercatat mengalami rata-rata tambahan 57 hari panas berbahaya per tahun akibat perubahan iklim. Kelima negara ini menyumbang sekitar 75% produksi kopi dunia. Brasil sebagai produsen terbesar bahkan mencatat rata-rata 70 hari panas tambahan per tahun yang merugikan tanaman kopi.
Secara keseluruhan, 25 negara penghasil kopi yang mewakili 97% produksi global mengalami peningkatan hari panas berbahaya akibat perubahan iklim. Rata-rata tiap negara menghadapi tambahan 47 hari per tahun dengan suhu yang merusak tanaman kopi.
Dampak panen yang lebih kecil dan harga yang lebih tinggi paling dirasakan petani kecil yang mencakup sekitar 80% produsen global dan menyumbang sekitar 60% pasokan dunia. Terlepas dari kontribusi besar ini, petani kecil hanya menerima 0,36% dari total pembiayaan adaptasi iklim pada 2021. Padahal, biaya adaptasi rata-rata untuk lahan 1 hektare diperkirakan US$2,19 per hari atau lebih rendah dari harga secangkir kopi di banyak negara.
“Petani kopi di Ethiopia sudah merasakan dampak panas ekstrem. Kopi arabika Ethiopia sangat sensitif terhadap sinar matahari langsung. Tanpa naungan yang cukup, pohon kopi menghasilkan lebih sedikit biji dan menjadi lebih rentan terhadap penyakit,” ujar Dejene Dadi, General Manager Oromia Coffee Farmers Cooperatives Union (OCFCU), koperasi petani kecil yang menjadi salah satu produsen dan eksportir kopi terbesar di Ethiopia, dikutip dari siaran pers, Rabu (18/2/2026).
Menurutnya, untuk menjaga pasokan kopi, pemerintah perlu mengambil langkah nyata dalam penanganan perubahan iklim serta berinvestasi pada petani kecil dan organisasi mereka agar mampu meningkatkan solusi adaptasi.
“Sebagai contoh, koperasi kami mendistribusikan kompor hemat energi yang mengurangi kebutuhan kayu bakar dan melindungi kawasan hutan yang menjadi pelindung alami bagi budidaya kopi,” tambahnya.
Akshay Dashrath, Co-Founder sekaligus petani di South India Coffee Company, menyatakan perubahan iklim menjadi realitas yang terukur setiap hari di kebunnya. “Sensor di lapangan menunjukkan periode panas yang lebih panjang, malam yang lebih hangat, dan hilangnya kelembapan tanah lebih cepat.”
Wakil Presiden Bidang Sains Climate Central, Dr. Kristina Dahl, menegaskan bahwa perubahan iklim kini mengancam sektor kopi secara langsung.
“Hampir semua negara produsen utama kini mengalami lebih banyak hari panas ekstrem yang dapat merusak tanaman, menurunkan hasil, dan memengaruhi kualitas. Dampaknya pada akhirnya bisa menjalar dari kebun ke konsumen, hingga memengaruhi kualitas dan harga secangkir kopi harian,” katanya.
Ia menambahkan bahwa dampak perubahan iklim tidak hanya terbatas pada kopi. Dia berpandangan perubahan iklim juga menghantam komoditas lain dan para petani di berbagai belahan dunia. Kondisi ini memicu efek berantai terhadap harga pangan dan mata pencaharian.
Titi Nuryati (34) dulu tak pernah meneguk kopi. Baginya, minuman itu terlalu getir, hanya layak bagi para lelaki tua di desanya. Bahkan dirinya pernah ... [1,625] url asal
Kuningan (ANTARA) - Titi Nuryati (34) dulu tak pernah meneguk kopi. Baginya, minuman itu terlalu getir, hanya layak bagi para lelaki tua di desanya. Bahkan dirinya pernah mengernyit saat mencium aromanya.
Namun, hidup kerap berkelindan tak terduga. Dari rasa yang pernah ditolak, Titi malah jatuh hati pada biji kopi, yang kemudian membawanya jadi sosok penggerak sekaligus Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Srikandi.
Perempuan ini mampu melambungkan jenama kopi robusta asal Desa Cibeureum, Kuningan, Jawa Barat, dari kafe lokal hingga konsumen mancanegara.
“Setelah ikut memetik, menjemur, sampai menyangrai, ternyata rasanya lain ketika kopi lahir dari tangan sendiri,” tutur Titi Nuryati kepada ANTARA, suatu sore di bulan Oktober.
Sembari menatap hamparan jemuran biji yang berkilau disapu cahaya sore, Titi mengingat kilas balik saat memutuskan terjun pada dunia kopi.
Ia menghabiskan masa mudanya di Jakarta, bekerja di industri rumahan pembuat kue kering. Setelah menikah pun, tangan terampilnya tetap bergulat dengan loyang.
Meski begitu, hidupnya tak berhenti di industri ini. Sebab, Titi menemukan arah baru ketika melihat kopi di kampungnya yang lama terabaikan.
Ada peluang
Semua itu bermula dari ketidaksengajaan, yakni gegara 10 kg kopi yang tertinggal di gudang rumahnya pada 2016.
Niat hati, kopi itu hendak dibawa ke Jakarta sebagai buah tangan untuk saudaranya. Tapi, karung berisi kopi itu lupa dimasukkan ke dalam mobil.
Pada saat bersamaan, di Desa Cibeureum sedang berlangsung Jagakali International Art Festival. Kebetulan pula rumahnya jadi tempat berkumpul para seniman.
Daripada terbuang, biji kopi tersebut akhirnya diolah, lalu diseduh untuk tamu yang datang silih berganti.
Selama dua bulan penuh, aroma kayu bakar selalu menyeruak di dapur rumahnya. Cangkir kopi yang disuguhkan pun ludes, disesap oleh para tamu.
Anggota KWT Srikandi saat menyortir biji kopi robusta di Desa Cibereum, Kuningan, Jawa Barat, Rabu (22/10/2025). ANTARA/Fathnur Rohman.
Banyak tamu yang menyatakan kepincut dengan cita rasa otentik dari minuman hasil racikan Titi. Tamu penting dari Keraton Kanoman Cirebon lantas bertanya, tentang asal kopi yang dinikmati tadi.
“Dari sini, dari Cibeureum,” jawab Titi spontan saat itu. Ucapan tersebut menancap di benaknya. Ia pun sadar kopi bisa menjadi identitas sekaligus motor penggerak ekonomi masyarakat.
Ia memberanikan diri memberi sampel kopi ke sejumlah kedai pada 2017. Setahun penuh, bersama suaminya berkeliling mencari pasar. Jalannya tak mudah, kadang ada penolakan sampai produk kopinya tak dilirik sama sekali.
Alasannya beragam seperti biji kopi belum disortir dengan baik maupun tampilan kurang menarik. Alih-alih menyerah, Titi menjadikan kritik itu sebagai pelajaran.
Titi mempelajari seluk-beluk kopi setelah bertemu seorang dosen dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Dari situlah, dirinya tahu Kuningan sebenarnya merupakan salah satu penghasil kopi terbesar di Jawa Barat dengan produksi mencapai 1.700 ton per musim.
Mengejutkannya lagi, kopi asal desanya sudah lama dipakai oleh kedai-kedai ternama di Bandung karena rasanya lebih nikmat dibanding robusta dari daerah lain.
Fakta itu semakin memicu tekadnya, jika kopi mereka sudah diakui, mengapa tidak mengelolanya sendiri?
Melepas belenggu
Selama menekuni proses tersebut, ia paham harga kopi di tingkat petani terlalu rendah, hanya Rp12 ribu per kg. Padahal dari hulu sampai hilir industri ini, sekitar 40 persennya merupakan jerih payah petani.
Titi mengulik lebih dalam soal distribusi. Ternyata, dari petani ke pembeli besar, penyerapan kopi harus melewati tiga perantara. Artinya setiap tengkulak mengambil selisih harga.
Ketua KWT Srikandi Titi saat menyuguhkan sajian kopi robusta dengan cita rasa "wine" di Desa Cibereum, Kuningan, Jawa Barat, Rabu (22/10/2025). ANTARA/Fathnur Rohman.
Kalau bisa memangkas dua tengkulak saja, harga untuk petani bisa naik sekitar Rp4 ribu per kg. Selisih segitu sudah besar bagi mereka.
Titi mulai menjual langsung ke pengepul besar, menampung kopi dari petani, membawa ke pasar. Setelahnya langsung membayar hasilnya.
Harga kopi pun mulai merangkak naik. Nilainya mencapai Rp20 ribu per kg pada 2021. Setahun kemudian menjadi Rp25 ribu-Rp30 ribu. Angka tertinggi menembus Rp60 ribu per kg hingga Mei 2025.
Ia cuma pegang dua modal yakni nekat dan kepercayaan. Hal inilah yang membuat petani semakin yakin kepadanya.
Ilmu dari kebun
Jika ditarik ke belakang, jejak kopi di Desa Cibeureum sudah ada sejak lama. Bahkan dapat dilacak hingga zaman penjajahan.
Aktivitas perkebunan kopi di Cibeureum mulai bergeliat lagi setelah banyak warga desa ikut transmigrasi ke Lampung pada 1970-an.
Mereka belajar menanam kopi di sana, lalu pulang membawa bibit ke Kuningan sekitar 1980-an.
Tantangan pengembangan kopi masih membentang. Dari hama penggerek batang, embun jelaga, hingga iklim yang kian sulit ditebak.
Petani kadang enggan menerima cara baru untuk budidaya kopi, karena lebih nyaman dengan pola jadul.
Meski begitu, Titi tak menyerah untuk mengedukasi petani agar mempraktikkan teknik budidaya kopi yang efisien.
Ketua KWT Srikandi Titi saat menunjukkan bibit robusta varietas Tugu Ijo di Desa Cibereum, Kuningan, Jawa Barat, Rabu (22/10/2025). ANTARA/Fathnur Rohman.
Perjalanan kopi dari kebun hingga menjadi minuman tidaklah singkat. Sebab, pohon robusta membutuhkan tiga tahun untuk tumbuh sampai memasuki masa panen pertama.
Pohon kopi yang sudah produktif itu hanya dipanen sekali setahun, tepatnya bulan Juni-Agustus.
Ia menerapkan teknik penyambungan batang, lalu mengembangkan pembibitan varietas robusta unggul seperti Tugu Ijo dan Borbor Brasil yang pertumbuhannya cukup baik.
Kondisi lahan kopi sempat rusak karena penggunaan pupuk kimia berlebihan. Akibatnya terjadi penurunan pH tanah hingga mencapai 3,5.
Kelompok binaan Titi lalu memanfaatkan limbah kulit kopi sebagai pupuk organik. Upaya ini mampu menaikkan pH tanah menjadi 4 dan terakhir mencapai 5.
Berdaya untuk mendunia
Geliat produksi kopi robusta di Desa Cibeureum tak bisa dilepaskan begitu saja dari peran perempuan yang sejak lama diberdayakan.
Akhir 2018, Titi menggagas KWT Srikandi. Awalnya fokus ke sayur pekarangan, tapi pandemi COVID-19 membuat usaha itu mandek. Ia kemudian mengajak ibu-ibu desa untuk menguatkan sektor kopi.
Puluhan wanita desa yang tergabung dalam KWT Srikandi saling bahu-membahu dengan kelompok tani setempat untuk memproduksi robusta berkualitas. Bahkan mereka menanam pohon kopi di pekarangan rumah.
Total lahan garapan kopi yang dikelola mereka sekitar 11,5 hektare dengan produktivitas rata-rata 21 ton. Kemudian ada perluasan 10 hektare, sebagian telah ditanami biji robusta.
Ketua KWT Srikandi Titi saat menyortir biji kopi robusta di Desa Cibereum, Kuningan, Jawa Barat, Rabu (22/10/2025). ANTARA/Fathnur Rohman.
Proses pengolahan kopi di Cibeureum memiliki ciri khas karena menggunakan metode natural. Buah kopi dipetik saat matang, lalu dijemur sekitar satu bulan sebelum digiling menjadi green bean.
Untuk mempercepat produksi, kelompok itu mendapat sokongan dari PT Kilang Pertamina Internasional (KPI) Refinery Unit (RU) VI Balongan, berupa Solar Dryer Dome yang dapat memangkas proses pengeringan kopi menjadi 10 hari.
Ada pula keunikan yang diterapkan KWT Srikandi dalam proses pasca-panen. Setelah dijemur biji kopi disekap atau disimpan dalam wadah tertutup selama empat hingga tujuh hari.
Proses ini menciptakan fermentasi alami dan memberikan rasa asam ringan pada kopi, berbeda dari robusta yang umumnya cenderung pahit atau bold.
Kelompoknya tak berhenti bereksperimen. Tahun lalu, mereka mencoba metode wine processing untuk robusta, walaupun gagal pada praktik pertama.
Pada tahun ini, mereka berhasil. Rasa dan aromanya mulai terbentuk, bahkan cukup mirip seperti arabika.
Kegiatan KWT Srikandi setiap tahun meliputi penyortiran hingga pengemasan kopi. Terdapat enam orang yang menjadi karyawan tetap di unit usaha Sekarwangi. Jika volume pesanan tinggi, produksi dapat dilakukan hingga dua kali dalam sebulan.
Di Kuningan, metode penyangraian kopi dengan kayu bakar dan kuali tanah liat sudah jarang digunakan. Namun, kelompoknya tetap mempertahankan cara usang tersebut.
Ketua KWT Srikandi Titi saat menunjukkan produk kopi robusta di Desa Cibereum, Kuningan, Jawa Barat, Rabu (22/10/2025). ANTARA/Fathnur Rohman.
Tak semua orang mampu menyangrai manual. Salah sedikit, biji bisa gosong di luar tapi mentah di dalam. Itulah sebabnya metode lama kian langka, namun justru menjadikan kopi Cibeureum sebagai primadona.
Tradisi ini terus dirawat oleh Titi, karena diwariskan dari mendiang ibunya, yang sejak dulu menyangrai kopi secara manual.
Produk dari KWT Srikandi yakni kopi bubuk, green bean, kopi susu, hingga kopi saset sangat laris di toko oleh-oleh dan kalangan reseller.
Permintaan pasar terus berdatangan. Sebuah swalayan besar pernah meminta pasokan 10 ton per bulan, namun kelompoknya tak sanggup memenuhinya karena keterbatasan modal.
Kendati begitu, omzet tetap mengalir. Musim panen bisa menghasilkan cuan hingga Rp650 juta, meski marginnya tipis.
Di luar panen, pendapatan rutin Rp5 juta-Rp10 juta per bulan sudah cukup membuat roda ekonomi Titi dan petani berputar.
Kopi dari tanah Cibeureum pun telah menembus pasar internasional. KWT Srikandi pernah mengirim green bean ke Prancis, Belgia, Italia, Australia, Turki, Belanda, dan Malaysia.
Meski ongkos kirim mahal yakni sekitar Rp1 juta untuk 5-10 kg, respons dari konsumen luar negeri sangat positif. Artinya kopi Cibeureum diakui memenuhi standar kualitas global.
Titi tahu perjalanan ini belum selesai. Harga bisa naik turun, musim bisa berganti, tetapi semangat perempuan Desa Cibeureum tak mudah tumbang untuk berdikari lewat secangkir kopi.
Pesat
Hasil panen kopi di Kuningan terus menunjukkan perkembangan positif. Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Diskatan) setempat mencatat, total produksi komoditas ini selama Januari-September 2025 mencapai 1.217 ton.
Dari total produksi tersebut, sebanyak 63,61 ton berasal dari jenis arabika, sedangkan 1.154,38 ton lainnya merupakan robusta.
Jumlah tersebut melonjak dari hasil panen pada 2024 sebanyak 775,8 ton, dengan rincian 724,04 ton robusta dan 51,76 ton arabika.
Ketua KWT Srikandi Titi saat menunjukkan produk kopi robusta hasil olahan di Desa Cibereum, Kuningan, Jawa Barat, Rabu (22/10/2025). ANTARA/Fathnur Rohman.
Kepala Diskatan Kabupaten Kuningan Wahyu Hidayah mengemukakan angka itu mencerminkan hasil kerja keras para petani, terutama di lereng Gunung Ciremai yang menjadi pusat penghasil kopi utama daerah tersebut.
Potensi lahan kopi di Kuningan masih sangat luas, dengan permintaan yang terus meningkat dari berbagai daerah.
Wilayah sekitar Gunung Ciremai menjadi kawasan ideal untuk pengembangan kopi, karena memiliki tanah vulkanik yang subur serta iklim sejuk.
Pemerintah daerah berupaya memperkuat daya saing petani kopi dengan pelatihan, pembinaan, dan pendampingan teknis agar mutu serta produktivitas semakin meningkat.
Pada intinya, biji kopi hasil budidaya para petani di lereng Gunung Ciremai, termasuk KWT Srikandi, sudah dicap sebagai komoditas unggulan, yang siap bersaing di pasar nasional maupun global.