Tekanan Global dan Fiskal Bayangi Rupiah, Analis Proyeksi Tembus Rp 17.150
Rupiah diperkirakan masih tertekan. Konflik Timur Tengah, lonjakan harga minyak, serta beban bunga utang memberi tekanan baru.
(Kompas.com) 16/03/26 06:30 165663
JAKARTA, KOMPAS.com — Nilai tukar rupiah diperkirakan masih berada dalam tekanan dalam beberapa waktu ke depan. Nilai tukar mata uang Garuda bahkan berpotensi melemah hingga menyentuh Rp 17.150 per dollar Amerika Serikat (AS).
Tekanan terhadap rupiah dipicu kombinasi sentimen global dan domestik. Lonjakan harga minyak dunia akibat konflik geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama.
Analis pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menilai rupiah masih bergerak fluktuatif di tengah berbagai sentimen pasar.
Pergerakan rupiah dalam satu minggu ke depan diperkirakan berada di kisaran Rp 16.850 hingga Rp 17.150 per dollar AS.
Perdagangan Senin (16/3/2026) juga diperkirakan masih berada dalam tekanan.
“Untuk perdagangan senin (esok), mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 16.960- Rp.17.020. Untuk range satu minggu Rp 16.850-Rp 17.150,” ujar Ibrahim kepada wartawan dikutip Minggu (15/3/2026).
Tekanan utama terhadap rupiah berasal dari meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Situasi tersebut memicu lonjakan harga energi global.
Harga minyak dunia melonjak setelah pemimpin baru Iran Mojtaba Khamenei menyatakan Selat Hormuz tetap ditutup.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis perdagangan energi dunia. Sekitar seperlima pasokan minyak dan gas global melewati jalur tersebut.
Penutupan jalur vital tersebut memicu gangguan pasokan energi global. Pasar menilai gangguan tersebut termasuk yang terbesar dalam sejarah pasar minyak dunia.
Lonjakan harga energi memicu kekhawatiran terhadap inflasi global. Harga minyak mentah Brent terakhir diperdagangkan di sekitar 100 dollar AS per barrel.
Freepik Ilustrasi minyak. 10 Negara dengan cadangan minyak terbesar di dunia.Kenaikan harga energi turut mempengaruhi arah kebijakan bank sentral global.
Jika inflasi kembali meningkat, bank sentral seperti Federal Reserve atau The Fed berpotensi menunda rencana pemangkasan suku bunga.
Suku bunga tinggi meningkatkan daya tarik aset berbasis dollar AS bagi investor global.
“Ketika suku bunga tetap tinggi, arus modal global cenderung masuk ke aset dolar AS. Hal ini membuat dolar semakin kuat dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah,” paparnya.
Investor juga mencermati sejumlah data inflasi Amerika Serikat yang dirilis pekan ini.
Data indeks harga konsumen atau Consumer Price Index (CPI) menunjukkan inflasi relatif stabil pada Februari dibandingkan bulan sebelumnya.
Angka tersebut belum sepenuhnya mencerminkan dampak lonjakan harga minyak akibat konflik geopolitik.
Pasar kini menunggu rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE). Data tersebut merupakan indikator inflasi utama yang diperhatikan Federal Reserve.
Data PCE menjadi salah satu acuan penting dalam menentukan arah kebijakan suku bunga jangka panjang.
Tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi kondisi fiskal domestik. Pasar menyoroti meningkatnya beban pembayaran bunga utang pemerintah.
Beban bunga utang yang meningkat dinilai dapat mempersempit ruang fiskal pemerintah dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.
Estimasi dari skema defisit anggaran yang dikurangi keseimbangan primer menunjukkan pembayaran bunga utang mencapai Rp 99,8 triliun hingga Februari 2026.
Nilai tersebut setara sekitar 27,8 persen dari total pendapatan negara sebesar Rp 358 triliun.
Angka tersebut juga setara sekitar 28,8 persen dibandingkan realisasi belanja pemerintah pusat sebesar Rp 346,1 triliun pada periode yang sama.
Risiko kenaikan beban bunga utang juga meningkat akibat kebijakan tukar guling utang atau debt switch antara Bank Indonesia (BI) dan pemerintah.
Tensi geopolitik global turut mendorong kenaikan imbal hasil surat berharga negara (SBN).
Data Kementerian Keuangan per 10 Maret 2026 menunjukkan imbal hasil SBN tenor 10 tahun berada di level 6,52 persen.
Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury tenor 10 tahun tercatat di level 4,09 persen.
Secara kumulatif sejak awal tahun atau year to date (YtD), yield SBN meningkat sekitar 55 basis poin.
Kenaikan yield tersebut berpotensi meningkatkan beban pembayaran bunga utang pemerintah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Pemerintah tetap menilai pengelolaan utang berada dalam batas aman.
Pengelolaan utang dilakukan secara hati-hati. Pengaturan dilakukan dari sisi portofolio maupun penerbitan utang tahunan.
Langkah tersebut bertujuan menjaga rasio pembayaran bunga utang atau interest ratio serta Debt Service Ratio (DSR) tetap terkendali.
Pemerintah juga mencatat kinerja penerimaan pajak yang cukup positif. Penerimaan pajak pada Februari 2026 tumbuh 30,4 persen.
Pertumbuhan tersebut dinilai dapat memperbaiki rasio pembayaran bunga utang serta Debt Service Ratio pemerintah dalam jangka menengah.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang