BNPB Siagakan Water Bombing hingga Helikopter Hadapi Karhutla
BNPB siapkan helikopter water bombing dan patroli hadapi karhutla di wilayah rawan seperti Jambi dan Kalimantan.
(Bisnis.Com) 06/04/26 19:00 183094
Bisnis.com, JAKARTA — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyiapkan sejumlah langkah antisipatif untuk menghadapi risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang makin luas, seiring dengan datangnya musim kemarau yang lebih awal tahun ini.
Deputi Penanganan Darurat BNPB Mayjen TNI Budi Irawan mengemukakan jajaran instansinya telah menyiapkan sarana penanggulangan udara berupa helikopter water bombing dan helikopter patroli, selain menurunkan Satgas Darat dan mendukung operasi modifikasi cuaca (OMC).
“Helikopter-helikopter tersebut akan disiagakan di sejumlah wilayah rawan, antara lain Jambi, Sulawesi Selatan, Pekanbaru, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan,” papar Budi dalam rapat koordinasi karhutla di Kementerian Kehutanan, Senin (6/4/2026).
Saat ini, jumlah sarana yang disiapkan mencakup 16 helikopter water bombing dan 12 helikopter patroli. Budi menyebutkan jumlah tersebut dapat ditambah jika eskalasi karhutla meningkat, dan sebaliknya dapat dikurangi apabila situasi berhasil dikendalikan secara optimal.
Berdasarkan hasil penghitungan luas areal karhutla menggunakan citra satelit, Kementerian Kehutanan mencatat luas karhutla periode Januari–Februari 2026 mencapai 32.637,43 hektare. Lima provinsi dengan luas kejadian kebakaran tertinggi berturut-turut adalah Kalimantan Barat (10.601,85 ha), Riau (4.440,20 ha), Sulawesi Tengah (3.797,66 ha), Lampung (3.314,74 ha), dan Kalimantan Tengah (1.975,01 ha).
Sementara itu berdasarkan prakiraan iklim 2026 dari BMKG, kondisi El Niño-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) terpantau masih berada pada fase Netral di wilayah Indonesia per Maret 2026. Namun, pemodelan iklim menunjukkan bahwa ENSO dapat berkembang menjadi fase El Niño pada semester kedua tahun 2026.
“Musim kemarau tahun ini diperkirakan datang lebih cepat dan berlangsung lebih panjang. Selain itu, curah hujan selama musim kemarau diperkirakan berada di bawah normal, jika dibandingkan dengan rata-rata kondisi hujan selama 30 tahun terakhir,” papar Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani.
Faisal mengemukakan hal ini menjadi indikasi bahwa hujan pada musim kemarau tahun ini cenderung lebih sedikit jika dibandingkan dengan pola klimatologi jangka panjang. Hal ini juga merupakan kontribusi dari variabilitas iklim alamiah yang ada di wilayah Indonesia.
“Kondisi ini tentu perlu diantisipasi karena dapat meningkatkan kerentanan terhadap kebakaran hutan dan lahan,” tambahnya.
#water-bombing #helikopter-patroli #bnpb-karhutla #kebakaran-hutan #kebakaran-lahan #musim-kemarau #modifikasi-cuaca #helikopter-water-bombing #wilayah-rawan-karhutla #citra-satelit-karhutla #luas-karh