Rupiah Diprediksi Anjlok ke 17.150 Per Dollar AS Esok Hari, Apa Biang Keroknya?
Rupiah berpotensi semakin tertekan dengan menyentuh level psikologis Rp 17.150 per dollar AS.
(Kompas.com) 07/04/26 16:24 184054
JAKARTA, KOMPAS.com - Nilai tukar rupiah diperkirakan masih fluktuatif, seiring dengan sentimen negatif dari gejolak geopolitik di Timur Tengah saat ini.
Analis mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai rupiah berpotensi semakin tertekan dengan menyentuh level psikologis Rp 17.150 per dollar AS pada penutupan perdagangan Rabu (8/4/2926).
Untuk diketahui, nilai tukar rupiah di pasar spot tertekan saat penutupan perdagangan Selasa (7/4/2026). Rupiah melemah 0,42 persen ke posisi Rp 17.105 per dollar AS.
“Untuk perdagangan besok (Rabu), mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp 17.100- Rp 17.150 (per dollar AS),” ujar Ibrahim.
Menurutnya, pelaku pasar saat ini tengah bersiap menghadapi potensi eskalasi konflik di Timur Tengah menjelang tenggat waktu yang ditetapkan Presiden AS, Donald Trump, kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz.
“Investor bersiap menghadapi potensi eskalasi di Timur Tengah menjelang tenggat waktu yang ditetapkan Presiden AS Donald Trump bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz,” paparnya.
Gangguan lalu lintas kapal tanker dalam beberapa pekan terakhir telah memperketat ekspektasi pasokan dan meningkatkan premi risiko di seluruh pasar minyak.
Upaya diplomatik untuk meredakan konflik dinilai belum menunjukkan perkembangan berarti. Iran menolak proposal yang didukung AS, yang mencakup gencatan senjata selama 45 hari, serta pembukaan kembali Selat Hormuz secara bertahap, disertai negosiasi lanjutan terkait pencabutan sanksi dan rekonstruksi.
Sebaliknya, Iran mengajukan tuntutan yang lebih luas, termasuk penghentian konflik secara permanen, jaminan keamanan yang mengikat terhadap potensi serangan di masa depan, pencabutan sanksi, serta kompensasi atas kerusakan.
Di sisi lain, Trump menegaskan tenggat waktu tersebut bersifat final. Ia memperingatkan bahwa kegagalan Iran untuk mematuhi dapat memicu serangan militer AS terhadap infrastruktur strategis, seperti pembangkit listrik dan jembatan.
Bahkan, ia menyebut Iran dapat “disingkirkan” dengan cepat, menandakan meningkatnya risiko eskalasi konflik yang lebih luas.
Konfrontasi tersebut telah mengganggu aliran energi global dan mendorong harga minyak dunia lebih tinggi. Kondisi ini memicu kekhawatiran inflasi serta memperumit arah kebijakan moneter global.
Investor juga menantikan rilis data inflasi AS pada Jumat, yang akan menjadi indikator penting bagi arah suku bunga bank sentral AS atau The Fed.
Dari dalam negeri, tekanan eksternal ini turut memperbesar tantangan fiskal. Ekonom menilai desain subsidi energi berbasis komoditas masih membuka celah konsumsi oleh kelompok mampu, sehingga distribusinya belum sepenuhnya tepat sasaran.
Bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dinilai masih dapat diakses tanpa pembatasan yang ketat. Akibatnya, kelompok yang berhak seperti nelayan justru berpotensi tidak mendapatkan pasokan yang memadai, sementara konsumsi oleh kelompok mampu tetap tinggi.
Lonjakan harga minyak global juga menjadi tekanan bagi APBN, mengingat Indonesia masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor BBM. Harga minyak yang telah melampaui asumsi APBN 2026 sebesar 70 dollar AS per barrel, bahkan mencapai kisaran 113 dollar AS per barrel, memperbesar beban subsidi dan kompensasi energi.
Kondisi ini membuat tekanan fiskal semakin nyata, terutama karena lonjakan harga tersebut berada lebih dari 60 persen di atas asumsi awal APBN. Di tengah situasi tersebut, ruang fiskal pemerintah dinilai semakin terbatas untuk meredam gejolak.
Penyesuaian harga BBM dipandang bukan pilihan ideal dalam jangka pendek, mengingat daya beli masyarakat yang masih lemah. Kebijakan tersebut berpotensi menambah tekanan terhadap perekonomian domestik.
Sebagai alternatif, pemerintah didorong untuk melakukan efisiensi belanja serta realokasi anggaran. Langkah itu diyakini lebih realistis untuk menjaga stabilitas fiskal di tengah tekanan harga energi global yang masih tinggi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang