Krisis Plastik, Kementerian UMKM Siapkan Rumput Laut Jadi Alternatif Nafta

Krisis Plastik, Kementerian UMKM Siapkan Rumput Laut Jadi Alternatif Nafta

Pemerintah Indonesia berencana mengganti nafta dengan rumput laut sebagai bahan baku plastik untuk mengatasi krisis pasokan akibat konflik geopolitik.

(Bisnis.Com) 09/04/26 16:56 186610

Bisnis.com, JAKARTA — Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) mulai menyiapkan strategi jangka panjang untuk mengurangi ketergantungan impor bahan baku plastik berbasis nafta dengan mendorong substitusi melalui pemanfaatan rumput laut.

Menteri UMKM Maman Abdurrahman mengatakan langkah tersebut merupakan respons atas terganggunya rantai pasok global akibat konflik geopolitik yang memengaruhi distribusi bahan baku plastik dari Timur Tengah.

“Bahan baku dari plastik itu kan, biji plastik itu kan nafta. Nah itu memang supply pasokannya sebagian besar didapat dari negara-negara Timur Tengah. Dengan adanya konflik ini tentunya terhambat, akhirnya makanya [plastik] naiknya signifikan,” kata Maman saat ditemui di Kantor Kementerian UMKM, Jakarta, Kamis (9/4/2026).

Maman menilai gangguan rantai pasok global saat ini justru membuka peluang baru bagi pelaku usaha, khususnya UMKM di daerah penghasil rumput laut.

Menurutnya, pemerintah ke depan akan mendorong pengurangan penggunaan plastik sekaligus mengarahkan peralihan ke bahan yang lebih ramah lingkungan. Salah satu opsi yang tengah dijajaki adalah pengembangan plastik berbahan baku rumput laut.

Saat ini, pemerintah tengah melakukan pembahasan dan penjajakan terkait pengembangan bahan baku tersebut bersama Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan Kementerian Perdagangan (Kemendag).

Maman menilai, apabila kebijakan diarahkan untuk mendukung substitusi bahan baku dari nafta ke rumput laut, maka biaya produksi berpotensi menjadi lebih efisien.

Dia juga menyebut sudah ada sejumlah usaha kecil dan menengah (UKM) yang memproduksi plastik berbasis rumput laut, meskipun skalanya masih terbatas. Karena itu, pemerintah akan mendorong peningkatan kapasitas produksi agar industri tersebut dapat berkembang lebih luas.

“Ini peluang sebetulnya, di satu sisi ada sebuah permasalahan, tapi di sisi lain ada sebuah peluang usaha yang memang bisa dioptimalisasi oleh teman-teman UMKM di Indonesia,” ucapnya.

Sebelumnya, Ketua Umum Asosiasi Produsen Plastik Hilir Indonesia (Aphindo) Henry Chevalier mengatakan kemampuan industri petrokimia dalam negeri baru mampu memenuhi sekitar 50%–60% kebutuhan bahan baku. Artinya, sekitar 40%–50% sisanya masih bergantung pada impor, terutama dari Timur Tengah dan sebagian dari China.

Henry menjelaskan potensi penutupan Selat Hormuz membuat pelaku usaha tidak berani melakukan kontrak dengan pelanggan karena kelangkaan pasokan menjadi persoalan utama, meskipun perusahaan masih memiliki kemampuan finansial.

Menurutnya, kondisi tersebut juga diperparah oleh force majeure dari industri hulu akibat konflik di Timur Tengah, yang menyebabkan pasokan kerap dipangkas hingga 50% meskipun kontrak telah disepakati sebelumnya.

Di sisi lain, Henry menyebut impor bahan baku plastik kini ikut terganggu karena perusahaan asuransi enggan menanggung pengiriman melalui Selat Hormuz, sehingga pelayaran juga menahan risiko.

Sementara itu, negara pemasok di Asia seperti China, Thailand, dan Vietnam disebut lebih memprioritaskan kebutuhan domestik dan membatasi ekspor. Akibatnya, selain terjadi kelangkaan pasokan, harga bahan baku plastik juga melonjak hingga 40%–50%.

Tekanan tersebut pada akhirnya turut memengaruhi keberlangsungan produksi dan kemampuan perusahaan dalam mempertahankan tenaga kerja. Bahkan, sejumlah pelaku industri mulai menunjukkan indikasi pengurangan pekerja, meskipun masih dalam tahap awal.

“Ada beberapa yang mungkin mereka sudah mengarah ke sana [PHK]. Tapi, karena mereka masih punya modal, kita coba survive dulu ya. Tapi, arah ke sana [PHK] itu sudah ada beberapa industri kita yang sudah mengarah ke sana. Industri plastik hilirnya, yang kita sebagai pengguna bahan baku plastik,” paparnya.

#krisis-plastik #bahan-baku-plastik #rumput-laut #pengganti-nafta #substitusi-plastik #rantai-pasok-global #konflik-geopolitik #plastik-ramah-lingkungan #umkm-rumput-laut #produksi-plastik #industri-pl

https://ekonomi.bisnis.com/read/20260409/12/1965451/krisis-plastik-kementerian-umkm-siapkan-rumput-laut-jadi-alternatif-nafta