Harga Plastik Dunia Makin Mahal, Efek Domino Krisis Energi

Harga Plastik Dunia Makin Mahal, Efek Domino Krisis Energi

Tak cuma di Indonesia, harga plastik global mengalami lonjakan tajam dalam beberapa pekan terakhir.

(Kompas.com) 10/04/26 18:40 188016

JAKARTA, KOMPAS.com – Tak cuma di Indonesia, harga plastik global mengalami lonjakan tajam dalam beberapa pekan terakhir.

Harga plastik naik dipicu oleh kombinasi gangguan pasokan bahan baku, kenaikan harga energi, dan dampak konflik geopolitik di Timur Tengah.

Kenaikan harga plastik tidak hanya terjadi di satu kawasan, melainkan bersifat global dan berdampak luas terhadap industri manufaktur hingga barang konsumsi.

KOMPAS.COM/ASIP HASANI Toko Plastik TIktop di kompleks Pasar Legi, Kota Blitar, Kamis (9/4/2026)

Ketergantungan tinggi pada minyak dan gas

Plastik merupakan produk turunan dari bahan bakar fosil, terutama minyak dan gas. Hampir seluruh produksi plastik dunia, yakni lebih dari 99 persen, bergantung pada bahan baku petrokimia.

MIT Technology Review mencatat, produksi plastik saat ini menyumbang sekitar 5 persen emisi karbon dioksida global. Hal ini menunjukkan keterkaitan erat antara industri plastik dan sektor energi berbasis fosil.

Dalam kehidupan sehari-hari, penggunaan plastik sangat luas, mulai dari serat pakaian, perangkat elektronik, hingga peralatan rumah tangga. Ketergantungan ini membuat fluktuasi harga energi langsung memengaruhi biaya produksi plastik.

Gangguan Selat Hormuz dan lonjakan harga plastik global

Lonjakan harga plastik tidak terlepas dari konflik Iran yang mengganggu distribusi energi global, terutama di Selat Hormuz.

Dikutip dari Reuters, Jumat (10/4/2026), gangguan pasokan minyak dan petrokimia melalui jalur tersebut telah memperketat pasokan bahan kimia global dan mendorong harga plastik dan polimer ke level tertinggi dalam sekitar empat tahun terakhir.

KOMPAS.com/SAKINA RAKHMA DIAH SETIAWAN Tak cuma di Indonesia, harga plastik global mengalami lonjakan tajam dalam beberapa pekan terakhir.

Sekitar 20 miliar dollar AS hingga 25 miliar dollar AS produk petrokimia melintasi Selat Hormuz setiap tahun, atau setara sekitar Rp 341,96 triliun hingga Rp 427,45 triliun (asumsi kurs Rp 17.098 per dollar AS).

“Siapa pun yang mengimpor dari Timur Tengah, yang pada dasarnya mencakup hampir semua orang di seluruh dunia, telah kehilangan pemasok besar dan harus berupaya keras mencari resin pengganti dengan harga yang jauh lebih tinggi," ujar Joel Morales dari Chemical Market Analytics by OPIS.

Selain itu, Timur Tengah menyumbang lebih dari 40 persen ekspor polyethylene global pada 2025 dan memasok hampir seluruh kawasan di luar Amerika Utara.

Harga minyak dan bahan baku melonjak

Harga minyak mentah dalam beberapa pekan terakhir sangat fluktuatif dan sempat menembus lebih dari 100 dollar AS per barrel atau sekitar Rp 1,71 juta per barrel.

Kenaikan ini berdampak langsung pada bahan baku petrokimia, termasuk nafta, yang digunakan untuk memproduksi plastik.

Penutupan Selat Hormuz diperkirakan mengganggu sekitar 1,2 juta barrel per hari (bph) ekspor nafta global, sehingga memperketat pasokan bahan baku industri petrokimia.

Data LSEG menunjukkan margin penyulingan nafta di Asia melonjak dari sekitar 108 dollar AS per ton (sekitar Rp 1,84 juta) sebelum konflik menjadi lebih dari 400 dollar AS per ton (sekitar Rp 6,84 juta), atau meningkat lebih dari tiga kali lipat dan mencetak rekor tertinggi.

Maksim Sonin dari Stanford University mengatakan lonjakan ini mencerminkan peningkatan premi risiko, terutama di Asia yang sangat bergantung pada nafta sebagai bahan baku utama plastik.

Harga polyethylene (PE) dan polypropylene (PP) melonjak

Kenaikan biaya bahan baku langsung tercermin pada harga plastik.

KOMPAS.com/ SHINTA DWI AYU UMKM terpaksa menaikan harga dagangannya karena harga plastik terus meroket.

Reuters melaporkan harga polyethylene (PE) dan polypropylene (PP) meningkat tajam sejak konflik Timur Tengah dimulai, seiring kenaikan harga minyak dan bahan baku.

Di Dalian Commodity Exchange, harga polyethylene melonjak hampir 37 persen sejak akhir Februari 2026, sementara harga polypropylene naik lebih dari 38 persen dalam periode yang sama.

“Logistik global menjadi tidak pasti, dengan hingga 50 persen pasokan polietilen terhenti, terbatas, atau terpengaruh setelah peristiwa di Timur Tengah," tutur CEO Dow Jim Fitterling.

MIT Technology Review juga mencatat kenaikan harga polypropylene terutama di Asia, yang digunakan untuk berbagai kebutuhan mulai dari kemasan makanan hingga komponen otomotif.

Dampak ke industri dan konsumen

Kenaikan harga plastik mulai dirasakan di berbagai sektor industri.

Reuters melaporkan produsen botol air terbesar di India menaikkan harga sebesar 11 persen setelah biaya kemasan meningkat lebih dari 70 persen.

Kenaikan harga juga berpotensi meluas ke produk lain seperti mainan dan barang konsumsi, seiring tekanan pada rantai pasok.

MIT Technology Review mencatat produsen umumnya memiliki stok cadangan, namun persediaan tersebut diperkirakan akan habis dalam beberapa pekan jika gangguan berlanjut.

Tekanan berbeda antar kawasan

Produsen plastik di Asia dan Eropa menghadapi tekanan paling besar karena ketergantungan pada impor bahan baku dan pasokan dari Timur Tengah.

Ilustrasi kantong plastik.

Reuters melaporkan produsen di kawasan tersebut mengalami kenaikan biaya input dan margin yang tertekan.

Perusahaan LyondellBasell menyebut lonjakan harga nafta menciptakan ketidaksesuaian dengan harga kontrak, sehingga produsen kesulitan meneruskan kenaikan biaya ke pelanggan.

Sebaliknya, Amerika Utara berada dalam posisi lebih menguntungkan.

Hal ini karena industri petrokimia di kawasan tersebut lebih banyak menggunakan bahan baku berbasis gas alam, bukan nafta.

Chief Financial Officer LyondellBasell, Agustin Izquierdo, mengatakan harga PE dan PP telah meningkat signifikan sejak konflik dimulai dan permintaan tetap kuat.

“Sudah jelas bahwa Amerika Utara merupakan wilayah yang diuntungkan dalam hal bahan baku, dan kami akan terus memanfaatkan hal itu ke depannya,” terang dia.

Dengan lebih dari 50 persen produksi polyethylene diekspor, produsen di Amerika Serikat disebut menikmati keuntungan di atas normal.

Ketergantungan tinggi dan alternatif terbatas

MIT Technology Review mencatat konsumsi plastik di Amerika Serikat mencapai lebih dari 250 kilogram per orang per tahun, jauh di atas rata-rata global sekitar 60 kilogram.

Secara global, produksi plastik mencapai lebih dari 431 juta metrik ton per tahun.

Namun, alternatif seperti plastik berbasis hayati masih sangat terbatas, hanya sekitar 0,5 persen dari total produksi dan diperkirakan baru mencapai 1 persen pada 2030.

Selain lebih mahal, plastik berbasis hayati juga menghadapi tantangan bahan baku dan potensi dampak terhadap sektor lain seperti pangan.

Sementara itu, metode daur ulang yang ada saat ini memiliki keterbatasan, baik dari sisi kualitas material maupun dampak lingkungan.

Shutterstock Ilustrasi kantong plastik.

Dampak meluas ke ekonomi global

Kenaikan harga plastik terjadi bersamaan dengan lonjakan harga energi, sehingga dampaknya saling memperkuat.

Plastik digunakan dalam berbagai sektor, mulai dari kemasan hingga peralatan medis, sehingga kenaikan harga plastik berpotensi memengaruhi harga barang konsumsi secara luas.

MIT Technology Review mencatat bahwa ketergantungan tinggi terhadap plastik berbasis fosil membuat perubahan menuju alternatif menjadi jauh lebih kompleks dibandingkan sektor energi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#plastik #indepth #selat-hormuz #harga-plastik #harga-plastik-naik #kenaikan-harga-plastik

https://money.kompas.com/read/2026/04/10/184030826/harga-plastik-dunia-makin-mahal-efek-domino-krisis-energi