Mahasiswa Rentan Salah Kelola Keuangan, Industri Fintech Dorong Edukasi
Kalangan mahasiswa dinilai masih menjadi kelompok yang rentan mengalami kesalahan dalam pengelolaan keuangan.
(Kompas.com) 10/04/26 20:04 188077
JAKARTA, KOMPAS.com — Kalangan mahasiswa dinilai masih menjadi kelompok yang rentan mengalami kesalahan dalam pengelolaan keuangan, terutama terkait penggunaan layanan pinjaman daring.
Minimnya pemahaman mengenai risiko, bunga, biaya, hingga konsekuensi keterlambatan pembayaran disebut dapat berdampak pada kondisi finansial jangka panjang.
Kondisi tersebut menjadi perhatian industri financial technology (fintech), termasuk Kredit Pintar, yang berpartisipasi dalam program edukasi bertajuk Pindar Mengajar: Cerdas Mengelola, Bijak Bertransaksi.
SHUTTERSTOCK/HARIPRASETYO Ilustrasi pinjaman online atau pinjol. Pinjol adalah. Apa itu pinjol. Pengertian pinjol.Program ini diselenggarakan oleh Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia sebagai bagian dari upaya meningkatkan literasi keuangan, khususnya terkait pendanaan digital di Indonesia.
Kegiatan ini berlangsung pada Rabu (8/4/2026) di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Riau, Pekanbaru, Riau. Program tersebut melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari regulator, asosiasi industri, hingga institusi pendidikan.
Head of Brand & Communications Kredit Pintar, Puji Sukaryadi, mengatakan edukasi keuangan menjadi hal penting bagi mahasiswa agar mampu membangun kebiasaan finansial yang sehat sejak dini.
“Kami melihat pentingnya program edukasi ini bagi kalangan mahasiswa sehingga ke depannya program ini diharapkan dapat memberikan manfaat nyata bagi mahasiswa dalam membangun kebiasaan finansial yang sehat sejak dini, dapat meningkatkan pemahaman tentang pengelolaan keuangan yang bijak dan pemanfaatan layanan pindar secara bertanggung jawab,” ujar Puji dalam keterangan resmi, Jumat (10/4/2026).
FREEPIK/VECTORJUICE Ilustrasi pinjaman online, pinjol, pinjaman daring.Kolaborasi lintas pemangku kepentingan
Program edukasi ini turut dihadiri oleh sejumlah pemangku kepentingan, antara lain Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Riau Alvi Furwanti Alwie, Kepala Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Riau Triyoga Laksito, serta Direktur Eksekutif AFPI Yasmine Meylia.
Dalam sambutannya, para pemangku kepentingan menekankan pentingnya kolaborasi antara regulator, asosiasi, pelaku industri, dan institusi pendidikan dalam membangun ekosistem keuangan digital yang sehat, transparan, dan bertanggung jawab.
Kolaborasi tersebut dinilai menjadi kunci dalam menghadapi perkembangan layanan keuangan berbasis teknologi yang semakin pesat.
Selain membuka akses pembiayaan yang lebih luas, layanan ini juga membawa risiko jika tidak diimbangi dengan pemahaman yang memadai dari pengguna, khususnya generasi muda.
Pentingnya literasi keuangan bagi mahasiswa
Pada sesi talkshow, Head of Risk Kredit Pintar Revana Aryani menegaskan bahwa pemahaman keuangan merupakan fondasi penting dalam mencapai kemandirian finansial.
“Memahami cara mengelola uang adalah langkah awal menuju hidup yang lebih tenang. Dengan literasi yang baik, mahasiswa tidak mudah terjebak penawaran yang menyesatkan, dapat meminjam sesuai kemampuan, serta menjaga kesehatan finansialnya,” ujar Revana.
Ia juga mengingatkan lima hal penting yang perlu diperhatikan sebelum mengambil pinjaman, yaitu meminjam sesuai kebutuhan, memastikan cicilan sesuai kemampuan, memahami bunga dan biaya, memilih platform yang berizin dan diawasi OJK, serta membayar tepat waktu.
Menurut Revana, langkah-langkah tersebut menjadi dasar bagi mahasiswa agar dapat memanfaatkan layanan keuangan digital secara bijak dan bertanggung jawab.
Edukasi yang dilakukan Kredit Pintar merupakan bagian dari kampanye #TemanAturUang yang ditujukan untuk meningkatkan literasi keuangan di kalangan generasi muda.
“Melalui kampanye #TemanAturUang, Kredit Pintar terus berkomitmen menghadirkan edukasi yang mudah dipahami dan relevan bagi generasi muda agar menjadi pengguna layanan keuangan yang cerdas dan bertanggung jawab,” kata Revana.
Program ini tidak hanya memberikan pemahaman dasar mengenai pengelolaan keuangan, tetapi juga memperkenalkan cara mengenali jenis pinjaman serta risiko yang melekat pada setiap produk keuangan digital.
Sebagai anggota AFPI, Kredit Pintar menyatakan dukungannya terhadap berbagai inisiatif literasi keuangan yang melibatkan perguruan tinggi di berbagai daerah.
Upaya ini menjadi bagian dari strategi industri untuk memperkuat perlindungan konsumen sekaligus mendorong penggunaan layanan keuangan yang lebih sehat.
Peran fintech dalam inklusi keuangan
Dalam keterangannya, Kredit Pintar menilai literasi keuangan sebagai fondasi utama dalam menciptakan ekosistem keuangan digital yang berkelanjutan.
“Kredit Pintar percaya bahwa literasi adalah fondasi utama dalam menciptakan ekosistem keuangan digital yang berkelanjutan, khususnya di kalangan generasi muda sebagai agen perubahan ekonomi di masa depan,” ujar Puji.
Di sisi lain, perkembangan fintech lending atau pendanaan bersama berbasis teknologi informasi (LPBBTI) dinilai telah membuka akses pembiayaan bagi masyarakat yang sebelumnya sulit menjangkau layanan keuangan formal.
Namun, peningkatan akses tersebut perlu diimbangi dengan edukasi agar masyarakat tidak terjebak dalam penggunaan pinjaman yang tidak sesuai dengan kemampuan finansialnya.
Kinerja dan penyaluran pinjaman
Kredit Pintar mencatat telah diunduh sebanyak 36 juta kali.
Untuk wilayah Riau, total penyaluran pinjaman yang telah dikucurkan mencapai Rp 41,7 miliar. Angka tersebut merupakan bagian dari total penyaluran di Pulau Sumatra yang mencapai Rp 281,6 miliar.
Dengan capaian tersebut, Riau menempati peringkat keempat sebagai provinsi dengan penyaluran pinjaman Kredit Pintar tertinggi di Pulau Sumatra.
Sepanjang tahun 2025, Kredit Pintar membukukan penyaluran pinjaman lebih dari Rp 9,5 triliun. Sementara sejak berdiri pada 2017, total akumulasi pinjaman yang telah disalurkan mencapai lebih dari Rp 62,3 triliun.
Perusahaan menyebut capaian tersebut mencerminkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap layanan yang disediakan, sekaligus menjadi tanggung jawab dalam menghadirkan akses pembiayaan yang inklusif dan terkelola dengan baik.
Edukasi sebagai bagian dari perlindungan konsumen
Program edukasi menjadi salah satu upaya industri dalam memperkuat perlindungan konsumen di tengah pertumbuhan layanan keuangan digital.
Melalui edukasi, mahasiswa diharapkan dapat memahami risiko serta manfaat dari penggunaan layanan pinjaman daring, sehingga mampu mengambil keputusan finansial yang lebih tepat.
Selain itu, pemahaman mengenai pentingnya memilih platform yang berizin dan diawasi oleh OJK juga menjadi bagian penting dalam mencegah praktik pinjaman ilegal yang merugikan masyarakat.
Program ini menjadi bagian dari rangkaian inisiatif literasi keuangan yang melibatkan berbagai pihak dalam upaya meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap layanan keuangan digital di Indonesia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang#pengelolaan-keuangan #kondisi-finansial #kredit-pintar #pinjaman-daring