Menelisik Penyebab Lesunya Pembiayaan Investasi Multifinance saat Industri Tumbuh
Pembiayaan investasi multifinance turun 2,89% pada Februari 2026 karena kehati-hatian pelaku usaha di tengah dinamika ekonomi global dan domestik.
(Bisnis.Com) 16/04/26 18:11 193680
Bisnis.com, JAKARTA — Kinerja pembiayaan investasi menjadi satu-satunya jenis bisnis yang melemah di tengah pertumbuhan industri multifinance. Ini alasannya.
Menilik data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per Februari 2026, pembiayaan investasi menjadi satu-satunya jenis pembiayaan yang mencatatkan pelemahan. Hal ini berbeda dengan pembiayaan multiguna dan modal kerja yang justru kompak bertumbuh.
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, LKM dan LJK Lainnya OJK Agusman menyampaikan pembiayaan investasi pada Februari 2026 memiliki porsi 32,79% terhadap total portofolio industri pembiayaan.
“Dengan kinerja terkontraksi 2,89% [year on year/YoY] menjadi Rp167,92 triliun,” katanya dalam lembar jawaban RDK OJK Maret 2026, dikutip pada Kamis (16/4/2026).
Agusman turut menyebut pembiayaan industri multifinance pada periode itu didominasi oleh pembiayaan multiguna dengan porsi 50,22% dan tumbuh 1,28% (YoY) menjadi Rp257,17 triliun.
Sementara itu, lanjutnya, pembiayaan modal kerja berkontribusi sebesar 10,67% terhadap total portofolio industri dan tumbuh 8,31% (YoY) menjadi Rp54,63 triliun.
“Ke depan, pembiayaan multiguna diperkirakan tetap menjadi penopang utama pertumbuhan industri multifinance,” tutur Agusman.
Lebih lanjut, OJK melihat peluang bisnis baru di industri multifinance terus berkembang dan dapat didorong selama sesuai dengan ketentuan yang berlaku, termasuk melalui diversifikasi pembiayaan.
Adapun untuk menjaga kualitas pembiayaan, khususnya di segmen UMKM, Agusman mendorong industri multifinance memperkuat prinsip kehati hatian antara lain melalui analisis kredit yang lebih komprehensif, pengelolaan portofolio yangprudent,sertasistemmonitoringyang kuat.
“Industri multifinance diperkirakan tetap tumbuh positif, yang didukung antara lain dinamika konsolidasi dan investasi di sektor ini,” tegasnya.
Penyebab Pembiayaan Investasi Turun
PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk. (ADMF) atau Adira Finance berpandangan perlambatan pembiayaan investasi di industri tidak lepas dari prinsip kehati-hatian pelaku usaha dalam melakukan ekspansi.
Chief Financial Officer (CFO) Adira Finance Sylvanus Gani mengatakan di tengah dinamika ekonomi global dan domestik, para pelaku usaha cenderung lebih selektif dalam melakukan belanja modal, sejalan dengan upaya efisiensi operasional serta tekanan terhadap biaya produksi.
“Dalam kondisi seperti ini, keputusan investasi umumnya menjadi lebih terbatas karena sangat bergantung pada prospek permintaan pasar dan kemampuan dunia usaha menjaga profitabilitas,” jelasnya kepadaBisnis.
Sebab demikian, Adira Finance melihat tantangan utama penyaluran pembiayaan investasi ke depannya masih berasal dari kondisi makroekonomi yang cenderung dinamis, baik dari sisi global maupun domestik.
Tidak hanya itu, Gani berujar daya beli masyarakat menjadi poin penting bagi para pelaku usaha. Jika daya beli melemah dan permintaan pasar melambat, pelaku usaha biasanya akan lebih berhati-hati dalam menambah kapasitas atau melakukan pembelian aset produktif baru.
“Untuk menghadapi kondisi tersebut, Perusahaan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian, fokus pada kualitas pembiayaan, serta secara selektif melihat peluang pada segmen-segmen yang masih memiliki fundamental usaha yang baik dan kebutuhan pembiayaan yang sehat,” jelasnya.
Lebih lanjut, dia menyampaikan pembiayaan investasi Adira Finance mencapai sekitar Rp1,8 triliun pada kuartal I/2026. Nilai ini tumbuh positif secara tahunan, yaknidouble digit growth.
Adapun, imbuh Gani, dari sisi komposisi, pembiayaan investasi berkontribusi sekitar 15% terhadap total portofolio Perusahaan.
Sementara itu, PT CIMB Niaga Auto Finance (CNAF) mencatat pada kuartal I/2026 kenaikan piutang pembiayaan investasi senilai Rp821 miliar atau sebesar 3% (YoY). Piutang pembiayaan investasi ini berkontribusi 8% dari Rp10,87 triliun total piutang pembiayaan CNAF pada kuartal I/2026.
“Tren piutang pembiayaan investasi di CNAF dapat dikatakan cukup resilien mengingat kuartal I/2026 industri dihadapkan dengan tendensi geopolitik yang bergejolak dan bahkan masih berlanjut sampai sekarang,” kata Presiden Direktur CNAF Ristiawan Suherman kepadaBisnis.
Adapun, imbuhnya, pembiayaan investasi di CNAF mayoritas digunakan oleh nasabah untuk pembelian asset (kendaraan) yang dapat menunjang kegiatan produktif.
Dia menilai turunnya pembiayaan investasi secara industri salah satunya disebabkan oleh faktor eksternal seperti ketidakpastian kondisi ekonomi global yang memengaruhi sikap para pelaku bisnis dan investor untuk menunda atau menahan ekspansi bisnisnya.
Tantangan Salurkan Pembiayaan Investasi
Lebih lanjut, Ristiawan tidak menampik di tengah kondisi ekonomi saat ini ada tantangan yang harus dihadapi dalam menyalurkan pembiayaan investasi. Tantangan ini didorong oleh faktor turunnya daya beli masyarakat yang dapat berimbas kepada kemampuan daya bayar.
“Namun, CNAF telah menyusun langkah strategis untuk menghadapi kondisi tersebut seperti melakukan diversifikasi portofolio agar tidak terkonsentrasi pada satu pembiayaan tertentu,” tegasnya.
Selain itu, Ristiawan mengungkapkan bahwa CNAF berupaya untuk mengoptimalkan peluang penyaluran pembiayaan dengan berkolaborasi bersama induk usaha melalui berbagai program.
“Antara lain melakukancross sellingagar pertumbuhan bisnis CNAF tetap sehat dan berkelanjutan,” ucapnya.
Sementara itu, PT BRI Multifinance Indonesia (BRI Finance) mengungkapkan tantangan yang dihadapi adalah berupa kehati-hatian pelaku usaha dalam ekspansi, kondisi ekonomi yang dinamis, serta faktor suku bunga yang memengaruhi permintaan pembiayaan investasi.
“Untuk mengatasinya, perusahaan mengedepankan prinsip kehati-hatian, selektivitas dalam penyaluran, serta penguatan analisis kredit dan monitoring portofolio, guna menjaga kualitas pembiayaan tetap sehat,” kata Corporate Secretary Aditia Fakhri Ramadhani kepadaBisnis.
Lebih lanjut, Aditia menilai penurunan pembiayaan investasi oleh industri multifinance pada Februari 2026 itu dipengaruhi oleh sikap perusahaan yang lebih berhati-hati dalam penyaluran pembiayaan.
Menurutnya, hal itu seiring dengan upaya menjaga kualitas portofolio di tengah dinamika pasar. Pendekatan ini dilakukan dengan lebih selektif dalam melihat profil risiko dan kelayakan debitur, sehingga penyaluran pembiayaan investasi cenderung menyesuaikan.
“Meski demikian, segmen ini tetap memiliki prospek yang positif dan akan terus dioptimalkan secara bertahap,” sebutnya.
Lebih jauh, dia juga menyampaikan pembiayaan investasi BRI Finance menunjukkan penyesuaian secara terukur sejalan dengan dinamika pasar dan strategi pengelolaan portofolio yang lebih selektif.
“Pembiayaan investasi berkontribusi sebesar 34,32% terhadap total portofolio pembiayaan perusahaan,” tutur Aditia.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai tren penurunan pembiayaan investasi bisa berlanjut karena terpengaruh oleh naiknya biaya produksi karena gejolak perang Iran, melemahnya daya beli dan sentimen melambatnya ekspansi industri manufaktur.
“Jadi tidak bisa dibilang sementara, ini sifatnya mulai persisten atau berlanjut,” ucapnya kepadaBisnis.
Oleh karena itu, ekonom tersebut berpandangan bahwa industri pembiayaan sedang menahan ekspansi, mitigasi risiko yang lebih besar karenaviewbeberapa bulan ke depan guncangan harga energi akan diteruskan ke pelaku usaha.
Adapun, Bhima turut melihat segmen pembiayaan investasi yang terdampak adalah sektor mesin industri. Apabila permintaan domestik dan ekspor melambat, efeknya ke investasi mesin dan teknologi ikut melemah.
“Sektor berikutnya adalah kendaraan niaga, terlebih faktor insentif yang timpang antara mobil niaga di kawasan industri dengan mobil niaga non kawasan industri. Misalnya di smelter nikel, banyak kendaraan komersial yang tercatat sebagai barang modal sehingga bebas pajak,” pungkasnya.
#pembiayaan-investasi #multifinance #ojk #pembiayaan-multiguna #modal-kerja #industri-pembiayaan #adira-finance #daya-beli-masyarakat #ekonomi-global #diversifikasi-pembiayaan #analisis-kredit #portofo