Digital Realty Bersama Proyeksi Kebutuhan Data Center AI di RI Naik Dua Kali Lipat

Digital Realty Bersama Proyeksi Kebutuhan Data Center AI di RI Naik Dua Kali Lipat

Digital Realty Bersama memproyeksikan kebutuhan data center AI di Indonesia meningkat dua kali lipat tahun ini, mencapai 1.000 MW, meski masih tertinggal dari negara tetangga.

(Bisnis.Com) 22/04/26 17:31 199498

Bisnis.com, JAKARTA — Digital Realty Bersama, perusahaan patungan (joint venture) penyedia solusi infrastruktur data center, kolokasi, dan interkoneksi, memperkirakan pertumbuhan data center yang siap dukung kecerdasan buatan (AI) meningkat hingga dua kali lipat pada tahun ini.

Saat ini kapasitas data center AI yang telah terpakai diprediksi sekitar 500 megawatt (MW). Artinya, akan ada peningkatan lagi menjadi 1.000 MW.

Director Business & Commercial Digital Realty Bersama Andha Yudha Permana, mengatakan perkembangan ini masih tertinggal dibandingkan negara tetangga seperti Johor Bahru, Malaysia, yang lebih dulu mengalami booming AI dengan kapasitas mencapai lebih dari 1.000 MW.

Yudha menjelaskan sebagian besar data center yang mengadopsi AI di Indonesia justru berada di luar Jakarta, seperti di Cibitung, Karawang, dan kawasan lainnya. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan lahan dan struktur bangunan di dalam kota yang tidak mendukung kebutuhan infrastruktur AI.

“Untuk menjalankan AI workload dibutuhkan ruang yang besar. Satu rack GPU beratnya bisa mencapai sekitar 2 ton, sehingga jika ditumpuk ke atas akan terlalu berat,” jelas Yudha dalam acara media gathering eksklusif di fasilitas data center CGK11, Rabu (22/4/2026).

Dia juga menambahkan, kapasitas 500 MW tersebut berpotensi meningkat hingga dua kali lipat pada akhir tahun ini seiring dengan meningkatnya permintaan.

Sementara itu, data center yang berada di dalam kota seperti Jakarta akan lebih difokuskan untuk melayani pelanggan enterprise, seperti sektor perbankan dan layanan keuangan yang membutuhkan latensi rendah.

“Kenapa harus di dalam kota? Karena membutuhkan latensi yang rendah,” ujarnya.

Latensi rendah menjadi krusial agar aplikasi dapat berjalan dengan cepat. Lokasi data center yang dekat dengan pengguna akan meningkatkan kualitas pengalaman pengguna, terutama untuk layanan yang bersifat real time.

Secara umum, prospek bisnis data center di Indonesia kini mulai bergeser ke workload besar, khususnya kebutuhan di atas 20 kilowatt yang hampir pasti digunakan untuk AI. Selain itu, sekitar 60% pengguna baik individu maupun perusahaan telah mulai mengadopsi AI dalam aktivitas sehari-hari.

Meski demikian, industri ini masih menghadapi sejumlah tantangan. Chief Financial Officer Digital Realty Bersama Krishna Worotikan, menyebutkan tantangan utama terletak pada ketersediaan daya listrik dan kesiapan infrastruktur untuk mengimbangi pertumbuhan permintaan.

Kebutuhan daya untuk AI jauh lebih besar dibandingkan komputasi tradisional. Selain konsumsi listrik yang tinggi, data center AI juga memerlukan sistem pendinginan yang lebih canggih, seperti liquid cooling.

“AI compute power itu bisa sampai sepuluh kali lipat dibandingkan komputasi tradisional,” ujar Krishna.

Di negara yang lebih maju, AI tidak hanya digunakan untuk kebutuhan dasar, tetapi juga telah dimanfaatkan dalam proses kreatif hingga pengambilan keputusan.

Sementara di Indonesia, adopsi AI masih berada pada tahap awal dengan tingkat kepercayaan yang belum sepenuhnya tinggi. Oleh karena itu, edukasi pasar menjadi penting agar pemanfaatan AI dapat memberikan nilai tambah dan meningkatkan produktivitas.

Digital Realty Bersama Proyeksi Kebutuhan Data Center AI di RI Naik Dua Kali Lipat

Tingkat Utilisasi dan Rencana Ekspansi

Dari sisi operasional, fasilitas data center Digital Realty Bersama di CGK11 memiliki kapasitas total 5 MW dengan tingkat utilisasi saat ini sekitar 60%. Melihat tingginya permintaan, perusahaan berencana melakukan ekspansi dengan menambah kapasitas sekitar 27 MW di area yang telah disiapkan.

Terkait kesiapan AI, infrastruktur yang ada pada dasarnya sudah mampu mendukung kebutuhan tersebut termasuk penggunaan GPU, meskipun masih memerlukan beberapa penyesuaian.

Data center ini mulai dibangun pada 2023 dan rampung pada Oktober 2024, di mana pada saat itu fokus teknologi masih pada layanan public cloud dan hyperscaler. Adopsi AI khususnya layanan GPU, saat itu masih berada pada tahap awal.

Ke depan, fasilitas ini akan ditingkatkan menjadi AI ready dengan waktu penyesuaian sekitar empat bulan. Perubahan utama terletak pada sistem pendinginan, di mana kebutuhan daya AI berkisar antara 20 hingga 100 kilowatt per rack.

Karena itu, sistem pendinginan tidak lagi menggunakan AC konvensional, melainkan liquid cooling yang mampu mendinginkan hingga ke tingkat chip dengan cairan yang mengalir langsung di dalam rack.

Dalam aspek keberlanjutan, Digital Realty Bersama juga telah bekerja sama dengan PLN dan memperoleh Renewable Energy Certificate (REC). Sertifikat ini menjamin sumber listrik yang digunakan berasal dari energi ramah lingkungan. (Nur Amalina)

#data-center #ai-indonesia #digital-realty #kebutuhan-data-center #pertumbuhan-ai #kapasitas-data-center #latensi-rendah #ai-workload #gpu-rack #liquid-cooling #ai-compute-power #adopsi-ai #ekspansi-da

https://teknologi.bisnis.com/read/20260422/101/1968552/digital-realty-bersama-proyeksi-kebutuhan-data-center-ai-di-ri-naik-dua-kali-lipat