Jaga Target Program MBG, Konsumsi Sayur di RI Harus Naik 2 Kali Lipat

Jaga Target Program MBG, Konsumsi Sayur di RI Harus Naik 2 Kali Lipat

Program MBG merupakan langkah strategis yang tidak hanya berdampak jangka pendek, tetapi juga jangka panjang terhadap kualitas SDM RI.

(Kompas.com) 22/04/26 18:54 199602


JAKARTA, KOMPAS.com - Konsumsi sayur masyarakat Indonesia dinilai masih jauh dari angka ideal, sehingga perlu ditingkatkan secara signifikan, terutama untuk mendukung keberhasilan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Pakar pertanian, Bayu Krisnamurthi, menyebut konsumsi sayur nasional saat ini masih berada di bawah rekomendasi global. Berdasarkan riset Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), konsumsi sayur masyarakat Indonesia hanya sekitar 38,5 kilokalori per hari.

“Rekomendasi minimal itu sekitar 62,5 kilokalori. Artinya, konsumsi sayur di Indonesia itu harusnya naik dua kali lipat dibandingkan sekarang,” ujar Bayu di Jakarta, Rabu (22/4/2026).

Ia menjelaskan, pengukuran dalam bentuk kalori digunakan karena jenis sayuran sangat beragam. Dengan pendekatan tersebut, kebutuhan konsumsi dapat disetarakan secara lebih akurat. Bahkan, untuk kelompok tertentu seperti ibu hamil dan anak-anak, kebutuhan sayur lebih tinggi.

“Untuk ibu hamil bisa sampai 100 kilokalori, atau hampir tiga kali lipat. Anak-anak sekitar 75 kilokalori, jadi memang harus ditingkatkan,” jelasnya.

Meski demikian, Bayu melihat adanya sinyal positif dari sisi kesadaran masyarakat. Berdasarkan survei pada Juli 2025, sekitar 57 persen responden menyatakan bahwa meningkatkan pola makan sehat identik dengan menambah konsumsi sayur.

“Kesadaran masyarakat sudah ada. Sekitar 57 persen sampai 60 persen ingin menambah konsumsi sayur untuk hidup lebih sehat,” katanya.

Menurut Bayu, peningkatan konsumsi tersebut harus diiringi dengan penguatan sistem pangan sayuran (vegetable food system), mulai dari produksi hingga distribusi agar pasokan tetap terjaga.

Ia juga menilai program MBG merupakan langkah strategis yang tidak hanya berdampak jangka pendek, tetapi juga jangka panjang terhadap kualitas sumber daya manusia.

Program makan bergizi di sekolah telah terbukti secara global memberikan dampak ekonomi dan sosial yang besar.

“Program seperti MBG ini adalah investasi jangka panjang. Dampaknya bisa dirasakan 15 sampai 20 tahun ke depan, ketika anak-anak tumbuh menjadi tenaga kerja yang lebih produktif,” ujarnya.

Bayu menekankan bahwa paradigma pangan juga perlu berubah, dari sekadar komoditas menjadi sumber gizi. Dalam konteks ini, sayur memegang peran penting sebagai sumber serat dan vitamin yang tidak bisa tergantikan.

“Pangan itu bukan hanya soal karbohidrat, tapi harus lengkap, ada protein, serat, dan vitamin. Di situlah peran sayur menjadi sangat penting dan strategis,” tegasnya.

Sebagai informasi, MBG menjadi salah satu agenda strategis pemerintah dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia, dengan target menjangkau 82,9 juta penerima manfaat pada 2026.

Sasaran program ini mencakup kelompok rentan seperti siswa, ibu hamil dan menyusui, serta balita, yang dinilai membutuhkan intervensi gizi secara berkelanjutan.

Hingga Februari 2026, realisasi program telah mencapai lebih dari 61 juta penerima manfaat. Capaian ini didukung oleh pengoperasian ribuan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai daerah.

Saat ini tercatat sekitar 24.079 unit SPPG telah berjalan, dengan target ekspansi hingga 36.104 unit guna memperluas jangkauan layanan ke seluruh Indonesia.

Selain berdampak pada peningkatan kualitas gizi masyarakat dan penurunan angka stunting, program MBG juga memberikan efek ekonomi yang cukup besar.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#jakarta #konsumsi-sayuran #mbg

https://money.kompas.com/read/2026/04/22/185432026/jaga-target-program-mbg-konsumsi-sayur-di-ri-harus-naik-2-kali-lipat