IEA Wanti-wanti Krisis Energi Baru akibat Konflik Iran
Konflik Iran dan meningkatnya ketidakpastian di Selat Hormuz dinilai mendorong pasar energi global memasuki fase krisis baru.
(Kompas.com) 24/04/26 07:17 201262
JAKARTA, KOMPAS.com — Konflik Iran dan meningkatnya ketidakpastian di Selat Hormuz dinilai mendorong pasar energi global memasuki fase krisis baru yang dapat membentuk ulang arsitektur energi dunia.
Kepala Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) Fatih Birol memperingatkan, gejolak saat ini bahkan lebih berat dibanding krisis minyak 1970-an karena dampaknya meluas tidak hanya ke minyak, tetapi juga gas, pupuk, dan petrokimia.
Dalam wawancara yang dikutip dari Anadolu Ajansi, Jumat (24/4/2026), Birol menyebut sistem energi global saat ini berada dalam kondisi yang sangat rapuh.
Freepik Ilustrasi minyak bumi.“Kita hidup dalam situasi yang sangat rapuh. Ekonomi global saat ini bergantung pada sejumlah aktor yang sangat terbatas,” ujar Birol.
Menurut dia, konsentrasi pasokan energi global yang bergantung pada sedikit aktor utama membuat risiko gangguan menjadi semakin besar. Dalam konteks itu, volatilitas di Selat Hormuz dipandang sebagai salah satu ancaman paling serius bagi pasar energi dunia.
Sekitar 20 persen perdagangan minyak global melewati jalur tersebut. Karena itu, gangguan di titik itu dinilai dapat berdampak sistemik terhadap pasokan, harga, dan pertumbuhan ekonomi global.
Birol bahkan menggambarkan kerusakan akibat krisis saat ini berpotensi permanen.
“Vas itu pecah. Dan ketika vas pecah, Anda tidak dapat memperbaikinya sepenuhnya,” kata dia, menegaskan dampak krisis akan berlangsung panjang.
Krisis energi yang disebut lebih berat dari 1970-an
Peringatan IEA muncul ketika harga minyak kembali bergerak di atas 100 dollar AS per barrel, di tengah gangguan pasokan dan kekhawatiran pasar terhadap meluasnya konflik.
GETTY IMAGES via BBC INDONESIA Ilustrasi harga minyak dunia.Birol menilai krisis saat ini berbeda dari gejolak energi sebelumnya karena terjadi saat sistem perdagangan global makin terfragmentasi, sementara rantai pasok energi dan bahan baku industri saling terhubung erat.
“Hingga hari ini, kita telah kehilangan 13 juta barrel minyak per hari, dan terjadi gangguan besar pada komoditas vital,” papar Birol, dikutip dari CNBC.
Dalam pandangannya, dampak perang Iran bukan hanya soal lonjakan harga energi, melainkan membentuk ulang pasar energi global.
“Pasar sedang mengalami perubahan bentuk,” ujar Birol.
Menurut dia, krisis saat ini bahkan lebih berat dibanding oil shock 1973 dan 1979 karena tekanan tidak hanya terjadi pada minyak mentah, tetapi juga gas, pupuk, sulfur, dan petrokimia yang menopang banyak industri.
Perang di Ukraina sebelumnya, menurut Birol, telah lebih dulu mengubah aliran minyak dan gas global, khususnya di Eropa. Kini, konflik baru menambah volatilitas baru pada pasar yang belum sepenuhnya stabil.
Ia juga menyoroti Rusia yang tetap menjadi pemain penting di pasar energi global meski terkena sanksi, sehingga perubahan pola perdagangan justru menambah kompleksitas pasar.
Risiko inflasi dan pertumbuhan ekonomi melambat
Salah satu dampak utama yang dikhawatirkan IEA adalah tekanan inflasi yang kembali meningkat.
Birol memperingatkan lonjakan biaya energi berpotensi memperdalam inflasi sekaligus memperlambat pertumbuhan ekonomi global, terutama di negara berkembang.
SHUTTERSTOCK/MASSIMO VERNICESOLE Ilustrasi harga minyakIa menilai negara-negara berkembang, termasuk negara-negara di Afrika dan Asia Selatan, akan menghadapi tekanan lebih berat akibat tingginya ketergantungan pada impor energi dan sensitivitas terhadap kenaikan harga komoditas.
“Krisis ini dapat memperdalam inflasi dan memperlambat pertumbuhan global,” ujar Birol.
Peringatan itu sejalan dengan kekhawatiran krisis energi berpotensi memicu kembali risiko stagflasi, yakni ketika pertumbuhan ekonomi melemah tetapi tekanan harga tetap tinggi.
Menurut Birol, dampak energi selalu meluas jauh melampaui sektor bahan bakar, termasuk memukul biaya logistik, produksi, dan daya beli rumah tangga.
Untuk Eropa, ia menilai sejumlah negara seperti Perancis relatif lebih siap menghadapi guncangan, tetapi tetap akan menghadapi tekanan harga yang lebih tinggi dan pelemahan purchasing power masyarakat.
Selat Hormuz jadi titik risiko utama
Salah satu fokus utama IEA adalah risiko dari Selat Hormuz yang disebut menjadi pusat kerentanan pasar saat ini.
Birol menggambarkan situasi di jalur tersebut sebagai absurd tapi nyata, menandakan risiko yang mungkin terasa ekstrem namun nyata dihadapi pasar.
Jika gangguan di jalur itu berlanjut, bukan hanya minyak, tetapi juga LNG dan berbagai komoditas turunannya berpotensi terdampak.
Karena itu, menurut dia, dampaknya bisa jauh melampaui sektor energi dan menjalar ke industri pangan, manufaktur, dan perdagangan.
Birol juga menyinggung bahwa sensitivitas pasar kini bahkan dipengaruhi pernyataan politik dari aktor utama, termasuk Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, yang menurut dia ikut menambah ketidakpastian terkait perdagangan dan energi.
NASA EARTH OBSERVATORY via AFP Selat Hormuz saat dilihat dari Satelit Terra milik NASA pada 5 Februari 2025.“Ekonomi global saat ini bergantung pada sejumlah aktor yang sangat terbatas,” kata dia.
Pernyataan itu menegaskan tingginya konsentrasi risiko dalam rantai pasok energi global saat ini.
Pemulihan disebut butuh waktu bertahun-tahun
Di tengah kekhawatiran pasar atas gangguan berkepanjangan, Birol menilai stabilitas tidak akan mudah dipulihkan bahkan bila konflik mereda.
Menurut dia, infrastruktur energi yang terdampak dan volatilitas pasar bisa membutuhkan setidaknya dua tahun untuk menormalkan kondisi.
Ia menilai pemulihan pasokan tidak bersifat instan karena gangguan fisik maupun psikologis pasar bisa meninggalkan efek berkepanjangan.
“Dampak dari krisis saat ini akan berlangsung lama,” terangnya.
Pernyataan itu memperkuat pandangan bahwa krisis kali ini bukan sekadar shock jangka pendek, melainkan berpotensi mengubah strategi energi banyak negara dalam jangka panjang.
Krisis bisa percepat transisi energi
Di tengah tekanan pasar, Birol juga melihat sisi lain dari krisis ini, yakni kemungkinan percepatan transisi energi global.
Menurut dia, energi terbarukan, tenaga nuklir, dan kendaraan listrik berpotensi menjadi pihak yang diuntungkan karena negara-negara terdorong mengurangi ketergantungan pada pasokan energi yang rentan terganggu.
“Pertama-tama, saya memperkirakan tenaga nuklir akan mendapatkan dorongan. Energi terbarukan akan tumbuh sangat pesat, tenaga surya, angin, dan lainnya, (dan) saya memperkirakan mobil listrik akan mendapatkan manfaat dari hal ini,” katanya.
SHUTTERSTOCK/SMALL SMILES Ilustrasi batu bara."Bahan bakar fosil alternatif juga bisa kembali populer," imbuh dia.
Di beberapa negara, terang Birol, pihaknya memperkirakan batu bara juga akan mengalami peningkatan dan kembali naik, terutama di beberapa negara besar di Asia.
Birol menyebut krisis ini bisa memperkuat argumentasi untuk mempercepat investasi pada sistem energi yang lebih tangguh dan terdiversifikasi.
Namun, ia juga mengingatkan sebagian negara mungkin justru sementara meningkatkan penggunaan batu bara untuk menjaga keamanan pasokan.
Kondisi itu menunjukkan transisi energi bisa berjalan dengan arah yang tidak sepenuhnya linear.
Meski demikian, bagi IEA, krisis ini berpotensi menjadi momentum penting perubahan lanskap energi global.
“Pasar energi global tetap sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik,” ucap Birol.
Dalam pandangan IEA, sensitivitas itu bukan lagi fenomena sementara, melainkan cerminan dari pasar energi global yang memasuki era baru, lebih rapuh, lebih volatil, dan berpotensi lebih sering diguncang shock geopolitik.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang#selat-hormuz #bahan-bakar #harga-minyak #indepth #konflik-iran #krisis-minyak