Di Balik Skor Tinggi JP Morgan, Ketahanan Energi Indonesia Masih Bergantung Subsidi
Indonesia menempati posisi kedua dalam ketahanan energi global menurut JP Morgan, namun masih bergantung pada subsidi besar.
(Bisnis.Com) 27/04/26 14:33 203915
Bisnis.com, JAKARTA — Kepala Center of Food, Energy, and Sustainable Development (FESD) INDEF Abra Talattov mengingatkan agar pemerintah tak terlena dengan panji ketahanan energi.
Adapun label ketahanan energi itu tak lepas dari penilaian JP Morgan yang menempatkan Indonesia di posisi kedua tertinggi di dunia dengan ketahanan (resilience) tinggi terhadap guncangan harga energi global.
Abra menuturkan skor resilience sebesar 77% untuk Indonesia mencerminkan beberapa faktor pendorong yang penting seperti kebijakan subsidi energi yang masih berjalan, diversifikasi sumber energi, dan peran pemerintah dalam menjaga stabilitas harga di dalam negeri.
Namun, Abra mengingatkan bahwa capaian itu tidak boleh membuat RI terlena. Sebab, ketahanan energi yang tinggi saat ini sebagian masih ditopang oleh instrumen fiskal seperti subsidi dan kompensasi energi yang nilainya sangat besar setiap tahun.
"Artinya, resilience yang kita miliki masih bersifat costly resilience, karena bergantung pada kemampuan APBN untuk meredam gejolak harga. Jika tekanan global berlanjut dalam jangka panjang, maka beban fiskal ini bisa menjadi risiko tersendiri bagi keberlanjutan ketahanan energi nasional," jelas Abra kepada Bisnis dikutip Senin (27/4/2026).
Adapun alokasi anggaran subsidi dan kompensasi energi dalam APBN 2026 mencapai Rp381,3 triliun.
Dari total angka tersebut, pagu anggaran subsidi energi mencapai Rp210,06 triliun. Perinciannya, anggaran subsidi Jenis Bahan Bakar Tertentu (JBT) mencapai Rp25,14 triliun; subsidi LPG 3 kg mencapai Rp80,26 triliun; dan subsidi listrik sebanyak Rp104,64 triliun.
Abra pun menilai bahwa momentum gejolak pasar harus dimanfaatkan untuk memperkuat ketahanan energi yang lebih struktural dan berkelanjutan. Caranya, dengan mempercepat transisi energi, meningkatkan bauran energi baru terbarukan, memperkuat infrastruktur energi, serta mendorong efisiensi konsumsi energi.
"Jadi, saya melihat survei ini bukan sekadar capaian yang harus dibanggakan, tetapi juga sebagai pengingat bahwa pekerjaan rumah kita masih besar untuk memastikan ketahanan energi Indonesia benar-benar kokoh tanpa ketergantungan berlebihan pada subsidi," ucap Abra.
Setali tiga uang, Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (Pushep) Bisman Bhaktiar menilai bahwa penilaian terhadap ketahanan energi RI harus disikapi secara bijak.
"Ketahanan ini tetap perlu diperkuat dengan cadangan energi yang aman. Ini bisa melalui CPE [cadangan penyangga energi], diversifikasi energi, dan percepatan transisi energi," kata Bisman.
Sejatinya, kata dia, ketahanan energi Indonesia rawan. Oleh karena itu, sinyal positif dari survei JP Morgan harus menjadi pendorong pemerintah untuk benar-benar melakukan upaya yang sistematis demi menjamin ketahanan energi.
Skor Tinggi Ketahanan Energi Indonesia
Laporan terbaru JP Morgan berjudul Pandora’s Bog: The Global Energy Shock of 2026 yang dirilis pada Maret 2026 menganalisis 52 negara konsumen energi terbesar yang merepresentasikan sekitar 82% konsumsi energi dunia.
Salah satu indikator utama yang digunakan adalah total insulation factor, yaitu ukuran proporsi energi suatu negara yang tidak bergantung pada minyak dan gas global. Konsep sederhananya, negara yang bergantung pada impor energi berarti sangat rentan, sedangkan negara yang punya sumber energi domestik dan diversifikasi berarti lebih tahan.
Indonesia pun menempati posisi kedua tertinggi di dunia dengan indikator penyangga (insulation factors) sebesar 77%. Artinya, RI cenderung tahan dengan guncangan harga energi global.
Sementara itu, posisi pertama ditempati oleh Afrika Selatan dengan skor indikator penyangga mencapai 79%. Kemudian, posisi ketiga ditempati oleh China dengan skor 76%. Selanjutnya, posisi keempat ditempati oleh Uzbekistan dengan skor indikator penyangga sebesar 71%. Lalu, kelima ada Amerika Serikat (AS) dengan skor 70% dan keenam ada Australia dengan skor 68%.
Lebih terperinci, JP Morgan menggunakan dua indikator utama untuk mengukur ketahanan energi suatu negara. Kedua indikator itu yakni eksposur (ketahanan) dan indikator penyangga.
Pada indikator eksposur, ukuran yang membuat negara rentan terhadap guncangan energi global mencakup lima faktor. Kelima faktor itu meliputi ketergantungan impor minyak, ketergantungan impor gas, ketergantungan pasokan dari Selat Hormuz, porsi konsumsi minyak dan gas dalam ekonomi, serta intensitas energi terhadap produk domestik bruto (PDB).
Sementara pada indikator penyangga mencakup empat faktor yakni produksi gas domestik, produksi batu bara domestik, energi nuklir, dan energi baru terbarukan.
Pada indikator eksposur, ketergantungan Indonesia terhadap impor minyak mencapai 16%. Lalu, ketergantungan pada impor gas -8%, ketergantungan pasokan dari Selat Hormuz 1%, porsi konsumsi minyak dan gas dalam ekonomi 29%, serta intensitas energi terhadap PDB 0,7%.
Untuk indikator penyangga, produksi gas domestik RI mencapai 22%, produk batu bara domestik 48%, energi nuklir 0%, dan EBT 7%. Dengan data tersebut, skor indikator penyangga Indonesia berada di level 77%.
#ketahanan-energi #subsidi-energi #jp-morgan #ketahanan-energi-indonesia #diversifikasi-energi #transisi-energi #subsidi-bahan-bakar #subsidi-listrik #energi-baru-terbarukan #infrastruktur-energi #efis