Dari Sulam hingga Instalasi, Keresahan Seniman Perempuan dalam Pameran IWA #4

Dari Sulam hingga Instalasi, Keresahan Seniman Perempuan dalam Pameran IWA #4

Pameran IWA #4 di Galeri Nasional hingga 30 Juni 2026 menampilkan keresahan seniman perempuan Indonesia melalui karya yang mengkritik kondisi sosial dan global.

(Bisnis.Com) 02/05/26 10:55 209036

Bisnis.com, JAKARTA -Pameran Indonesian Women Artists (IWA) #4 kembali menghadirkan keresahan sebagai energi utama dalam karya para seniman perempuan kontemporer Indonesia.

Berlangsung di Galeri Nasional hingga 30 Juni 2026, karya-karya yang ditampilkan tidak hanya merefleksikan kondisi sosial, tetapi juga mengajukan kritik terhadap situasi global yang tidak stabil.

Salah satunya lewat instalasi Pamedangan karya Rani Jambak yang menghadirkan kembali praktik sulam tradisional Minangkabau sebagai medium merawat ingatan perempuan lintas generasi.

Menggabungkan alat sulam tradisional dengan sensor bunyi, karya ini menempatkan tubuh perempuan sebagai pusat produksi pengetahuan yang selama ini diwariskan secara turun-temurun.

"Di sini ada empat kanvas sulaman buat pengunjung yang terhubung dengan sensorik yang nantinya menghasilkan komposisi tertentu," katanya.

Rani menyebut perkembangan teknik menyulam di Minangkabau tidak terlepas dari peran Rohana Kudus yang pada awal abad ke-20 mendorong perempuan untuk mandiri melalui Kerajinan Amai Setia.

Dalam pameran ini, Rani turut menampilkan karya sulam bergambar gunung dengan bunga-bunga yang tumbuh di atasnya, berkolaborasi dengan seniman sulam tradisional.

Dia mengungkap penggambaran gunung dan bunga merupakan responsnya sebagai perempuan modern, tanpa melupakan alam yang sejak lama menjadi bagian hidup masyarakat Minang.

Refleksi berbeda juga hadir dari karya Bibiana Lee. Jika Rani berbicara tentang warisan perempuan, maka Bibiana menyoroti luka demokrasi yang belum benar-benar pulih sejak reformasi 1998.

Lewat instalasi While We Watch, Bibiana menghadirkan wujud tangan dari silikon yang dilengkapi tato permanen bergambar naga dan qilin, makhluk mitologi Tionghoa.

Saat dicermati, tato tersebut seperti bekas luka yang menempel di tubuh. Sebuah penanda ingatan atas perjuangan, sekaligus simbol relasi kuasa yang terus berubah.

Bibiana menyebut karyanya juga menyoroti isu korupsi dan moralitas pemerintahan, serta harapan agar kekuasaan dijalankan dengan adil bagi masyarakat Indonesia.

"Tato qilin ini seperti panduan moral untuk mengingatkan mereka yang di pemerintahan agar tidak hanya memikirkan tentang korupsi yang sudah ternormalisasi, tapi juga memerintah dengan bermoral," ujarnya.

Kurator Carla Bianpoen mengatakan senarai karya yang dihadirkan dalam pameran ini tak hanya peka terhadap situasi, tetapi juga mengajukan pertanyaan kritis tentang dunia yang tengah dihuni hari ini.

"Ada keresahan di dalam karya mereka. Hampir semua perupa melakukan eksplorasi pada dirinya, bumi, lingkungan, dan sosial politik yang sedang tidak menentu," katanya.

Pameran Indonesian Women Artists (IWA) #4: ON THE MAP—Art, Science, Technology & Culture berlangsung di Gedung A, Galeri Nasional Indonesia.

Total terdapat 14 perupa perempuan yang terlibat, di antaranya Endang Lestari, Ines Katamso, KaNa Fuddy Prakoso, Ni Nyoman Sani, Nona Yoanishara, Tara Kasenda, dan Ve Dhanito.

#seni-perempuan #pameran-iwa #seniman-kontemporer #instalasi-seni #sulam-tradisional #rani-jambak #rohana-kudus #bibiana-lee #luka-demokrasi #tato-qilin #korupsi-indonesia #moralitas-pemerintahan #gale

https://lifestyle.bisnis.com/read/20260502/254/1970315/dari-sulam-hingga-instalasi-keresahan-seniman-perempuan-dalam-pameran-iwa-4