Wacana Pengganti LPG 3 Kg, CNG Masih Butuh Uji Coba dan Kajian
Institute for Essential Services Reform (IESR) menilai, meski memiliki potensi besar, CNG belum siap untuk langsung menggantikan elpiji subsidi secara
(Kompas.com) 04/05/26 11:20 210056
JAKARTA, KOMPAS.com – Wacana penggunaan compressed natural gas (CNG) sebagai pengganti liquefied petroleum gas (LPG) atau elpiji 3 kilogram (kg) untuk rumah tangga mendapat sorotan dari berbagai pihak.
Institute for Essential Services Reform (IESR) menilai, meski memiliki potensi besar, CNG belum siap untuk langsung menggantikan elpiji subsidi secara luas.
Dalam unggahan di akun Twitter resminya, Minggu (3/5/2026), IESR menyebut pemanfaatan CNG memang dapat menekan impor LPG sekaligus menurunkan emisi, tetapi implementasinya perlu dilakukan secara bertahap dan selektif.
SHUTTERSTOCK/BELISH Ilustrasi compressed natural gas (CNG).“CNG bisa kurangi impor LPG dan emisi. CNG bagus sebagai substitusi LPG untuk pelanggan komersial, dapur besar, UMKM kuliner, hotel/restoran, dan kawasan yang pasokannya dekat dengan infrastruktur gas,” tulis IESR.
Menurut IESR, segmen-segmen tersebut dinilai lebih siap karena memiliki volume konsumsi energi yang besar, sehingga investasi infrastruktur seperti tabung bertekanan tinggi, skid, hingga pressure reducing system (PRS) menjadi lebih ekonomis.
Namun demikian, IESR menegaskan bahwa CNG belum siap menjadi pengganti langsung elpiji 3 kg di sektor rumah tangga.
“Tapi belum siap jadi pengganti langsung LPG 3 kg,” tulis IESR.
Tantangan teknis dan keselamatan
IESR juga menyoroti sejumlah tantangan teknis dalam implementasi CNG, terutama jika diterapkan di sektor rumah tangga yang memiliki karakteristik penggunaan berbeda dengan sektor komersial.
Shutterstock/tawanroong ilustrasi tabung gas“Tantangannya: tabung bertekanan tinggi, kompor/regulator baru, distribusi rumit, dan standar keselamatan ketat,” tulis IESR.
Penggunaan CNG membutuhkan tabung dengan tekanan sangat tinggi, berbeda dengan LPG yang selama ini digunakan masyarakat. Selain itu, diperlukan perangkat tambahan seperti kompor dan regulator khusus yang kompatibel dengan karakteristik CNG.
IESR juga menekankan pentingnya aspek keselamatan dalam pengembangan energi alternatif ini.
“Hitung biaya dan risikonya. Lakukan uji coba sebelum implementasi luas. Jangan gegabah, people safety should be no. 1,” lanjut IESR.
Pernyataan ini menempatkan aspek keamanan sebagai prioritas utama dalam setiap tahap pengembangan dan implementasi CNG.
Pemerintah dorong pengembangan CNG
Di sisi lain, pemerintah tetap mendorong pengembangan CNG sebagai bagian dari strategi diversifikasi energi dan penguatan ketahanan energi nasional.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan, pemerintah tengah menyiapkan pengembangan CNG dalam tabung 3 kg sebagai alternatif LPG subsidi.
“Untuk yang 3 kilogramnya ini baru mau dibuat. Dan ini ongkosnya lebih murah 30 sampai 40 persen,” ujar Bahlil saat menghadiri acara Himpunan Alumni IPB di Jakarta, Sabtu (2/5/2026).
Menurut Bahlil, pemanfaatan CNG saat ini sudah mulai diterapkan di sejumlah sektor, seperti hotel, restoran, hingga dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG). Pemerintah kini bersiap memperluas penggunaannya ke sektor rumah tangga.
Ketergantungan LPG impor masih tinggi
Dorongan pengembangan CNG tidak lepas dari tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG.
Dok. Pertamina Ilustrasi harga elpiji 3 kg bersubsidi.Kementerian ESDM mencatat konsumsi elpiji nasional mencapai 8,6 juta ton per tahun, sementara produksi dalam negeri hanya sekitar 1,6 juta hingga 1,7 juta ton.
Artinya, sebagian besar kebutuhan LPG masih harus dipenuhi melalui impor.
Secara global, LPG merupakan produk turunan dari industri minyak dan gas, yang dihasilkan dari pengolahan gas alam serta proses penyulingan minyak mentah. LPG terdiri dari campuran propana dan butana yang disimpan dalam bentuk cair bertekanan.
Sebagian besar LPG dunia berasal dari pemrosesan gas alam, sementara sisanya merupakan produk samping dari kilang minyak.
Karakteristik ini membuat LPG relatif mudah didistribusikan dan menjadi pilihan utama untuk kebutuhan rumah tangga, terutama di wilayah yang belum terjangkau jaringan pipa gas.
CNG sebagai alternatif berbasis gas domestik
Berbeda dengan LPG, CNG merupakan gas alam yang dikompresi hingga tekanan tinggi sekitar 200–250 bar dan disimpan dalam tabung khusus.
Gas ini sebagian besar terdiri dari metana, yang berasal langsung dari sumber gas alam domestik.
Pemanfaatan CNG dinilai memiliki keunggulan karena tidak bergantung pada impor, sehingga dapat membantu mengurangi tekanan terhadap neraca energi nasional.
Selain itu, CNG juga dikenal menghasilkan emisi yang lebih rendah dibandingkan LPG, sehingga dinilai lebih ramah lingkungan.
Perbedaan karakteristik CNG dan LPG
KOMPAS.com/Syakirun Ni’am Kepala Badan BPH Migas, Wahyudi Anas (tengah) dan pemilik Restoran Kabuli Saudi saat meninjau instalasi CNG dari PT Perusahaan Gas Negara atau PT PGN Tbk di rumah makan tersebut di Medan, Sumatra Utara, Jumat (13/2/2026).Perbedaan antara CNG dan LPG tidak hanya terletak pada sumbernya, tetapi juga pada sifat fisik dan cara penyimpanannya.
CNG disimpan dalam bentuk gas bertekanan tinggi, sementara LPG disimpan dalam bentuk cair dengan tekanan lebih rendah.
Dari sisi keamanan, CNG memiliki sifat lebih ringan dari udara sehingga akan cepat menyebar jika terjadi kebocoran. Sebaliknya, LPG yang lebih berat dari udara cenderung mengendap di permukaan rendah.
Namun, LPG memiliki nilai kalor yang lebih tinggi per satuan massa, sehingga selama ini lebih efisien untuk kebutuhan memasak rumah tangga.
Infrastruktur dan distribusi jadi kunci
Pemanfaatan CNG sebagai substitusi LPG sangat bergantung pada kesiapan infrastruktur distribusi.
PT Perusahaan Gas Negara (PGN) melalui anak usahanya, PT Gagas Energi Indonesia, menjadi salah satu pihak yang aktif dalam pengembangan ekosistem CNG.
Corporate Secretary PGN Fajriyah Usman mengatakan, PGN siap berperan dalam pengembangan CNG sebagai solusi energi nasional.
“Sebagai bagian dari ekosistem energi nasional, PGN siap berperan aktif dalam pengembangan CNG sebagai solusi energi yang efisien, aman, dan ramah lingkungan,” ujar Fajriyah.
Saat ini, PGN Gagas mengoperasikan 14 Stasiun Pengisian Bahan Bakar Gas (SPBG) di tujuh provinsi, dengan rata-rata pengisian sekitar 2.200 kendaraan per hari.
Total penyaluran bahan bakar gas untuk transportasi mencapai 1,63 BBTUD hingga September 2025.
Untuk sektor industri dan komersial, layanan Gaslink telah melayani sekitar 600 pelanggan, dengan total penyaluran mencapai 10,85 BBTUD.
“PGN terus mengembangkan infrastruktur untuk menyalurkan CNG ke pelanggan yang belum terhubung langsung dengan pipa gas bumi,” kata Fajriyah.
KOMPAS.com/Syakirun Ni’am Kepala BPH Migas Wahyudi Anas meninjau daour Rumah Makan Kebuli Saudi yang menggunakan pasokan gas CNG dari PT Perusahaan Gas Negara (PGN) di Medan, Sumatra Utara, Jumat (13/2/2026).“CNG menjadi solusi agar semakin banyak masyarakat merasakan manfaat energi yang efisien, praktis, dan ramah lingkungan,” lanjutnya.
Menjangkau wilayah tanpa jaringan pipa
Salah satu keunggulan CNG adalah kemampuannya menjangkau wilayah yang belum terhubung jaringan pipa gas melalui skema “virtual pipeline”.
Dalam skema ini, gas dikompresi dan didistribusikan menggunakan tabung bertekanan tinggi ke lokasi pengguna.
Pendekatan ini dinilai dapat menjadi solusi atas keterbatasan infrastruktur pipa gas di Indonesia.
Pemanfaatan CNG juga telah diterapkan dalam sejumlah proyek, termasuk penyediaan energi dapur untuk program Makan Bergizi Gratis di Batam, Bogor, dan Boyolali.
Selain itu, PGN Gagas juga membangun Mother Station CNG di Medan dengan kapasitas 1 MMSCFD untuk melayani kebutuhan industri dan UMKM di Sumatera Utara.
Tekanan terhadap APBN dan peluang efisiensi
Di sisi lain, penggunaan CNG juga dinilai dapat membantu mengurangi tekanan terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), khususnya dari sisi subsidi energi.
Anggota Komisi XII DPR RI Yulisman menilai, CNG dapat menjadi solusi transisi yang realistis karena berbasis gas domestik.
“CNG ini bisa menjadi solusi transisi yang realistis. Kita punya sumber gas domestik yang cukup besar, tinggal bagaimana kita distribusikan secara efektif ke masyarakat dan sektor usaha,” ujar Yulisman.
Ia juga menilai, pemanfaatan CNG berpotensi mengurangi ketergantungan terhadap impor LPG.
“Daerah-daerah penghasil gas seperti Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan itu sangat potensial,” kata Yulisman.
“Di sana kita bisa mulai dari skala industri, UMKM, hingga perumahan melalui skema CNG atau yang dikenal sebagai virtual pipeline,” lanjutnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang#elpiji-subsidi #indepth #impor-lpg #iesr #cng #elpiji-3-kilogram