SBN Ritel Terbaru ST016 Meluncur Hari Ini, Kupon Tembus 6%
Sukuk Tabungan ST016 diluncurkan 11 Mei 2026 dengan proyeksi kupon hingga 6,3%, menawarkan tenor 2 dan 4 tahun, menarik minat investor ritel.
(Bisnis.Com) 08/05/26 09:45 215501
Bisnis.com, JAKARTA – Surat Berharga Negara (SBN) Ritel ketiga pada tahun ini, yakni Sukuk Tabungan seri ST016, resmi meluncur hari ini, Jumat (8/5/2026), dengan kupon di atas 6%.
Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan resmi meluncurkan ST016 meluncur pada hari ini, Jumat (8/5/2026).
Berdasarkan data salah satu mitra distribusi SBN Ritel, Bibit, ST016 terdiri dari 2 produk, yakni ST016-T2 atau tenor 2 tahun dan ST016-T4 atau tenor 4 tahun. Masa penawaran berlangsung pada 8 Mei hingga 3 Juni 2026.
ST016 adalah SBN dengan imbal hasil floating with floor pertama tahun ini dan sering menjadi favorit investor. Ada dua tipe tenor yang bisa dipilih, yakni T016-T2 dengan kupon floating with floor minimum 6,05% per tahun, dan ST016-T4 dengan kupon floating with floor minimum 6,25% per tahun.
Sebelumnya, kalangan analis memprediksi ST016 memberikan kupon yang kompetitif sehingga dapat menarik minat investor ritel. SBN Ritel tersebut diperkirakan memberikan kupon 6%.
Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Ramdhan Ario Maruto, menilai kendati ST menawarkan produk yang bertenor lebih pendek ketimbang SR024, tetapi peluang lebih besarnya imbal hasil ST cukup besar.
”Walaupun dia lebih pendek tenornya [dibandingkan SR], tapi paling tidak secara kupon, menurut saya sih harusnya lebih besar daripada SR kemarin,” katanya kepada Bisnis, dikutip Jumat (8/5/2026).
Ramdhan memprediksi imbal hasil yang ditawarkan ST016 akan berada di atas level 6%. ST016-T2 diramal bakal menawarkan kupon 6,1% dan ST016-T4 sebesar 6,3% per tahun. Sementara data Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) hari ini, menunjukkan yield SBN bertenor 2 tahun kini berada pada level 6,3% dan 6,60% untuk SBN bertenor 4 tahun.
Ramdhan menilai, penting bagi DJPPR untuk mempertimbangkan pemberian imbal hasil yang lebih besar, terutama lantaran penyerap utama produk ini adalah investor ritel. Pasalnya, investor ritel dinilai tidak mengacu pada kondisi pasar global, melainkan kepada daya tarik imbal hasil suatu produk.
”Misalnya yang kemarin 5,9%, kalau sekarang bisa dapat di atas 6% kan lebih menarik. Dan likuiditas di pasar ritel ini kan masih cukup baik,” kata Ramdhan.
Terlebih, ST memiliki sifat imbal hasil floating with floor. Artinya, terdapat peluang kenaikan imbal hasil jika suku bunga naik, tetapi tidak berlaku sebaliknya. Ramdhan, menilai hal ini sebagai momentum positif, lantaran terdapat peluang BI untuk menaikkan suku bunga di tahun ini.
Dengan begitu, Ramdhan memprediksi ST016 akan banyak diburu masyarakat. Bahkan, penjualan total senilai Rp15 triliun disebut masuk akal untuk tercapai.
Terlebih, terdapat ST012-T2 yang akan jatuh tempo pada 10 Mei 2026. Realisasi penjualan seri ST ini bahkan mencapai Rp15 triliun, sehingga peluang reinvestasi besar terjadi.
”Ya realistis, apalagi dengan suku bunga yang harusnya naik ya, rateonya ini. Apalagi nanti masa penawarannya juga panjang, ini akan menjadi pilihan reinvestasi bagi masyarakat,” katanya.
#st016 #sbn-ritel #sukuk-tabungan #kupon-st016 #investasi-ritel #tenor-2-tahun #tenor-4-tahun #imbal-hasil #kupon-6 #djppr #investor-ritel #floating-with-floor #suku-bunga #reinvestasi #penawaran-sbn #n-a