#30 tag 24jam
BEI Dorong Partisipasi Investor Ritel Peduli Lingkungan di Bursa Karbon
BEI mendorong partisipasi investor ritel di pasar karbon melalui IDX Carbon, mengintegrasikan pembiayaan berkelanjutan untuk mendukung target net zero Indonesia 2060. [910] url asal
#investor-ritel #bursa-karbon #partisipasi-investor #pasar-emisi #idx-carbon #perubahan-iklim #pembiayaan-berkelanjutan #net-zero-indonesia #perdagangan-karbon #offset-emisi #unit-karbon #regulasi-pasa
(Bisnis.Com - Terbaru) 22/04/26 19:36
v/199636/
Bisnis.com, JAKARTA – Upaya memperluas partisipasi investor ritel di pasar emisi (IDX Carbon) menghadapi tantangan inklusi, meski minat ritel terhadap isu keberlanjutan menunjukkan tren meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Direktur Keuangan, Sumber Daya Manusia, dan Umum PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Risa E. Rustam menyampaikan perubahan iklim telah bertransformasi dari isu jangka panjang menjadi realitas yang berdampak langsung pada ekonomi global. Dalam konteks tersebut, pasar karbon dipandang sebagai peluang untuk mengintegrasikan pembiayaan berkelanjutan ke dalam sistem pasar modal.
“Dampaknya tidak hanya menyentuh aspek lingkungan, tetapi juga pada stabilitas ekonomi global. Namun, bagi kami di BEI hal ini adalah peluang besar,” ujarnya dalam acara peluncuran kampanye Aku Net-Zero Hero di Gedung BEI, Rabu (22/4/2026).
Melalui platform IDX Carbon, BEI berupaya membuka akses perdagangan karbon tidak hanya bagi pelaku usaha dan korporasi, tetapi juga masyarakat secara luas. Inisiatif ini diarahkan untuk memperkuat praktik environmental,social, and governance (ESG) sekaligus menyediakan mekanisme yang transparan dalam mendukung target net zero Indonesia 2060.
Risa menilai kesadaran individu terhadap isu keberlanjutan mulai tumbuh dan menjadi pendorong penting bagi pendalaman pasar karbon domestik. Transformasi dari wacana institusi menuju aksi individu menjadi sinyal awal terbentuknya basis ritel di pasar karbon.
Berdasarkan data IDX Carbon, saat ini telah terdapat 2.065 beneficiaries (pihak) telah melakukan offset lebih dari 1,3 juta ton CO2 equivalent. Dari jumlah tersebut, 1.566 merupakan individu, yang menunjukkan dominasi partisipasi ritel dalam tahap awal pengembangan pasar.
“Meski demikian, kita masih membutuhkan jembatan untuk memperluas sekaligus memudahkan partisipasi tersebut agar menjadi lebih inklusif dan berdampak luas,” ujarnya.
Dari sisi potensi, BEI mencatat rata-rata jejak karbon masyarakat Indonesia berada pada kisaran 2-3 ton CO2 equivalent per tahun. Dengan harga unit karbon saat ini, kebutuhan offset tersebut dinilai masih dalam batas terjangkau bagi masyarakat.
Sebagai upaya inklusi perdagangan emisi, BEI menyediakan mekanisme retirement on behalf melalui IDX Carbon yang memungkinkan individu melakukan offset emisi secara langsung maupun melalui perantara.
Agar mudah dipahami, mekanisme retirement on behalf di IDX Carbon memungkinkan individu melakukan offset emisi tanpa harus mengakses langsung sistem perdagangan karbon. Offset karbon adalah upaya menyeimbangkan emisi yang dihasilkan dengan ‘membayar’ pengurangan emisi di tempat lain.
Caranya dengan membeli unit karbon dari proyek yang berhasil menurunkan atau menyerap emisi, misalnya penanaman hutan atau energi terbarukan sehingga jumlah emisi yang dihasilkan tadi dianggap sudah dikompensasi.
Sementara itu, unit karbon pada dasarnya adalah satuan dari pengurangan emisi, di mana satu unit umumnya setara dengan penurunan 1 ton CO₂ equivalent dari suatu proyek, seperti reforestasi atau energi terbarukan. Proyek-proyek tersebut terlebih dahulu diverifikasi, lalu total pengurangan emisinya dipecah menjadi unit-unit yang dapat diperjualbelikan di IDX Carbon.
Dalam skema retirement on behalf di IDX Carbon, pembelian unit karbon dapat dilakukan oleh perantara seperti perusahaan atau platform tertentu atas nama individu, kemudian unit tersebut langsung dipensiunkan (retired) di sistem sehingga tidak dapat diperdagangkan kembali dan secara resmi diakui sebagai kompensasi emisi milik pihak yang bersangkutan.
Setiap unit yang di-retire tersebut tercatat dalam Sistem Registri Nasional Pengendalian Perubahan Iklim dan dikaitkan langsung dengan identitas individu sebagai penerima manfaat. Dengan demikian, meskipun proses transaksi dilakukan oleh pihak lain, manfaat offset tetap melekat pada individu, yang juga memperoleh sertifikat sebagai bukti pengurangan emisi yang sah dan terdokumentasi.
Kepala Departemen Pengawasan Keuangan Derivatif, Bursa Karbon, Transaksi Efek dan Pemeriksaan Khusus Otoritas Jasa Keuangan (OJK) I Nyoman Suka Yasa mengatakan bahwa penguatan pasar karbon juga bergantung pada kerangka regulasi yang kredibel.
Saat ini, OJK sedang mereviu Peraturan OJK Nomor 14 Tahun 2023 tentang Perdagangan Karbon Melalui Bursa Karbon agar selaras dengan Peraturan Presiden Nomor 110 Tahun 2025 tentang Penyelenggaraan Instrumen Nilai Ekonomi Karbon dan Pengendalian Emisi Gas Rumah Kaca Nasional.
“Dalam konteks tersebut, penguatan kerangka regulasi ini diharapkan dapat mendorong pengembangan pasar karbon yang lebih kredibel, transparan dan terintegrasi, sekaligus memperkuat peran sektor jasa keuangan dalam mendukung pencapaian target pengurangan emisi nasional,” kata Nyoman.
Adapun, dalam kampanye mendorong lebih banyak partisipasi masyarakat mengurangi emisi, BEI turut menggandeng pelaku usaha antara lain adalah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. melalui fitur Livin’ Planet, Pertamina New & Renewable Energy (NRE) yang menyediakan unit karbon Sertifikat Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca (SPE-GRK) yang bisa digunakan sebagai offset emisi, serta platform climate tech Jejakin sebagai penyedia solusi penghitungan dan offset emisi.
Wakil Direktur Utama Bank Mandiri Henry Panjaitan mengatakan bahwa kerja sama tersebut menjadi langkah baru dalam membuka akses pasar karbon kepada masyarakat melalui layanan digital perbankan. Peluncuran ini juga menandai perluasan ekosistem perdagangan karbon nasional, yang sebelumnya didominasi oleh segmen korporasi.
“Melalui fitur ini, kami ingin mendorong partisipasi aktif nasabah dalam aksi iklim. Tidak berhenti pada peningkatan awareness atas jejak karbon yang dihasilkan dari aktivitas sehari-hari, nasabah juga kami dorong untuk mengambil peran dalam mengimbanginya melalui melalui mekanisme carbon offset yang kredibel dan terverifikasi,” ujar Henry.
Keterlibatan perseroan di kampanye yang digaungkan BEI tersebut juga menegaskan komitmen Bank Mandiri dalam melakukan inisiasi hijau. Henry menjelaskan, pada 2025 Bank Mandiri juga melakukan kampanye Mandiri Looping for Life dengan mencatatkan 1.398 transaksi Livin’ Planet senilai Rp135,2 juta. Transaksi tersebut telah dikonversi menjadi penanaman 1.292 pohon yang berkontribusi dalam pengurangan emisi sebesar 45,32 ton CO2 equivalent.
“Inisiatif ini menegaskan peran sektor keuangan sebagai enabler dalam transisi menuju ekonomi rendah karbon, tidak hanya melalui pembiayaan, tetapi juga dengan memperluas akses, meningkatkan awareness, dan menghadirkan solusi praktis bagi masyarakat,” pungkasnya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.
Investor Ritel Wajib Tahu Kriteria Saham HSC, Apa.Saja?
Investor ritel perlu memahami kriteria saham yang masuk dalam daftar High Shareholding Concentration atau saham dengan kepemilikan konsentrasi tinggi [647] url asal
(Kompas.com - Money) 22/04/26 15:57
v/199348/
JAKARTA, KOMPAS.com- Pergerakan saham yang tampak “hidup” belum tentu mencerminkan likuiditas yang sehat. Di balik lonjakan harga yang cepat, bisa saja tersembunyi struktur kepemilikan yang terkonsentrasi pada segelintir pihak.
Karena itu, investor ritel perlu memahami kriteria saham yang masuk dalam daftar High Shareholding Concentration atau saham dengan kepemilikan konsentrasi tinggi (HSC).
Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Irvan Susandy, menyebut lembaganya telah membuka data emiten yang masuk dalam HSC. Kebijakan ini bertujuan meningkatkan transparansi di pasar modal.
“Tujuan dari HSC adalah untuk meningkatkan transparansi kepada publik atas informasi konsentrasi perusahaan tercatat,” ujar Irvan kepada wartawan, Rabu (22/4/2026).
HSC list diumumkan oleh Bursa Efek Indonesia bersama Kustodian Sentral Efek Indonesia atas saham-saham yang terindikasi memiliki konsentrasi kepemilikan pada sejumlah investor terbatas.
Penetapan status HSC dilakukan oleh komite khusus yang terdiri dari BEI dan KSEI dengan mempertimbangkan aspek pengawasan, kondisi perusahaan tercatat, serta profil para pemegang sahamnya.
“HSC ditentukan oleh komite khusus yang terdiri dari BEI dan KSEI yang memperhatikan aspek pengawasan, perusahaan tercatat dan para pemegang sahamnya,” paparnya.
Proses penentuan HSC diawali dari identifikasi trigger factor, yang kemudian dilanjutkan dengan tahap HSC checking hingga pengumuman kepada publik.
Dalam proses trigger factor, saham yang terindikasi akan ditindaklanjuti melalui assessment terhadap struktur kepemilikan saham. Faktor pemicu yang menjadi perhatian antara lain mencakup volatilitas harga (price volatility), aspek pengawasan, tingkat likuiditas, serta indikator relevan lainnya.
Dalam trigger factor process, saham yang terkena trigger factor yang ditentukan oleh Komite HSC akan ditindaklanjuti dengan assessment shareholding structure. Adapun trigger factor memperhatikan beberapa aspek seperti price volatility, aspek pengawasan, liquidity, dan lain-lain,” lanjut Irfan.
Apabila hasil evaluasi menunjukkan adanya indikasi konsentrasi kepemilikan yang tinggi, maka BEI akan mengumumkan status tersebut kepada publik sebagai bentuk transparansi.
Namun demikian, perusahaan tercatat memiliki kesempatan untuk memperbaiki struktur kepemilikannya melalui berbagai langkah, seperti peningkatan porsi saham publik (refloat) maupun aksi korporasi lainnya.
Selanjutnya, jika perbaikan tersebut dinilai berhasil dan struktur kepemilikan telah lebih tersebar, BEI akan kembali menyampaikan pengumuman kepada publik melalui recovery announcement, yang menandakan bahwa saham tersebut tidak lagi berada dalam kategori HSC.
“BEI akan kembali melakukan pengumuman (recovery announcement) kepada publik ketika perusahaan tercatat sudah terbukti tidak lagi memiliki konsentrasi dalam kepemilikan sahamnya,” lanjut dia.
Berikut daftar sembilan emiten yang terpantau masuk kategori kepemilikan saham terkonsentrasi tinggi:
PT Lima Dua Lima Tiga Tbk (LUCY), sejumlah pemegang saham tertentu yang secara agregat menguasai 95,47 persen dari total saham dalam bentuk warkat dan tanpa warkat LUCY.
PT Samator Indo Gas Tbk (AGII), sejumlah pemegang saham tertentu yang secara agregat menguasai 97,75 persen dari total saham dalam bentuk warkat dan tanpa warkat AGII.
PT Satria Mega Kencana Tbk (SOTS), sejumlah pemegang saham tertentu yang secara agregat menguasai 98,35 persen dari total Saham dalam bentuk warkat dan tanpa warkat SOTS.
PT Ifishdeco Tbk (IFSH), sejumlah pemegang saham tertentu yang secara agregat menguasai 99,77 persen dari total saham dalam bentuk warkat dan tanpa warkat IFSH.
PT Panca Anugrah Wisesa Tbk (MGLV), sejumlah pemegang saham tertentu yang secara agregat menguasai 95,94 persen dari total saham dalam bentuk warkat dan tanpa warkat MGLV.
PT Rockfields Properti Indonesia Tbk (ROCK), sejumlah pemegang saham tertentu yang secara agregat menguasai 99,85 persen dari total saham dalam bentuk warkat dan tanpa warkat ROCK.
PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO), sejumlah pemegang saham tertentu yang secara agregat menguasai 95,35 persen dari total saham dalam bentuk warkat dan tanpa warkat RLCO.
PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), sejumlah pemegang saham tertentu yang secara agregat menguasai 95,76 persen dari total saham dalam bentuk warkat dan tanpa warkat DSSA.
PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), sejumlah pemegang saham tertentu yang secara agregat menguasai 97,31 persen dari total saham dalam bentuk warkat dan tanpa warkat BREN.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarangBisnis Broker Moncer, BRIDS Andalkan Investor Ritel pada 2026
BRIDS fokus pada investor ritel dan digitalisasi untuk pertumbuhan bisnis 2026, memanfaatkan sinergi BRI dan mengembangkan produk teknologi untuk pendapatan berulang. [283] url asal
#brids-2026 #investor-ritel #bisnis-broker #bri-danareksa-sekuritas #segmen-ritel #platform-digital #pasar-modal #produk-teknologi #pendapatan-berulang #fasilitas-marjin #sinergi-bbri #literasi-investa
(Bisnis.Com - Market) 22/04/26 15:25
v/199273/
Bisnis.com, JAKARTA — PT BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) mengarahkan strategi bisnis 2026 dengan menitikberatkan pada penguatan segmen investor ritel seiring pertumbuhan pesat basis investor domestik dalam beberapa tahun terakhir.
Plt. Direktur Utama BRIDS Fifi Virgantria mengatakan, perseroan akan memperkuat kanal digital dan mengembangkan produk berbasis teknologi untuk menangkap peluang dari meningkatnya partisipasi investor ritel di pasar modal.
Menurutnya, segmen ritel akan tetap menjadi motor utama pertumbuhan bisnis brokerage, terutama melalui platform online yang terus menunjukkan ekspansi signifikan.
“Segmen ritel menjadi kontributor utama, khususnya melalui platform digital yang terus berkembang,” ujarnya dalam siaran pers, Rabu (22/4/2026).
Selain itu, BRIDS juga akan mendorong pengembangan produk yang mampu menghasilkan pendapatan berulang (recurring income), termasuk optimalisasi fasilitas marjin.
Perseroan turut memanfaatkan sinergi dalam ekosistem PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) untuk memperluas distribusi dan meningkatkan literasi investasi masyarakat.
Strategi tersebut didukung oleh capaian kinerja sepanjang 2025. BRIDS mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 23% serta lonjakan laba operasional lebih dari 200% secara tahunan.
Bisnis brokerage masih menjadi kontributor terbesar dengan porsi sekitar 54% terhadap total pendapatan. Dari segmen tersebut, investor ritel mendominasi hingga 52%, seiring pertumbuhan kanal online retail yang melonjak hingga 156% secara tahunan.
Di sisi lain, pertumbuhan investor domestik terus berlanjut. Data Kustodian Sentral Efek Indonesia mencatat jumlah investor mencapai 20,32 juta single investor identification (SID) pada akhir 2025 atau tumbuh sekitar 37% secara tahunan, yang sebagian besar berasal dari investor ritel.
Fifi menilai, BRIDS melihat prospek segmen ritel masih akan menjadi penopang utama pertumbuhan industri sekuritas, meskipun persaingan kian ketat di tengah agresivitas pelaku industri dalam mengembangkan platform digital.
Dengan fokus pada digitalisasi dan penguatan basis investor ritel, perseroan optimistis dapat menjaga momentum pertumbuhan kinerja pada 2026 sekaligus memperdalam penetrasi pasar domestik.
Tanpa Rebalancing MSCI, Analis Soroti Peluang Saham Energi untuk Investor Ritel
MSCI bekukan rebalancing Mei 2026. Saham energi seperti MEDC dan HRUM dinilai menarik di tengah risiko outflow dan tekanan global. [631] url asal
(Kompas.com - Money) 22/04/26 12:17
v/198962/
JAKARTA, KOMPAS.com - Morgan Stanley Capital International (MSCI) membekukan rebalancing saham Indonesia pada Mei 2026 dan dinilai mempengaruhi arah aliran dana asing di pasar domestik.
Investor ritel disarankan lebih selektif mencermati sektor yang tetap menarik, terutama di tengah dinamika global yang masih bergejolak.
Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Ahmad Faris Mu'tashim, menyebut sektor energi masih menjadi pilihan utama bagi investor untuk tahun ini, terutama didorong oleh kuatnya katalis global dari sisi migas dan batu bara.
Menurutnya, ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang berujung pada gangguan di kawasan Selat Hormuz telah memicu disrupsi besar pada pasokan energi dunia. Jalur tersebut selama ini menjadi titik krusial karena dilalui sekitar 20 persen distribusi minyak global, sehingga setiap gangguan langsung berdampak pada lonjakan harga energi dan ketidakstabilan pasok.
“Untuk tahun ini sektor yang masih menarik adalah sektor energi, dengan migas dan batu bara sebagai katalis utama dari efek krisis energi akibat konflik AS-Iran yang menimbulkan kerusakan pada infrastruktur migas di sekitaran selat Hormuz,” ujar Faris Saat dihubungi Kompas.com, Rabu (22/4/2026).
Saham-saham berbasis energi seperti PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) di segmen migas dan PT Harum Energy Tbk (HRUM) di sektor baru bara menjadi menarik untuk dicermati. Keduanya dinilai berpotensi mendapatkan sentimen positif dari kenaikan harga komoditas, serta meningkatnya permintaan di tengah keterbatasan pasokan global.
“Investor bisa memperhatikan saham-saham seperti MEDC dan HRUM,” paparnya..
Faris juga menilai bahwa saham emiten lain tetap bisa naik saat ada sentimen MSCI, tetapi tergantung pada potensi inflow atau aliran dana asing masuk yang dihitung dari free float market cap. Emiten dengan free float besar biasanya lebih berpeluang mendapat aliran dana, sehingga pergerakan harganya lebih kuat.
Selain itu, kenaikan harga sering terjadi sebelum tanggal efektif rebalancing karena ada aksi frontrunner dari institusi yang masuk lebih dulu. Jadi, tidak semua saham naik bersamaan, hanya yang dinilai berpotensi mendapat inflow yang cenderung bergerak lebih dulu.
Dalam konteks MSCI, frontrunner berarti investor yang membeli saham sebelum tanggal efektif rebalancing, karena mereka memperkirakan akan ada inflow. Akibatnya, harga sering sudah naik lebih dulu sebelum keputusan resmi berlaku.
“Untuk kenaikan harga (saham) kita perlu melihat potensial inflow yang dihitung berdasarkan free float market cap. Sehingga tiap emiten yang include bisa berbeda, dan terkadang banyak aksi frontrunner dari institusi yang mengambil keputusan terlebih dahulu sebelum tanggal efektif,” beber Faris.
Dua Emiten Berpotensi Didepak dari Indeks MSCI
PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) merupakan emiten asal Indonesia yang berpotensi didepak MSCI dari indeks. Kedua emiten ini sebelumnya merupakan konstituen MSCI Indonesia Standard Cap.
Namun, dengan masuk keduanya ke dalam kategori high shareholding concentration atau saham dengan konsentrasi tinggi (HSC), maka peluang untuk tetap berada dalam indeks menjadi tertutup.
MSCI sendiri mensyaratkan saham yang masuk indeks tidak memiliki tingkat konsentrasi kepemilikan yang terlalu tinggi. Kondisi ini berpotensi memicu outflow setidaknya hingga tanggal efektif, karena dana kelolaan manajer investasi yang mengacu pada indeks MSCI akan melakukan penyesuaian portofolio.
Aksi jual ini bersifat mandatory sell, sehingga tekanan terhadap harga saham DSSA dan BREN cenderung terjadi secara bertahap seiring keluarnya dana tersebut.
“Untuk case DSSA dan BREN, kedua emiten ini merupakan konstituen dari MSCI Indonesia Standard Cap. Hal tersebut tentunya akan memicu outflow setidaknya sampai tanggal efektif karena kedua emiten tersebut masuk kedalam high shareholding concentrate sebagaimana pengumuman kemarin yang mensyaratkan saham yang berpotensi include tidak boleh masuk kedalam HSC list, artinya akan ada pelemahan seiring mandatory sell oleh MI yang mengacu pada indeks MSCI,” lanjut dia.
Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Strategi Investor Ritel Saat IHSG Turun: Hindari Saham Ini, Pilih yang Likuid
IHSG melemah wajibkan investor ritel tata ulang strategi. Di tengah pembekuan MSCI, beralih ke saham likuid dan fundamental kuat jadi kunci bertahan. Analis beri rekomendasi. [743] url asal
#investor-ritel #strategi-investasi #ihsg #bren #msci #saham-likuid
(Kompas.com - Money) 22/04/26 10:15
v/198832/
JAKARTA, KOMPAS.com - Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengharuskan investor ritel menata ulang strategi trading dan investasinya.
Di tengah ketidakpastian arah pasar, investor ritel disarankan mengurangi eksposur pada saham dengan free float rendah dan kategori High Shareholding Concentration (HSC). Sebagai gantinya, ritel mulai beralih ke emiten yang lebih likuid hingga memiliki fundamental kuat.
Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai strategi investasi yang tepat saat ini bukan menahan diri sepenuhnya, melainkan menjadi lebih selektif dan terukur dalam memilih saham.
FREEPIK/RAWPIXEL.COM Ilustrasi investor, investasi saham, investor saham.“Strategi investasi yang bijak bukan berarti berdiam diri, melainkan menjadi lebih selektif dan terukur. Investor disarankan untuk mengurangi eksposur pada saham dengan free float rendah atau yang masuk kategori HSC, sambil mengalihkan fokus ke emiten berlikuiditas tinggi, free float besar, dan fundamental yang solid,” ujar Hendra saat dihubungi Kompas.com, Rabu (22/4/2026).
Satu hal yang perlu dicermati investor ritel adalah keputusan Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membekukan kenaikan bobot saham Indonesia dalam indeks globalnya.
Menurutnya, keputusan tersebut bukan sekadar urusan teknis indeks, dampaknya bersifat struktural dan berjangka menengah.
Pembekuan berarti kapasitas pasar modal Indonesia untuk menyerap aliran dana dari investor institusi global, seperti dana indeks pasif dan ETF, menjadi semakin terbatas ke depannya.
Karena itu, saham-saham berkategori HSC seperti PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) menghadapi risiko penurunan visibilitas di mata investor asing, dan dana pasif kemungkinan telah mulai mengurangi posisi secara bertahap.
Freepik Ilustrasi saham, laba bersih.“Namun penting untuk tidak bereaksi berlebihan, ini bukan krisis fundamental ekonomi, melainkan sinyal bahwa reformasi pasar modal harus dibuktikan lewat implementasi nyata bukan sekadar janji kebijakan di atas kertas,” paparnya.
Secara teknikal, IHSG masih menyimpan potensi rebound, dan pemulihan lebih kokoh ketika ada kejelasan dari review MSCI berikutnya disertai bukti konkret reformasi pasar.
Secara teknikal, IHSG dinilai masih memiliki peluang rebound. Namun, penguatan yang lebih solid akan sangat bergantung pada kejelasan hasil review MSCI berikutnya, serta bukti konkret dari implementasi reformasi pasar.
Ia juga mencatat, momentum untuk kembali masuk ke saham-saham berbasis MSCI umumnya lebih optimal setelah tekanan jual mereda dan arah kebijakan mulai terlihat.
Dalam kondisi seperti ini, manajemen risiko menjadi faktor kunci untuk menjaga portofolio tetap stabil.
Sejumlah saham dinilai layak dicermati investor ritel diantaranya;
PT Barito Pacific Tbk (BRPT) dan PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) menjadi kandidat swing trade dengan potensi keuntungan sekitar 6-7 persen serta batas risiko yang terukur.
Sementara itu, PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) menarik diperhatikan seiring isu geopolitik yang mempengaruhi jalur pelayaran global, dengan target harga hingga Rp 570 dari area beli Rp 535.
Adapun PT PP Presisi Tbk (PPRE) dinilai cocok untuk strategi day trade, dengan target di kisaran Rp 153- Rp 156 dari level masuk Rp 147.
“Di tengah pasar yang masih mencari arah, disiplin pada level beli, target, dan setop loss bukan sekadar strategi, melainkan pembeda antara investor yang bertahan dan yang tersapu arus ketidakpastian,” ujar Hendra.
Sementara itu, Investment Specialist PT Korea Investment And Sekuritas Indonesia (KISI), Ahmad Faris Mu’tashim, mencatat bahwa IHSG berhasil memangkas pelemahan setelah sempat dibuka melemah hampir 1 persen dan ditutup turun 0,46 persen pada perdagangan Selasa (21/4/2026).
PIXABAY/PETE LINFORTH Ilustrasi pasar saham.Sektor industrial menahan pelemahan indeks dengan menguat sebesar 2,58 persen ditopang oleh saham BNBR yang menguat 11,65 persen.
Meskipun mencatatkan pelemahan, 9 dari 11 sektor justru mencatatkan penguatan.
Ia memperkirakan IHSG pada perdagangan Rabu (22/4/2026) menguat terbatas.
Indeks diprediksi akan bergerak dengan level resistance terdekat di kisaran 7.780, sementara area support di level 7.500.
Sejalan dengan proyeksi tersebut, sejumlah saham dapat dicermati untuk strategi trading jangka pendek.
PT PP Presisi Tbk (PPRE) direkomendasikan untuk trading buy pada area Rp 135 - Rp 147, dengan target harga di kisaran Rp 163 hingga Rp 170, serta batas risiko (setop loss) di bawah Rp 130.
Selain itu, PT MAP Aktif Adiperkasa Tbk (MAPA) juga menarik diperhatikan dengan strategi trading buy di rentang Rp 640 hingga Rp 660.
Saham ini memiliki potensi kenaikan menuju target harga Rp 685 hingga Rp 700, dengan setop loss di bawah level Rp 630.
Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Teknologi AI Real-Time Dorong Investor Ritel Lebih Adaptif di Pasar Saham
Transformasi teknologi dalam industri pasar modal kian mengarah pada pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan data real-time. [933] url asal
#investasi #pasar-modal #investor-ritel #ipot
(Kompas.com - Money) 21/04/26 20:49
v/198440/
JAKARTA, KOMPAS.com — Transformasi teknologi dalam industri pasar modal kian mengarah pada pemanfaatan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan data real-time.
Di tengah perubahan tersebut, PT Indo Premier Sekuritas melalui platform IPOT memperkenalkan pendekatan trading saham berbasis AI real-time dan indikator live yang diklaim mampu meningkatkan kualitas pengambilan keputusan investor.
Chief Marketing Officer IPOT Sergio Ticoalu mengatakan, langkah ini tidak sekadar inovasi teknologi, tetapi juga bagian dari perubahan struktural dalam industri investasi.
FREEPIK/RAWPIXEL.COM Ilustrasi investor, investasi saham, investor saham.“Tidak hanya sebagai inovasi teknologi, langkah ini juga menjadi bagian dari transformasi industri, di mana akses terhadap sistem trading yang sebelumnya identik dengan investor institusi kini mulai terbuka untuk investor ritel,” ujar Sergio dalam keterangan resmi, Selasa (21/4/2026).
Pergeseran ke sistem real-time
Perkembangan pasar global telah menunjukkan bahwa penggunaan data real-time, algoritma, serta analisis order flow menjadi standar dalam pengambilan keputusan investasi, khususnya di pasar maju seperti Amerika Serikat.
Namun, di Indonesia, sebagian broker retail masih menggunakan sistem trading konvensional yang dinilai belum sepenuhnya mengikuti dinamika pasar modern.
Kondisi ini dinilai dapat menyebabkan keputusan investasi menjadi kurang relevan dengan situasi pasar yang bergerak cepat dan volatil.
Keterlambatan informasi, meskipun dalam skala kecil, disebut dapat berdampak signifikan terhadap hasil trading, mulai dari entry yang tidak optimal hingga exit yang terlambat.
FREEPIK/FREEPIK Ilustrasi investor, investor saham, investor ritel.Menjawab kondisi tersebut, IPOT menghadirkan berbagai fitur berbasis AI yang memungkinkan investor memantau pergerakan pasar dalam waktu singkat. Fitur tersebut antara lain AI Live, Bandar Action, LADI, serta Hit Action yang terdiri dari HAKA dan HAKI.
Melalui fitur-fitur ini, data pasar yang sebelumnya hanya berupa angka diolah menjadi insight yang lebih mudah dipahami oleh investor.
Selain itu, keberadaan Live Order Book dan Order Queue disebut memberikan transparansi lebih tinggi terhadap dinamika permintaan dan penawaran di pasar saham.
Perubahan cara pengambilan keputusan
Sergio menjelaskan, pendekatan berbasis AI real-time mengubah cara investor dalam mengambil keputusan investasi.
Jika sebelumnya keputusan kerap didasarkan pada opini, rumor, atau data yang tertunda, kini investor dapat merujuk langsung pada kondisi pasar yang sedang berlangsung.
Dalam praktiknya, penggunaan data real-time dan analisis berbasis AI dinilai membantu investor mengidentifikasi momentum lebih cepat, menghindari keterlambatan dalam entry, serta menyusun strategi trading yang lebih terukur.
Pendekatan ini juga dinilai dapat mengurangi ketergantungan pada spekulasi, karena investor memiliki akses terhadap data yang lebih komprehensif dan terkini.
Infrastruktur dan kapasitas teknologi
Dari sisi infrastruktur, IPOT disebut dibangun dengan arsitektur yang berbeda dibandingkan aplikasi trading konvensional.
Sistem yang digunakan dirancang berbasis real-time dengan latency rendah serta kemampuan pemrosesan data dalam jumlah besar. Hal ini dinilai penting untuk mendukung kebutuhan analisis pasar yang semakin kompleks.
SHUTTERSTOCK/FEYLITE Ilustrasi saham.Sergio menyebutkan bahwa IPOT didukung oleh dana kelolaan sekitar Rp 312 triliun serta investasi teknologi dalam skala besar.
Kombinasi antara infrastruktur teknologi, kecerdasan data, dan dukungan kapital menjadi fondasi dalam pengembangan sistem AI trading yang stabil dan scalable.
Dengan kapasitas tersebut, platform ini diklaim mampu mengikuti dinamika pasar modern yang bergerak dalam hitungan detik.
Aspek keamanan sistem
Selain performa, aspek keamanan juga menjadi perhatian dalam pengembangan platform trading.
IPOT menghadirkan sistem perlindungan berbasis server dengan mekanisme anti-phishing berlapis. Sistem ini dirancang untuk mendeteksi aktivitas mencurigakan, mencegah akses ilegal, serta melindungi pengguna dari potensi ancaman seperti malware dan remote access.
Dengan pendekatan ini, investor tidak hanya mendapatkan akses terhadap teknologi trading yang lebih canggih, tetapi juga perlindungan terhadap dana yang mereka kelola.
Dalam konteks meningkatnya risiko kejahatan siber, aspek keamanan menjadi salah satu faktor penting dalam penggunaan aplikasi investasi berbasis digital.
Penguatan melalui riset berbasis data
IPOT juga melengkapi ekosistemnya dengan layanan riset bernama IPOT Views.
Layanan ini menyediakan analisis berbasis data yang membantu investor memahami kondisi pasar secara lebih objektif. Dengan adanya riset yang terstruktur, ketergantungan terhadap rumor dan narasi spekulatif diharapkan dapat berkurang.
Pendekatan berbasis data ini disebut memungkinkan investor membangun strategi yang lebih rasional dalam melakukan trading saham.
canva.com Ilustrasi investor saham.Penguatan riset dinilai menjadi elemen penting dalam ekosistem investasi modern, terutama di tengah arus informasi yang semakin cepat dan beragam.
Akses teknologi secara gratis
IPOT membuka akses penggunaan aplikasi berbasis AI real-time secara gratis, termasuk bagi investor yang sebelumnya menggunakan sekuritas lain.
Langkah ini disebut sebagai upaya untuk memperluas adopsi teknologi dalam trading saham di Indonesia.
Selain itu, kebijakan ini juga ditujukan untuk mendorong perubahan pola trading dari pendekatan manual menuju sistem berbasis AI dan data real-time.
Di tengah kompetisi pasar yang semakin ketat, penggunaan teknologi dinilai menjadi faktor pembeda yang signifikan.
Investor yang memiliki akses terhadap data real-time dan sistem analisis canggih disebut berada dalam posisi yang lebih unggul dibandingkan mereka yang masih menggunakan sistem dengan keterbatasan informasi.
Hal ini menunjukkan, performa dalam trading saham tidak hanya ditentukan oleh keberanian, tetapi juga oleh kualitas data serta sistem yang digunakan.
Transformasi industri trading saham
Perkembangan teknologi AI dalam trading saham disebut menandai babak baru dalam industri pasar modal Indonesia.
Dalam kondisi pasar yang bergerak sangat cepat, kecepatan dan akurasi informasi menjadi faktor utama dalam pengambilan keputusan investasi.
Tanpa data real-time, investor berpotensi tertinggal dalam merespons perubahan pasar. Sementara tanpa dukungan sistem berbasis AI, kompleksitas data pasar menjadi lebih sulit untuk dianalisis secara efektif.
“Dengan hadirnya teknologi trading berbasis AI real-time, investor kini memiliki peluang untuk mengambil keputusan yang lebih cepat, lebih akurat, dan lebih relevan dengan kondisi market yang sebenarnya,” ujar Sergio.
Perkembangan ini sekaligus menunjukkan pergeseran menuju ekosistem investasi yang lebih berbasis teknologi, di mana integrasi antara data, analisis, dan sistem menjadi elemen utama dalam aktivitas trading saham di Indonesia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Gen Z Dominasi Pasar Modal, Cara Investasi Saham Ikut Berubah
Akses teknologi kini tidak lagi terbatas pada investor institusi. [247] url asal
#investor-gen-z #pasar-saham-indonesia #investasi-saham #data-real-time #ai-trading #investor-ritel #milenial-investasi #aplikasi-saham #teknologi-finansial #pasar-modal
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Investor pasar modal Indonesia semakin didominasi generasi muda. Bursa Efek Indonesia mencatat mayoritas investor ritel kini berasal dari kelompok usia di bawah 40 tahun, dengan kontribusi terbesar dari milenial dan Gen Z.
Dominasi ini mendorong perubahan cara berinvestasi. Investor muda cenderung mengandalkan teknologi, mulai dari data real-time hingga fitur berbasis kecerdasan buatan untuk membaca pergerakan pasar.
Kebutuhan terhadap informasi yang cepat dan akurat menjadi semakin krusial di tengah fluktuasi pasar. Keterlambatan data berisiko memengaruhi keputusan saat membeli atau menjual saham.
Chief Marketing Officer PT Indo Premier Sekuritas Sergio Ticoalu mengatakan, akses teknologi kini tidak lagi terbatas pada investor institusi. “Akses terhadap sistem trading yang sebelumnya identik dengan investor institusi kini mulai terbuka untuk investor ritel,” kata Sergio, Selasa (21/4/2026).
Sergio menjelaskan data real-time memungkinkan investor memantau pasar dalam hitungan detik. Dengan begitu, keputusan investasi dapat diambil berdasarkan kondisi aktual.
Menurut dia, perubahan ini juga tercermin dari semakin banyaknya platform yang menyediakan fitur analisis berbasis data. Teknologi digunakan untuk membantu investor membaca dinamika pasar secara lebih terukur.
Di sisi lain, peningkatan jumlah investor muda membawa tantangan baru terkait literasi. Pemahaman risiko dan kemampuan mengolah data menjadi faktor penentu agar keputusan tidak sekadar mengikuti tren.
Sejumlah aplikasi mulai menghadirkan fitur analisis berbasis AI dan pemantauan transaksi. Aplikasi IPOT, misalnya, menyediakan data real-time untuk membantu investor dalam pengambilan keputusan.
Perubahan perilaku ini menandai pergeseran di pasar saham domestik. Kecepatan akses informasi dan kemampuan analisis menjadi faktor utama dalam menentukan hasil investasi.
Saham Kandidat MSCI Melemah, Investor Ritel Disarankan Tenang dan Tak Panic Selling
Beberapa emiten kandidat MSCI melemah, namun para ahli menyarankan investor ritel tetap rasional. Simak analisis dan strategi terbaik hadapi sentimen pasar. [825] url asal
#investor-ritel #strategi-investasi #msci #saham-emiten
(Kompas.com - Money) 21/04/26 14:39
v/197920/
JAKARTA, KOMPAS.com - Beberapa emiten yang sebelumnya digadang-gadang masuk indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) tercatat mengalami pelemahan pada perdagangan Selasa (21/4/2026).
Meski demikian, investor ritel diminta tetap bersikap rasional dan tidak terburu-buru melepas saham di tengah sentimen negatif pasar.
Emiten yang digadang-gadang masuk indeks MSCI periode Mei 2026 di antaranya;
PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI), PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), PT Petrosea Tbk (PTRO). Pergerakan empat saham menunjukkan dinamika yang cukup beragam pada awal sesi kedua perdagangan Selasa ini.
PANI justru tampil relatif kuat dengan kenaikan ke 8.900 atau menguat sekitar 1,71 persen.
Di sisi lain, tekanan terlihat pada ADMR yang turun ke 1.865 atau melemah 2,10 persen.
Saham ini sempat dibuka di area lebih tinggi sekitar 1.900, namun mengalami tekanan jual dan bergerak sideways di kisaran 1.855-1.870.
Hal serupa juga terjadi pada BUMI yang terkoreksi ke level 238 atau turun 1,65 persen.
Pergerakan BUMI terlihat sangat terbatas dalam rentang sempit 238-244.
Berbeda dengan dua saham tersebut, PTRO justru mencatatkan penguatan signifikan sebesar 4,94 persen ke level 6.375.
Saham ini sempat menyentuh angka rendah di 5.925, sebelum berbalik naik secara konsisten hingga mencapai puncak di 6.500.
Untuk diketahui MSCI merupakan perusahaan riset investasi global yang menyusun berbagai indeks saham untuk mengukur kinerja pasar di berbagai wilayah dan kategori.
Indeks MSCI menjadi acuan utama bagi investor asing dalam menilai kondisi pasar saham, baik di negara maju, berkembang (emerging market), hingga pasar perbatasan (frontier market), serta lintas sektor industri.
Indeks ini mencakup saham-saham berkapitalisasi besar dan menengah yang dipilih berdasarkan sejumlah kriteria, seperti likuiditas, free float, dan aksesibilitas investasi, sehingga mampu merefleksikan kondisi pasar secara representatif.
Masuknya suatu saham ke dalam indeks MSCI umumnya memberikan sentimen positif.
Hal ini karena saham tersebut berpotensi dibeli oleh investor institusi global, khususnya dana pasif (passive funds) yang mengikuti komposisi indeks.
Peningkatan permintaan tersebut kerap mendorong kenaikan harga saham sekaligus meningkatkan likuiditas di pasar.
Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Azharys Hardian, mengatakan pelemahan pada saham-saham kandidat MSCI masih tergolong wajar dan tidak mencerminkan penurunan fundamental perusahaan.
Ia menilai, dinamika yang terjadi pada sesi satu perdagangan 21 April menunjukkan bahwa tekanan harga lebih dipicu oleh sentimen pasar dibandingkan perubahan kinerja emiten. “Berdasarkan pantauan pada sesi satu perdagangan 21 April, emiten-emiten yang sebelumnya digadang-gadang masuk indeks MSCI memang mengalami pelemahan tipis, namun bukan berarti kehilangan daya tarik fundamentalnya. Selama analisis terhadap kinerja perusahaan masih solid, strategi akumulasi bertahap tetap bisa dijalankan,” ucap Azharys saat dihubungi Kompas.com.
Strategi Investor Ritel Saat Pasar Bergejolak
Menurutnya, bagi investor ritel, menyikapi kondisi pasar dengan kepala dingin menjadi hal utama.
Selama analisis terhadap kinerja perusahaan masih solid, strategi akumulasi bertahap masih relevan untuk dilakukan.
Ia juga menekankan bahwa investor yang telah memiliki posisi di saham tersebut, keputusan untuk menahan (hold) jauh lebih rasional dibandingkan melakukan aksi jual panik (panic selling). “Jika Anda sudah memiliki posisi di saham-saham tersebut, pilihan untuk hold jauh lebih rasional ketimbang melakukan panic selling, mengingat probabilitas terjadinya drawdown tajam seperti kejadian Januari lalu relatif kecil. Tetap fokus pada nilai intrinsik saham,” paparnya.
Sementara itu, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai tekanan terhadap IHSG dalam dua hari terakhir tidak terlepas dari sentimen MSCI yang memberikan catatan khusus terhadap saham-saham Indonesia.
Nafan mengatakan keputusan MSCI menciptakan ketidakpastian di pasar, sehingga wajar jika direspons dengan pelemahan indeks. “Ini memang menjadi sentimen negatif karena menciptakan ketidakpastian. Dan wajar jika tecermin pada pelemahan IHSG dalam dua hari terakhir,” ungkap Nafan saat dihubungi Kompas.com.
Meski demikian, ia menilai posisi Indonesia yang masih berada dalam kategori emerging market menjadi faktor penopang penting dibandingkan jika turun ke kategori frontier market. Namun, Nafan mengingatkan adanya potensi penurunan bobot Indonesia dalam indeks MSCI Emerging Markets, yang dapat membuat investor global cenderung membatasi eksposur ke pasar domestik.
Kondisi tersebut juga tecermin dari aktivitas investor asing yang relatif tidak dominan sepanjang tahun ini, baik dari sisi pembelian maupun penjualan harian. “Arus dana asing sebenarnya sudah terjadi dan sebagian besar sudah terpricing. Manajer investasi global memang harus melakukan rebalancing portofolio, sehingga penyesuaian ini merupakan hal yang wajar,” jelasnya.
Lebih lanjut, Nafan menyoroti isu high shareholding concentration yang berpotensi menekan likuiditas saham.
Menurutnya, konsentrasi kepemilikan yang tinggi membuat saham menjadi kurang likuid dan berisiko bagi investor global.
Untuk itu, ia menilai penguatan tata kelola perusahaan (good corporate governance) menjadi kunci untuk meningkatkan likuiditas dan menarik kembali minat investor. “Dengan perbaikan tersebut, bukan tidak mungkin terjadi re-rating valuasi, baik dari sisi price to book value (PBV) maupun indikator lainnya,” katanya.
Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham.Seluruh rekomendasi berasal dari analis sekuritas. Keputusan investasi menjadi tanggung jawab investor. Pastikan melakukan riset mandiri sebelum menentukan pilihan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarangKPK Soroti Risiko Kejahatan Korporasi di Industri Pasar Modal
KPK mengingatkan risiko kejahatan korporasi di pasar modal, seperti manipulasi pasar dan penyalahgunaan dana nasabah, yang merugikan investor dan ekonomi. [336] url asal
#manipulasi-pasar #kejahatan-korporasi #penyalahgunaan-dana-nasabah #risiko-pasar-modal #fraud-pasar-modal #kpk-pasar-modal #korupsi-pasar-modal #investor-ritel #kredibilitas-ekonomi #transaksi-semu
(Bisnis.Com - Terbaru) 21/04/26 10:30
v/197560/
Bisnis.com, JAKARTA - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengingatkan para pelaku industri pasar modal terkait tingginya risiko kejahatan korporasi mulai dari manipulasi pasar hingga penyalahgunaan dana nasabah.
Hal itu diungkapkan oleh Direktur Pembinaan Peran Serta Masyarakat (Permas) KPK, Kunto Ariawan, dalam sosialisasi antikorupsi bersama PT RHB Sekuritas Indonesia, pada Jumat (17/4/2026).
Dia menjelaskan melalui acara tersebut pihaknya membongkar berbagai modus fraud dan korupsi, mulai dari manipulasi pasar (pump and dump) hingga penyalahgunaan Rekening Dana Nasabah (RDN) yang merugikan investor ritel serta merusak kredibilitas ekonomi nasional.
“Dalam kasus penyalahgunaan dana atau efek nasabah, terdapat praktik penggunaan Rekening Dana Nasabah tanpa izin, bahkan menjual saham nasabah tanpa instruksi sah,” ungkap Kunto dalam keterangan tertulis, dikutip pada Selasa (20/4/2026).
Dia menyebut perusahaan sekuritas atau oknum internal berpotensi menjadi penyebab fraud di sektor pasar modal. Menurutnya, manipulasi pasar merupakan modus yang kerap ditemukan.
Modus tersebut dikemas dengan cara melakukan transaksi berlebihan untuk komisi (churning), rekayasa harga penutupan (marking the close), serta manipulasi pasar melalui transaksi semu dan penyebaran rumor palsu.
Praktik itu berpotensi merugikan investor ritel dan merusak kepercayaan publik terhadap pasar modal. Para pihak tidak bertanggung jawab juga kerap memberikan informasi tidak benar, seperti menjanjikan keuntungan di instrumen saham yang memiliki risiko fraud besar atau menutupi fakta material emiten.
Kunto menyampaikan modus lainnya berupa transaksi di luar sistem resmi (off-market dealings). Umumnya nasabah diminta mengirimkan uang ke rekening pribadi oknum dengan janji memberikan hasil tinggi atau akses saham ekslusif yang ternyata palsu.
Walhasil, Kunto menegaskan bahwa penting pencegahan korupsi di sektor tersebut dan penguatan tata kelola perusahaan. Dia menuturkan bahwa hal ini sejalan dengan
Peraturan Mahkamah Agung Nomor 13 Tahun 2016 tentang Tata Cara Penanganan Perkara Tindak Pidana oleh Korporasi, yang membuka ruang pemidanaan terhadap korporasi sebagai subjek hukum pidana.
“Pencegahan korupsi di sektor swasta, fokus pada pembangunan sistem bersifat self-assessment, praktis, dan dapat disesuaikan dengan ukuran serta kapasitas korporasi,” jelasnya.
Upaya pencegahan lainnnya adalah pengendalian gratifikasi, pengelolaan konflik kepentingan, serta penerapan prinsip good corporate governance yang mencakup transparansi, akuntabilitas, tanggung jawab, independensi, serta kewajaran.
Euforia Saham WBSA Usai IPO, Naik 307 Persen, Risiko Ritel Mengintai
Saham WBSA melonjak tajam memicu UMA. Di balik euforia, investor ritel dihadapkan risiko besar seperti capital loss dan volatilitas ekstrem. [868] url asal
#investor-ritel #volatilitas-saham #wbsa #saham-wbsa #unusual-market-activity-uma
(Kompas.com - Money) 17/04/26 16:49
v/194762/
JAKARTA, KOMPAS.com - Lonjakan harga saham hingga ratusan persen kerap menciptakan euforia di pasar.
Namun di balik reli tajam itu, investor ritel justru berada di posisi paling rentan, terancam masuk di harga puncak dan menanggung risiko kerugian besar ketika tren berbalik arah.
Saat ini, PT Bursa Efek Indonesia (BEI) telah memberikan status unusual market activity (UMA) terhadap saham PT BSA Logistics Indonesia Tbk (WBSA). Status ini diberikan bursa setelah harga saham WBSA melonjak signifikan dalam waktu singkat pada Kamis (16/4/2026).
PIXABAY/PETE LINFORTH Ilustrasi pasar saham.Istilah UMA digunakan bursa untuk menandai pergerakan harga atau aktivitas perdagangan suatu saham yang tidak wajar dibandingkan pola normalnya.
Artinya, UMA sebagai peringatan dini bahwa ada sesuatu yang “tidak biasa” pada suatu saham baik dari sisi lonjakan harga, volume, maupun frekuensi transaksi.
Berdasarkan data BEI, saham WBSA menunjukkan pergerakan agresif dengan menyentuh batas auto reject atas (ARA) saat penutupan perdagangan Jumat (17/4/2026). Harga saham ditutup di level 685 atau melonjak 24,55 persen.
Sepanjang tahun berjalan (year to date/ytd), saham ini telah melesat hingga 307,74 persen, sebuah lonjakan yang jauh melampaui rata-rata pergerakan pasar.
Padahal, WBSA mencatatkan sahamnya di pasar modal pada Jumat (10/7/2026).
Perusahaan logistik itu menjadi emiten pertama yang melakukan penawaran umum perdana saham (IPO) pada tahun 2026.
Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Ahmad Faris Mu’tashim, menilai kenaikan harga saham WBSA tidak sepenuhnya tanpa dasar.
SHUTTERSTOCK/THAPANA STUDIO Ilustrasi aturan free float saham.Dari sisi fundamental, perusahaan mencatat pertumbuhan laba yang cukup signifikan.
Mengacu pada data prospektus WBSA, net profit annualized meningkat dari sekitar Rp 10 miliar pada 2024 menjadi Rp 33 miliar pada 2025.
Kenaikan lebih dari tiga kali lipat ini memicu ekspektasi pasar terhadap potensi re-rating valuasi saham.
“Kalau melihat laporan keuangan di prospektus memang ada pertumbuhan yang cukup signifikan dari data net profit annualized di 2024 sebesar Rp 10 miliar di 2024 menjadi Rp 33 miliar di 2025. Sehingga ada fase euforia seiring potensi re-rating saham tersebut karena pertumbuhan laba yang naik lebih dari tiga kali lipat,” ujar Faris saat dihubungi Kompas.com, Jumat.
Selain faktor fundamental, lonjakan harga juga didorong oleh kecilnya penjatahan saham saat penawaran awal, yakni hanya sekitar 2 sampai 3 lot untuk pemesanan di bawah Rp 100 juta dan sekitar 0,2 persen untuk pemesanan di atas Rp 100 juta, menyebabkan pasokan saham yang beredar di publik menjadi sangat terbatas.
Kondisi itu membuat permintaan investor yang tinggi tidak dapat terpenuhi di pasar primer.
Akibatnya, sisa permintaan tersebut beralih ke pasar sekunder, di mana investor saling berebut saham dengan jumlah yang terbatas.
Ketidakseimbangan antara demand yang sangat besar dan supply yang minim inilah kemudian mendorong harga saham naik secara agresif, bahkan cenderung eksponensial dalam waktu singkat.
“Kecilnya penjatahan sebesar 2-3 lot untuk order di bawah Rp 100 juta dan 0,2 persen untuk order di atas Rp 100 juta sehingga membuat supply tidak bisa mengimbangi demand. Sehingga sisa order akan beralih ke pasar sekunder, yang membuat demand yang terlalu dominan dibandingkan supply dan membuat harga naik secara eksponensial,” paparnya.
PIXABAY/SERGEI TOKMAKOV Ilustrasi saham.Lebih jauh, ia memandang pergerakan harga tidak otomatis dapat dikategorikan sebagai praktik manipulasi seperti pump and dump.
Dari sisi regulasi, saham WBSA telah memenuhi ketentuan free float atau jumlah saham publik yang beredar dengan porsi 20,75 persen, sesuai aturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
“Saham yang bergerak ARA beruntun terjadi karena demand yang tidak bisa diimbangi oleh supply yang tersedia, namun bukan berarti transaksi tersebut merupakan pump and dump. Dan mengacu pada data free float di bursa, WBSA memiliki free float 20,75 persen sehingga sudah sesuai dengan aturan OJK yang baru mengenai free float,” tukas Faris.
Namun di balik lonjakan tersebut, risiko yang dihadapi investor, terutama investor ritel, justru meningkat tajam.
Kenaikan harga yang terlalu cepat umumnya diikuti dengan potensi koreksi yang dalam, bahkan penurunannya bisa berlangsung lebih cepat dibandingkan fase kenaikan.
Investor ritel menjadi pihak yang paling rentan, terutama jika masuk di fase akhir euforia.
Tanpa strategi yang matang, potensi keuntungan yang terlihat di layar bisa dengan cepat berubah menjadi kerugian (capital loss).
“Investor ritel akan menanggung kerugian capital loss, jika tidak punya strategi yang memumpuni untuk menghadapi volatilitas di saham dengan market cap kategori third liner,” ucapnya.
“Bahkan, skenario worst case-nya di suspend lama, dan terancam delisting, sehingga jika memang tidak memiliki waktu yang memumpuni cukup berada di saham big caps dan second liner saja yang memiliki volatilitas lebih stabil,” lanjut Faris.
Sebagai langkah mitigasi, investor disarankan untuk mencermati sejumlah indikator awal.
Spread antara bid dan offer yang terlalu lebar, serta antrean beli besar yang tiba-tiba menghilang, dapat menjadi sinyal adanya volatilitas ekstrem dan risiko likuiditas.
Bagi investor yang tidak memiliki waktu dan kesiapan untuk memantau pergerakan pasar secara aktif, Faris menyarankan untuk lebih fokus pada saham berkapitalisasi besar (big caps) atau second liner yang cenderung memiliki pergerakan lebih stabil.
“Untuk indikator yang bisa dilihat adalah spread yang terlalu lebar antara bid dan offer serta order yang kurang rasional, seperti antrean bid besar yang tiba-tiba hilang. Sehingga memicu volatilitas ekstrem,” ungkapnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Investasi Tanpa Ribet, Ini Strategi 90/10 ala Warren Buffett
Melalui apa yang dikenal sebagai metode 90/10, Buffett menawarkan pendekatan yang sederhana, murah, dan berbasis jangka panjang. [1,037] url asal
#investasi #investor-ritel #warren-buffett #strategi-investasi #reksa-dana-saham #tujuan-keuangan #indepth
(Kompas.com - Money) 17/04/26 11:28
v/194332/
JAKARTA, KOMPAS.com - Di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap investasi, terutama di kalangan investor ritel, muncul pertanyaan mendasar: apakah strategi investasi harus rumit untuk menghasilkan keuntungan optimal?
Bagi investor kawakan sekaligusbsalah satu orang terkaya di dunia Warren Buffett, jawabannya justru sebaliknya.
Melalui apa yang dikenal sebagai metode 90/10, Buffett menawarkan pendekatan yang sederhana, murah, dan berbasis jangka panjang, sebuah strategi yang dirancang khusus untuk investor ritel.
Warren Buffett dikenal menghabiskan sebagian besar waktunya untuk membaca. Berikut 10 buku yang paling sering ia rekomendasikan dan dinilai membentuk strategi investasinya.Metode investasi tersebut dapat menyederhanakan keputusan investasi tanpa mengorbankan potensi imbal hasil.
Apa itu metode 90/10?
Dikutip dari Investopedia, Jumat (17/4/2026), metode 90/10 merupakan strategi alokasi aset yang sangat sederhana. Buffett merekomendasikan agar investor menempatkan:
- 90 persen dana pada reksa dana saham berbiaya rendah yang mengikuti indeks pasar saham besar.
- 10 persen sisanya pada obligasi pemerintah jangka pendek
Strategi ini pertama kali diungkapkan dalam surat Buffett kepada pemegang saham Berkshire Hathaway pada 2013. Bahkan, Buffett menyarankan pendekatan yang sama untuk dana warisan keluarganya.
Ia menyatakan keyakinannya bahwa hasil jangka panjang dari strategi ini akan lebih baik dibandingkan sebagian besar investor, termasuk institusi yang menggunakan manajer investasi berbiaya tinggi.
Pendekatan ini berangkat dari dua asumsi utama. Pertama, pasar saham dalam jangka panjang cenderung naik seiring pertumbuhan ekonomi.
Kedua, sebagian besar investor tidak mampu secara konsisten mengalahkan pasar melalui pemilihan saham individual.
SHUTTERSTOCK/KINGN Ilustrasi nilai tukar rupiah.Mengapa fokus pada reksa dana saham?
Dalam strategi 90/10, porsi terbesar ditempatkan pada reksa dana saham berbiaya rendah. Instrumen ini mencerminkan kinerja pasar secara keseluruhan, bukan bergantung pada kinerja satu atau beberapa saham.
Menurut Investopedia, pendekatan ini didasarkan pada keyakinan Buffett bahwa sebagian besar investor “tidak memiliki keahlian untuk secara konsisten mengalahkan pasar.”
Dengan memilih reksa dana saham, investor secara otomatis terdiversifikasi ke ratusan perusahaan besar. Hal ini mengurangi risiko spesifik saham sekaligus memberikan eksposur terhadap pertumbuhan ekonomi secara luas.
Selain itu, biaya menjadi faktor penting. Buffett secara konsisten mengkritik biaya tinggi dari manajer investasi aktif.
Dalam suratnya kepada pemegang saham Berkshire Hathaway, ia menekankan pentingnya memilih instrumen dengan biaya rendah agar imbal hasil tidak tergerus oleh fee.
Peran obligasi sebagai penyeimbang risiko
Sementara 90 persen portofolio diarahkan ke saham melalui reksa dana saham, 10 persen sisanya ditempatkan pada obligasi pemerintah jangka pendek. Fungsi utamanya adalah sebagai penyeimbang risiko.
Obligasi memberikan stabilitas dan likuiditas, terutama saat pasar saham mengalami volatilitas. Dalam kondisi pasar turun, porsi obligasi dapat membantu mengurangi tekanan pada keseluruhan portofolio.
Kombinasi ini dirancang untuk menyeimbangkan pertumbuhan dan keamanan, di mana saham menjadi pendorong utama imbal hasil, sementara obligasi berfungsi sebagai bantalan risiko.
Sederhana, tetapi tidak selalu mudah
PIXABAY/NATTANAN KANCHANAPRAT Ilustrasi investasi. Menjelang akhir 2025, pasar keuangan kembali bergejolak. Para analis menyarankan investor tetap tenang dan disiplin agar peluang cuan tidak hilang di tengah ketidakpastian.Salah satu daya tarik utama dari metode 90/10 adalah kesederhanaannya. Investor tidak perlu melakukan analisis mendalam terhadap saham individual atau mencoba mengatur waktu pasar (market timing).
Namun, kesederhanaan ini tidak berarti tanpa tantangan. Strategi ini tetap membutuhkan disiplin tinggi, terutama dalam menghadapi fluktuasi pasar.
Dalam periode volatilitas, investor kerap tergoda untuk menjual saat harga turun atau membeli saat harga naik.
Padahal, filosofi di balik strategi investasi ini justru menekankan konsistensi dan investasi jangka panjang.
Pendekatan ini juga selaras dengan prinsip Buffett lainnya, yakni menghindari aktivitas trading berlebihan dan membiarkan investasi tumbuh melalui efek compounding.
Didukung uji akademis
Menariknya, strategi ini tidak hanya bersifat konseptual, tetapi juga telah diuji secara akademis.
Peneliti keuangan Javier Estrada melakukan simulasi terhadap strategi 90/10 dalam konteks investasi jangka panjang.
Hasilnya menunjukkan bahwa dengan penyesuaian tertentu, misalnya dalam pola penarikan dana, strategi ini tetap efektif bahkan dalam periode hingga 30 tahun.
Temuan ini memperkuat argumen bahwa pendekatan sederhana dapat bersaing, bahkan mengungguli strategi yang lebih kompleks dalam jangka panjang.
Tidak cocok untuk semua investor
Meski demikian, metode 90/10 bukanlah solusi universal. Komposisi yang sangat berat pada saham (90 persen) membuat strategi ini relatif agresif.
SHUTTERSTOCK/THAPANA STUDIO Ilustrasi aturan free float saham.Perlu diketahui, pendekatan ini mungkin kurang sesuai bagi investor yang sangat konservatif atau mereka yang sudah mendekati masa pensiun.
Investor dengan toleransi risiko rendah mungkin perlu mempertimbangkan alokasi yang lebih seimbang, seperti meningkatkan porsi obligasi untuk mengurangi volatilitas.
Dengan kata lain, meskipun prinsip dasarnya sederhana, implementasinya tetap perlu disesuaikan dengan profil risiko dan tujuan keuangan masing-masing individu.
Kritik terhadap manajemen investasi aktif
Salah satu pesan tersirat dari metode 90/10 adalah kritik terhadap industri manajemen investasi aktif.
Buffett telah lama menyatakan skeptisisme terhadap kemampuan manajer investasi dalam mengalahkan pasar secara konsisten.
Ia bahkan menyebut bahwa strategi sederhana ini berpotensi menghasilkan kinerja yang lebih baik dibandingkan portofolio yang dikelola secara aktif dengan biaya tinggi.
Hal ini sejalan dengan berbagai studi yang menunjukkan bahwa sebagian besar dana aktif gagal mengungguli indeks acuan mereka dalam jangka panjang, terutama setelah memperhitungkan biaya.
Relevansi bagi investor ritel
Dalam konteks investor ritel, terutama mereka yang baru memulai, metode 90/10 menawarkan pendekatan yang mudah dipahami dan diimplementasikan.
Alih-alih mencoba memilih saham “pemenang” atau mengikuti tren pasar, investor dapat fokus pada strategi yang lebih pasif namun konsisten.
Pendekatan ini juga relevan di era digital saat ini, di mana akses terhadap produk reksa dana indeks semakin luas dan biaya transaksi semakin rendah.
Lebih jauh, strategi ini membantu mengurangi bias emosional dalam investasi.
Krista Kennell/Shutterstock.com Warren Buffett.Dengan alokasi yang sudah ditentukan sejak awal, investor tidak perlu terus-menerus membuat keputusan yang dipengaruhi oleh kondisi pasar jangka pendek.
Menekankan perspektif jangka panjang
Pada akhirnya, metode 90/10 mencerminkan filosofi investasi Buffett yang lebih luas, yaitu kesabaran, disiplin, dan fokus pada jangka panjang.
Alih-alih mencari keuntungan cepat, strategi ini mengandalkan pertumbuhan bertahap melalui partisipasi dalam pasar secara keseluruhan.
Dalam lanskap investasi yang semakin kompleks, pendekatan ini justru menegaskan bahwa kesederhanaan dapat menjadi keunggulan.
Bagi investor rata-rata, mengikuti pasar dengan biaya rendah dan menjaga konsistensi mungkin merupakan langkah yang lebih realistis dibandingkan mencoba mengalahkan pasar.
Strategi investasi ini pada akhirnya bukan hanya tentang alokasi aset, tetapi juga tentang cara berpikir dalam berinvestasi, yaitu menghindari kompleksitas yang tidak perlu dan berfokus pada prinsip dasar yang telah teruji waktu.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Tenggat MSCI Kian Dekat, Investor Ritel Bisa Incar Saham Fundamenal yang Bagi Dividen
Jelang tenggat MSCI, investor sebaiknya fokus memosisikan portofolio di saham-saham yang memiliki fundamental yang baik dengan valuasi yang murah. [562] url asal
(Kompas.com - Money) 17/04/26 07:58
v/194092/
JAKARTA, KOMPAS.com - Tenggat waktu terkait teguran Morgan Stanley Capital International (MSCI) sudah semakin dekat. Bursa dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memperlihatkan keseriusan dalam membenahi struktur pasar dan menerima masukan-masukan dari para pelaku pasar.
Senior Portfolio Manager Equity Manulife Aset Manajemen Indonesia Rizki Ardhi mengatakan, ketersediaan data yang lebih granular dan transparan, serta keterbukaan informasi yang jauh lebih baik, merupakan perkembangan yang sangat positif bagi pasar.
Ketika asumsi terburuk terjadi, Indonesia akan mengalami penurunan kelas dari emerging market ke frontier market.
Dalam skenario terburuk tersebut, tentunya akan ada tekanan jual yang besar dari investor asing yang harus melakukan penyesuaian portofolio. Di sisi lain, ada pula investor yang mencari peluang untuk membeli saham di valuasi yang sangat murah.
Ia menjelaskan, market clearing event akan terjadi. Hal itu adalah sebuah momen atau situasi ketika penawaran (supply) sama dengan permintaan (demand) dalam suatu pasar, sehingga menghasilkan keseimbangan harga dan semua pesanan beli dapat dipenuhi oleh pesanan jual.
"Oleh karena itu, investor sebaiknya fokus memosisikan portofolio di saham-saham yang memiliki fundamental yang baik dengan valuasi yang murah, yang mampu menghasilkan free cash flow yang bisa digunakan untuk membagikan dividen ataupun melakukan buyback," kata dia dalam keterangan tertulis, Jumat (17/4/2026).
Ia menambahkan, saham-saham ini memiliki probabilitas yang lebih besar untuk menarik perhatian investor saat valuasinya turun.
Namun demikian, Rizki bilang, dalam skenario yang lebih positif atau ketika konflik geopolitik mereda dan MSCI mempertahankan Indonesia sebagai bagian dari saham emerging market, investor dapat menerapkan strategi yang berbeda.
"Saham-saham yang sensitif terhadap dollar AS dan harga minyak mentah dunia akan bergerak naik lebih cepat. Namun dalam jangka panjang, kami melihat sektor konsumsi yang sudah cukup murah bisa menjadi positif dengan penurunan input cost seperti biaya bahan baku dan operasional, serta percepatan pertumbuhan ekonomi Indonesia," terang dia.
Di sektor komoditas, ia menyebut, ada beberapa komoditas yang memiliki defisit atau tren struktural, seperti tembaga, aluminium, dan emas, yang mana produsennya akan diuntungkan.
Dalam mengelola portofolio reksa dana saham, Manulife Aset Manajemen menerapkan diversifikasi yang optimal dan memosisikan portofolio untuk jangkauan skenario yang luas.
Komoditas dan energi menjadi sektor yang bisa memberikan perlindungan terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah yang meningkat.
Selain itu, harga energi memiliki kecenderungan untuk tetap tinggi beberapa waktu ke depan dan banyak negara-negara yang mulai bergerak untuk melakukan diversifikasi energi ke sumber lainnya, seperti batu bara dan juga biodiesel.
Sementara untuk sektor komoditas akan lebih selektif. Pasalnya secara garis besar permintaan akan turun akibat risiko stagflasi, tetapi ada beberapa komoditas yang berada dalam kondisi defisit atau pasokan lebih sedikit dibandingkan potensi permintaan ke depan.
Hal tersebut terdorong olehperubahan tren yang lebih struktural seperti transisi energi bersih, elektrifikasi, dan lain-lain.
"Sektor domestik seperti konsumsi juga sudah cukup murah dan akan beranjak lebih positif bila situasi geopolitik membaik dan pertumbuhan ekonomi Indonesia terus meningkat," tutup dia.
Sebagai informasi, tenggat waktu respons atau penyelesaian aturan terkait evaluasi MSCI terutama aturan free float minimum 15 persen ditetapkan pada Mei 2026.
Disclaimer: Artikel ini bukan ajakan untuk membeli atau menjual saham. Semua rekomendasi dan analisis saham berasal dari analis sekuritas yang bersangkutan, dan Kompas.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan atau kerugian yang timbul. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan investor. Pastikan untuk melakukan riset menyeluruh sebelum membuat keputusan investasi.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang#50 tag sepekan
#ihsg (164) #purbaya (113) #investasi (94) #ojk (90) #apbn (88) #danantara (67) #pertumbuhan ekonomi (61) #trump (61) #kemenkeu (58) #pertamina (57) #umkm (53) #bei (52) #pajak (48) #donald trump (47) #esdm (45) #menkeu (44) #himbara (36) #kementerian keuangan (36) #bahlil lahadalia (35) #emas (35) #bapanas (34) #pasar saham (34) #ekonomi indonesia (34) #bumn (32) #menteri keuangan (31) #kemnaker (30) #mbg (29) #djp (28) #btn (27) #imf (27) #ekspor (27) #perang dagang (26) #kementan (26) #bbm (25) #garuda indonesia (24) #pasar modal (24) #utang (24) #bri (23) #bank indonesia (23) #rupslb (23) #hilirisasi (23) #yassierli (22) #magang (22) #kebijakan fiskal (22) #amran sulaiman (22) #ppn (22) #whoosh (21) #bea cukai (21) #bitcoin (20) #komdigi (20)