Tren Menabung Bergeser ke Bank Digital, Punya Banyak Rekening Tak Lagi Relevan
Masyarakat perlahan tidak lagi melihat rekening bank hanya sebagai tempat menyimpan uang, tetapi juga alat mengatur arus keuangan sehari-hari.
(Kompas.com) 11/05/26 06:00 217250
JAKARTA, KOMPAS.com - Dian masih ingat ketika dia harus memiliki banyak rekening bank untuk mengatur keuangan keluarganya.
Satu rekening dipakai menerima gaji, rekening lain untuk kebutuhan rumah tangga, sementara tabungan anak dan investasi dipisahkan lagi di rekening bank berbeda.
"Dulu lumayan banyak rekening, tapi jujur banyak juga yang akhirnya nggak kepakai, jadi cuma numpuk saja," ujar Dian (35 tahun), ibu rumah tangga sekaligus karyawan swasta, kepada Kompas.com beberapa waktu lalu.
Kini kebiasaan itu berubah. Setelah dia beralih menggunakan bank digital yang memiliki fitur kantong di aplikasi mobile bankingnya.
Dengan fitur kantong digital itu, Dian mengaku, tidak lagi membutuhkan banyak rekening untuk memisahkan berbagai pos pengeluarannya.
"Lumayan berkurang. Sekarang cukup satu aplikasi saja, tapi tetap bisa misahin uang sesuai kebutuhan," ucapnya.
Fenomena yang dialami Dian mulai banyak terjadi seiring berkembangnya layanan bank digital di Indonesia. Memiliki banyak rekening di bank berbeda menjadi tak relevan lagi.
Masyarakat perlahan tidak lagi melihat rekening bank hanya sebagai tempat menyimpan uang, tetapi juga alat mengatur arus keuangan sehari-hari.
President International Association of Registered Financial Consultants (IARFC) Indonesia Aidil Akbar menilai fitur kantong digital membantu masyarakat membuat budgeting tanpa harus membuka banyak rekening.
Dia menyebut, fitur tersebut sebenarnya bukan hal baru. Konsep pemisahan uang secara digital sudah lebih dulu diperkenalkan sejumlah bank digital beberapa tahun terakhir dan mulai dipakai masyarakat yang ingin lebih disiplin mengatur keuangan.
"Memang kantong digital itu bisa membantu orang membuat budgeting. Saya tahu ada beberapa orang yang saya kenal yang menggunakan atau memanfaatkan fitur tersebut, terutama untuk mereka yang memang kesulitan dalam mengelola keuangan atau males membuat budgeting pakai kertas. Jadi kantong-kantong itu bisa dipakai lah, baik itu mau dipakai buat ditabung, mau dipakai buat investasi, itu kepakai sama mereka," jelas Aidil kepada Kompas.com, Senin (4/5/2026).
Meski demikian, Aidil menilai masyarakat belum tentu sepenuhnya meninggalkan kebiasaan memiliki banyak rekening. Alasannya, tidak semua bank digital menyediakan layanan keuangan yang lengkap dalam satu aplikasi.
"Tapi kalau memang ternyata layanannya ada atau produknya ada, itu sangat-sangat membantu banget. Jadi nggak perlu capek-capek buka akun di tempat lain," ucapnya.
Di level industri, tren tersebut mulai terlihat dari pertumbuhan bank digital dalam beberapa tahun terakhir.
Direktur Group Riset Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Seto Wardono mengatakan, simpanan di perbankan konvensional dan digital sama-sama tumbuh dalam beberapa tahun terakhir.
Namun, simpanan di bank digital mencatat pertumbuhan yang jauh lebih tinggi, yakni rata-rata dua digit per tahun sepanjang 2022-2026.
Demikian juga dengan pangsa simpanan bank digital yang juga meningkat, yaitu dari 0,8 persen pada Maret 2022 menjadi 1,8 persen pada Maret 2026.
"Ini menunjukkan bahwa preferensi menabung masyarakat di bank digital meningkat, namun tidak signifikan," kata Seto kepada Kompas.com, Rabu (6/5/2026).
Tak hanya itu, jumlah rekening bank digital juga melonjak signifikan. Pada Maret 2022, rekening bank digital hanya sekitar 4 persen dari total rekening bank umum. Namun pada Maret 2026, porsinya sudah mencapai sekitar 22 persen.
Menurutnya, pertumbuhan itu dipicu kemudahan pembukaan rekening secara digital dan integrasi bank dengan berbagai ekosistem digital, seperti marketplace, transportasi online, hingga kantong digital
"Beberapa bank digital juga berada dalam ekosistem digital misalnya marketplace, transportasi, e-wallet, sehingga meningkatkan engagement nasabah penyimpan dengan bank," jelasnya.
Di sisi lain, salah satu bank digital nasional melihat perubahan perilaku nasabah sebagai sinyal bahwa masyarakat kini membutuhkan layanan keuangan yang lebih praktis dan personal.
Head of Retail Banking Brand and Marketing Bank Jago Michael Hartawan mengatakan, fitur Kantong Jago dikembangkan dari kebiasaan masyarakat Indonesia yang sejak lama memisahkan uang berdasarkan kebutuhan tertentu.
Fitur ini terinspirasi fitur tersebut berasal dari kebiasaan tradisional masyarakat menyimpan uang di amplop, toples, atau wadah berbeda sesuai pos kebutuhan. Sehingga Bank jago melestarikan kebiasaan itu dalam bentuk digital.
"Kami percaya bahwa setiap uang punya tempat dan tujuan, maka kami mengembangkan fitur Kantong (pocket) di Aplikasi Jago, yang dapat dipersonalisasi hingga 60 Kantong," ucap Michael kepada Kompas.com, Selasa (5/5/2026).
Michael mengatakan saat ini nasabah semakin mengutamakan kemudahan, efisiensi, dan pengalaman keuangan yang seamless. Jika sebelumnya masyarakat membuka beberapa rekening untuk kebutuhan berbeda, kini pemisahan dana cukup dilakukan lewat satu aplikasi.
“Nasabah tampaknya semakin terbiasa mengatur keuangan mereka secara aktif, sehingga fitur yang memberikan kontrol, visibilitas, dan personalisasi menjadi semakin penting,” ujarnya.
Hingga Maret 2026, Bank Jago mencatat terdapat sekitar 43,2 juta kantong yang digunakan oleh 15,2 juta pengguna aplikasi. Rata-rata setiap pengguna memiliki hampir tiga kantong berbeda.
Kantong Pengeluaran menjadi fitur yang paling banyak digunakan, terutama untuk kebutuhan harian seperti makan, tagihan rutin, hingga alokasi dana musiman seperti THR dan kurban. Namun fitur tersebut juga mulai dimanfaatkan untuk investasi dan kebutuhan bisnis.
Perubahan ini menunjukkan bahwa fungsi rekening bank kini mulai bergeser. Rekening tidak lagi sekadar menjadi tempat menyimpan uang, melainkan pusat pengelolaan keuangan dalam satu aplikasi mulai dari budgeting, pembayaran, investasi, hingga akses pinjaman.
Di tengah perkembangan itu, kebiasaan menabung masyarakat pun ikut berubah. Menabung kini bukan lagi hanya soal menyisihkan uang, tetapi juga tentang bagaimana mengatur tujuan finansial secara lebih fleksibel, praktis, dan terukur dalam ekosistem digital.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang