Ekonomi Tak Pasti Bikin Menabung dan Investasi Tak Cukup, Ini Seni Kelola Uang Aman dan Bertumbuh

Ekonomi Tak Pasti Bikin Menabung dan Investasi Tak Cukup, Ini Seni Kelola Uang Aman dan Bertumbuh

Di tengah ancaman PHK dan inflasi, masyarakat mulai mencari cara menyeimbangkan tabungan dan investasi agar uang tetap aman.

(Kompas.com) 12/05/26 06:00 218437

JAKARTA, KOMPAS.com - Menabung saja terasa tidak cukup, tetapi berinvestasi penuh juga bukan pilihan yang selalu menenangkan di tengah ketidakpastian ekonomi seperti saat ini.

Alhasil, semakin banyak orang yang berupaya memutar otak mencari strategi agar uang yang dimiliki tetap aman, tetapi juga tetap bisa bertumbuh.

Di tengah kondisi seperti ini, mengelola uang perlahan menjadi sebuah “seni”.

Sebab, persoalannya bukan lagi sekadar soal seberapa besar penghasilan atau instrumen investasi apa yang dipilih, melainkan bagaimana menentukan porsi antara dana yang harus tetap aman dan dana yang bisa dibiarkan bertumbuh menghadapi risiko pasar.

Menjaga Uang Tetap Aman

Dalam situasi ekonomi yang belum stabil, menjaga dana darurat dan likuiditas kini menjadi perhatian utama masyarakat.

President International Association of Registered Financial Consultants (IARFC) Indonesia Aidil Akbar mengatakan, dalam situasi ekonomi yang belum stabil, masyarakat sebaiknya lebih dulu memperkuat likuiditas atau dana yang mudah diakses.

“Dalam kondisi ekonomi yang lebih enggak bagus, biasanya saya menganjurkan untuk saving dulu ya. Pegang likuiditas sebanyak mungkin,” ujar Aidil kepada Kompas.com, Senin (4/5/2026).

Sebab, ketidakpastian ekonomi membuat masyarakat harus lebih waspada terhadap berbagai kemungkinan, mulai dari ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) hingga kenaikan biaya hidup akibat inflasi. Dana cadangan menjadi penting agar kondisi keuangan tetap aman ketika terjadi pengeluaran mendadak.

Di situlah, menurut Aidil, letak seni pengelolaan uang di saat ekonomi tidak pasti, yaitu menjaga sebagian dana tetap aman tanpa menghentikan upaya mengembangkan aset untuk jangka panjang.

Saat Tabungan Saja Tak Lagi Cukup

FREEPIK/JCOMP Ilustrasi menabung, menabung harian.
Meski menjaga dana tetap aman penting, menabung saja dinilai belum cukup untuk mencapai tujuan finansial jangka panjang.

Aidil menilai produk tabungan dan deposito memiliki imbal hasil relatif kecil sehingga pertumbuhan dana berjalan lambat.

“Kalau kita punya tujuan keuangan jangka panjang, pakai produk jangka pendek ya otomatis akan tidak tercapai atau tercapainya lama. Kenapa? Karena produk tabungan itu hampir enggak ada bunganya, sekitar 0,5-1,5 persen. Apa yang bisa diharapkan dari situ? Dengan kata lain, untuk tujuan keuangan jangka panjang, sebaiknya uang kita diinvestasikan. Jangan cuma ditabung,” jelasnya.

Menurut Aidil, banyak orang merasa sudah rutin menabung, tetapi tujuan finansialnya tetap sulit tercapai. Salah satu penyebabnya adalah penggunaan instrumen jangka pendek untuk kebutuhan jangka panjang.

Selain itu, nominal tabungan yang terlalu kecil dibanding penghasilan juga membuat akumulasi dana berjalan lambat. Karena itu, Aidil menyarankan agar masyarakat menyisihkan gaji minimal 10-15 persen setiap bulan untuk tabungan maupun investasi.

Menurut dia, disiplin menyisihkan dana sejak awal menerima gaji menjadi salah satu kunci penting dalam membangun kebiasaan finansial yang sehat.

“Jadi setiap bulan itu bagusnya adalah begitu dia terima gaji, ini buat karyawan ya, langsung sisihkan misalnya 15 persen masuk ke tabungan dan jangan disentuh,” tegasnya.

Agar lebih disiplin, Aidil juga menyarankan pemisahan rekening atau penggunaan fitur kantong digital untuk mengatur uang sesuai tujuan keuangan.

Dengan memisahkan dana sesuai kebutuhan, uang untuk tabungan atau investasi tidak mudah terpakai untuk kebutuhan sehari-hari.

“Karena orang itu kalau nabung atau menyisihkan di rekening yang sama, itu pasti terpakai. Tapi kalau uangnya keluar dari main account, masuk ke sub-account, meskipun dari bank yang sama, tetap saja uangnya tidak kelihatan di rekening utama dia,” kata Aidil.

Bahkan, bagi orang yang sulit menahan godaan belanja, Aidil menyarankan agar tabungan diubah ke bentuk lain seperti emas atau mata uang asing agar tidak mudah digunakan.

Masyarakat Mulai Mencari Titik Seimbang

Dok. SHUTTERSTOCK Ilustrasi tabungan
Di tengah kondisi tersebut, tren pengelolaan keuangan masyarakat juga mulai mengalami pergeseran.

Direktur Group Riset Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Seto Wardono mengungkapkan, menabung masih menjadi pilihan utama masyarakat dalam mengelola keuangan.

Hal ini tercermin dari data simpanan di bank per Februari 2026 yang masih memiliki porsi sekitar 68 persen dari total aset keuangan individu. Sementara itu, porsi saham dan surat berharga negara (SBN) mencapai sekitar 32 persen.

Namun, porsi simpanan individu di bank tersebut menurun dari sekitar 73 persen pada 2023, sedangkan porsi saham dan SBN pada periode yang sama naik dari sekitar 27 persen pada 2023.

“Perkembangan ini menunjukkan bahwa instrumen investasi seperti saham dan SBN sudah mulai banyak diminati oleh masyarakat,” ungkap Seto kepada Kompas.com, Rabu (6/5/2026).

Data tersebut menunjukkan bahwa masyarakat kini mulai mencari titik seimbang antara menjaga dana tetap aman di tabungan dan mengembangkan aset melalui investasi.

Mengatur Porsi Tabungan dan Investasi

Perubahan perilaku masyarakat juga terlihat dari berkembangnya layanan pengelolaan keuangan digital.

Head of Retail Banking Brand and Marketing Bank Jago Michael Hartawan mengatakan, masyarakat kini tidak lagi hanya fokus menyimpan uang, tetapi juga mulai aktif menumbuhkan aset.

Menurutnya, fitur Kantong di aplikasi Bank Jago membantu masyarakat mengatur uang berdasarkan tujuan finansial masing-masing, mulai dari kebutuhan harian, tabungan, hingga investasi.

“Dengan Kantong, nasabah bisa ‘memberi makna’ pada setiap rupiah: mana untuk kebutuhan harian, tabungan, hingga tujuan jangka panjang. Tanpa harus membuka banyak rekening, mereka tetap bisa merasakan disiplin finansial dan kontrol yang lebih rapi,” kata Michael kepada Kompas.com, Selasa (5/5/2026).

Dia menjelaskan, kebutuhan masyarakat kini berkembang dari sekadar mengelola uang menjadi membangun portofolio investasi yang lebih terintegrasi.

Karena itu, Bank Jago menghadirkan integrasi dengan platform investasi seperti Bibit dan Stockbit agar pengguna dapat mengalokasikan dana sekaligus berinvestasi dalam satu ekosistem.

Selain itu, fitur Portofolio Investasi di aplikasi Jago juga memungkinkan nasabah melihat berbagai aset investasi dalam satu tampilan, termasuk investasi yang tercatat di Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).

“Dengan visibilitas ini, nasabah tidak lagi harus berpindah-pindah platform untuk memahami posisi keuangannya. Mereka bisa memantau nilai aset, komposisi portofolio, dan pergerakannya secara real-time,” jelasnya.

Pada akhirnya, mengelola uang di era ketidakpastian ekonomi seperti sekarang bukan lagi sekadar memilih menabung atau investasi. Seni pengelolaan keuangan justru terletak pada kemampuan membaca situasi, menentukan porsi, dan menjaga disiplin agar uang tetap aman tanpa kehilangan peluang untuk bertumbuh.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#jakarta #menabung #bank-jago

https://money.kompas.com/read/2026/05/12/060000726/ekonomi-tak-pasti-bikin-menabung-dan-investasi-tak-cukup-ini-seni-kelola-uang