Rupiah Tembus Level 17.500, Ini Penyebabnya Menurut Bank Indonesia
Rupiah tembus Rp17.500/USD! BI ungkap kombinasi faktor global (konflik di Timur Tengah) dan domestik (kebutuhan USD musiman) penyebabnya. BI intervensi pasar.
(Kompas.com) 12/05/26 17:25 219258
JAKARTA, KOMPAS.com - Bank Indonesia (BI) mengungkapkan, pelemahan nilai tukar rupiah yang tembus ke level Rp 17.500 per dollar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Selasa (12/5/2026) dipengaruhi kombinasi faktor global dan domestik.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti mengatakan, tekanan terhadap rupiah meningkat seiring eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga minyak dunia dan peningkatan ketidakpastian global.
"Tekanan rupiah dalam hari ini meningkat karena conflict di Middle East yang masih berlangsung dengan intensitas yang meningkat," ujar Destry kepada Kompas.com, Selasa.
Tidak hanya itu dari faktor domestik juga turut menekan rupiah.
BI mencatat meningkatnya kebutuhan valuta asing (valas) secara musiman menambah tekanan di pasar.
Destry mengungkapkan, peningkatan permintaan dollar AS antara lain berasal dari pembayaran utang luar negeri (ULN), pembagian dividen korporasi, hingga kebutuhan masyarakat untuk ibadah haji.
"Dari domestik, meningkatnya kebutuhan dollar secara musiman," kata Destry.
Meski demikian, BI memastikan terus hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Hingga saat ini bank sentral terus melakukan intervensi secara terukur melalui pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), maupun Non-Deliverable Forward (NDF), dan mengoptimalkan seluruh instrumen operasi moneter.
"BI akan terus berkomitmen untuk selalu berada di pasar dan juga mengoptimalkan penggunaan semua instrumen operasi moneter sehingga diharapkan dapat mengurangi tekanan pada rupiah," ucapnya.
Di tengah tekanan rupiah, BI juga melihat kepercayaan investor asing terhadap aset keuangan domestik masih terjaga.
Hal itu tecermin dari masuknya aliran modal asing atau capital inflow, khususnya ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Berdasarkan data BI, selama April 2026 tercatat inflow ke pasar SBN dan SRBI mencapai Rp 61,6 triliun.
Selain itu, likuiditas valas di dalam negeri dinilai masih memadai.
BI mencatat pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) valas pada akhir Maret 2026 mencapai 10,9 persen secara year to date.
"BI memperkirakan tekanan yang bersifat musiman ini akan mereda sehingga nilai tukar rupiah bisa kembali ke level fundamentalnya," tuturnya.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup melemah 115 poin atau 0,66 persen ke level Rp 17.529 per dollar Amerika Serikat (AS). Posisi ini merupakan level terendah penutupan kurs rupiah terhadap dollar AS sepanjang sejarah alias all time low (ATL).
Sementara kurs Jisdor BI hari ini berada di posisi Rp 17.514 per dollar AS, melemah 99 poin dibandingkan kemarin pada level 17.415.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang#pelemahan-rupiah #valuta-asing #konflik-timur-tengah #bank-indonesia