Harga Gabah Tinggi, Produsen dan Penggilingan Paling Tertekan
Harga gabah yang memperlihatkan tren kenaikan memang menguntungkan petani, tetapi memberi tekanan usaha bagi pelaku usaha penggilingan.
(Bisnis.Com) 21/05/26 13:30 227583
Bisnis.com, JAKARTA — Pengamat pertanian menilai keuntungan yang dirasakan petani di tengah tren kenaikan harga gabah saat ini tidak serta-merta turut dirasakan oleh seluruh pelaku usaha di rantai pasok beras. Harga jual di hilir yang masih dibatasi pemerintah melalui Harga Eceran Tertinggi (HET) justru memberi tekanan pada industri penggilingan.
Pengamat pertanian Khudori memaparkan bahwa dengan harga gabah kering panen (GKP) di level Rp6.500 per kilogram, margin keuntungan petani berdasarkan struktur biaya produksi 2024 sudah mencapai sekitar 34%.
Namun, harga gabah di lapangan saat ini bahkan sudah jauh melampaui harga acuan pemerintah.
“Harga di Lampung hari-hari ini Rp7.600, di Jawa ada yang Rp8.300. Jadi petani senang banget, untung banget,” ujar Khudori kepada Bisnis, dikutip Kamis (21/5/2026).
Meski demikian, lonjakan harga gabah dinilai memunculkan tekanan besar bagi penggilingan padi dan produsen beras. Menurutnya, pelaku usaha sulit menjual beras sesuai HET tanpa mengalami kerugian.
“Kalau harga gabah sangat tinggi, tidak mungkin mereka menjual sesuai HET kalau tidak merugi,” katanya.
Khudori menilai pihak yang paling tertekan saat ini adalah penggilingan padi yang juga berperan sebagai produsen dan pedagang beras, sedangkan distributor dan ritel modern relatif masih mampu mempertahankan margin usaha.
Dia menjelaskan produsen beras saat ini berada dalam posisi tertekan karena biaya produksi terus meningkat, mulai dari harga bahan baku gabah, kemasan, logistik, hingga biaya operasional lainnya.
Khudori menyebut harga kemasan beras bahkan naik hampir dua kali lipat dibandingkan dengan sebelumnya.
“Kalau harga bahan bakunya naik dan naiknya tidak ketulungan, ya pasti harga berasnya tinggi,” ujarnya.
Di sisi lain, Khudori menilai produksi beras nasional memang mulai menurun setelah mencapai puncak panen raya pada Maret 2026.
Produksi April lebih rendah dibanding Maret dan Mei kembali turun. Namun, secara total pasokan masih surplus terhadap kebutuhan konsumsi nasional.
Meski begitu, dia mengingatkan risiko tekanan produksi pada semester II/2026 akibat potensi musim kemarau lebih panjang dan lebih kering dari normal berdasarkan proyeksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Dia menyebutkan puncak kekeringan diperkirakan terjadi pada Agustus sehingga berpotensi menekan produksi beras pada periode Juli hingga September.
Khudori juga menyoroti risiko El Nino meskipun sebagian besar model iklim global saat ini masih memproyeksikan intensitas lemah hingga moderat.
Di tengah risiko harga dan iklim, Khudori menilai pemerintah perlu lebih serius menjaga stabilitas harga beras melalui intervensi pasar menggunakan stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang saat ini disebut mencapai sekitar 5,2 juta hingga 5,3 juta ton.
Menurutnya, tingginya stok beras Bulog tidak otomatis menurunkan harga apabila distribusi ke pasar tetap terbatas.
“Pasar itu sebetulnya lapar beras, tetapi operasi pasarnya tidak nendang,” katanya.
Khudori mengkritik kebijakan pemerintah yang dinilai terlalu fokus menyerap gabah dan mengejar rekor stok tanpa diimbangi strategi distribusi yang kuat di hilir.
Dia mengingatkan beras merupakan komoditas yang tidak tahan lama sehingga penyimpanan dalam jumlah besar berisiko memicu penurunan mutu dan pembengkakan biaya perawatan.
“Stok itu kalau makin besar risikonya makin besar,” ujarnya.
Menurutnya, kebijakan pangan pemerintah tidak bisa hanya berfokus di hulu melalui penyerapan gabah, tetapi juga harus memperkuat distribusi dan operasi pasar agar harga tetap terkendali.
#harga-gabah #harga-beras #penggilingan-padi #produsen-beras #harga-eceran-tertinggi #keuntungan-petani #biaya-produksi-beras #harga-bahan-baku #produksi-beras-nasional #surplus-beras #musim-kemarau #r