Aksi

Aksi "3 in 1" siasati keterbatasan lahan pertanian di Palembang

Permasalahan terus berkurangnya luas lahan untuk pertanian dan perkebunan di wilayah perkotaan terjadidi seluruh kota di Tanah Air.Tapi, terbatasnya lahan ...

(Antara) 25/05/26 19:46 231802

Palembang (ANTARA) - Permasalahan terus berkurangnya luas lahan untuk pertanian dan perkebunan di wilayah perkotaan terjadidi seluruh kota di Tanah Air.

Tapi, terbatasnya lahan tersebut bukan berarti masyarakat di perkotaan tidak bisa menanam sebagaimana masyarakat di desa, tetapi harus melakukannya dengan cara tertentu.

Lahan boleh sempit, tapi ide jangan. Kota butuh pangan, dan justru keterbatasan itu yang melahirkan inovasi.

Permasalahan tersebut juga terjadi di Kota Palembang, Sumatera Selatan, yang memiliki luas wilayah sekitar 352 kilometer persegi dengan 18 kecamatan.

Melihat permasalahan itu, dosen dan mahasiswa Universitas Sriwijaya (Unsri) Palembang berinovasi untuk mencari solusinya.

Mereka mencari solusi untuk bercocok tanam di lahan yang terbatas dengan cara memanfaatkan lahan yang tersedia seoptimal mungkin.

Sejumlah dosen bersama mahasiswa Unsri Palembang yang tengah mengambil program master dan doktoral itu mengembangkan kegiatan yang dapat mengoptimalisasi pertanian perkotaan di Palembang guna meningkatkan ketahanan pangan masyarakat dengan pola tiga kegiatan dalam satu petak lahan alias "3 in 1".

Dosen Unsri Profesor Benyamin Lakitan mengatakan perkembangan pembangunan di Palembang mengakibatkan lahan untuk budidaya pertanian semakin terbatas, oleh karena itu perlu disiasati dengan pengembangan kegiatan optimalisasi lahan yang tersedia untuk pertanian perkotaan (urban farming).

Pertanian perkotaan merupakan praktik budidaya, pemrosesan, dan distribusi bahan pangan di dalam atau sekitar kota.

Optimalisasi lahan perkotaan terbatas untuk urban farming yang dilakukan bersama mahasiswa itu dengan membuat beberapa kegiatan di satu petak lahan.

Awalnya, kegiatan itu dilakukan di lahan perkarangan rumah Benyamin Lakitan. Lahan yang terbatas itu dimanfaatkan untuk budidaya ikan, aneka jenis tanaman sayur dan obat-obatan. Lahan tersebut dibikin menjadi kolam untuk budi daya ikan lele, nila, dan betok.

Di atas kolam itu dimanfaatkan untuk tanaman sayuran, obat-obatan herbal, dan cabai dengan teknologi rakit apung memanfaatkan botol bekas serta bambu yang bisa dengan mudah ditemukan di sekitar kawasan permukiman.

Kegiatan urban farming itu sekarang ini dikembangkan dengan cara tiga kegiatan dalam satu tempat (3 in 1), yaitu dengan memanfaatkan lahan di sisi kolam untuk tanaman sayuran yang belum banyak ada di pasar namun diminati masyarakat, seperti caya, kale, talas, bayam merah, pakcoy, serta ada juga ginseng dan porang.

Kemudian di atas kolam ikan itu juga dibuat kerangka rambat sehingga dapat digunakan untuk budidaya tanaman sayuran seperti oyong, kacang panjang, serta buah-buahan anggur, melon dan lainnya yang pertumbuhannya merambat.

Bagi masyarakat dan mahasiswa yang ingin mengetahui cara mengembangkan pertanian urban, Prof Benyamin bersama tim dosen dan mahasiswa bimbingannya terbuka untuk membantu memberikan penjelasan dan mengajari praktiknya.

Optimalisasi lahan pertanian perkotaan itu diharapkan bisa menghasilkan bahan pangan secara maksimal untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan dapat dijual ke tetangga sekitar sebagai usaha sampingan keluarga.

Jika produksinya cukup banyak dan dikoordinir secara berkelompok, menurut Benyamin, hasilnya bisa dijual ke pengelola dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang ada di sekitar kawasan permukiman.

Masyarakat perkotaan diharapkan dapat mengembangkan budidaya pertanian 3 in 1 di perkarangan rumah meskipun luasannya terbatas dengan membuat kolam ikan dan menanam berbagai jenis sayuran dan tanaman bermanfaat lainnya.

Kegiatan seperti itu juga diyakini bisa membantu masyarakat ketika harga sayur mayur di pasar melonjak.

Tingkatkan kualitas lingkungan

Lahan perkotaan yang dikelola dengan baik, selain bisa menghasilkan pangan dan sumber nutrisi serta protein bagi warga kota, juga dapat membantu menghijaukan lingkungan serta membuat rumah terlihat asri.

Dosen Agronomi Universitas Baturaja (Unbara) Dr Dora Fatma Nurshanti menyatakan pertanian perkotaan dapat meningkatkan kualitas lingkungan.

"Selain untuk produksi pangan, budidaya pertanian di perkotaan juga dilakukan untuk tujuan estetika dan peningkatan kualitas lingkungan," ujarnya.

Pertanian perkotaan yang umum dilakukan adalah model hidroponik dan vertikultur atau budidaya vertikal pada dinding bangunan dan di atas atap beton bangunan tinggi.

Kelompok tanaman yang dominan dibudidayakan di perkotaan adalah berbagai jenis sayuran dan tanaman hias.

Pertanian perkotaan dinilai sebagai solusi teknologi pertanian yang ideal di masa depan, karena dapat dilakukan di lahan terbatas mulai skala rumah tangga, dan secara teknologi mendukung keberadaan ruang hijau bagi peningkatan kualitas kesehatan lingkungan.

Menurut Dora, pertanian perkotaan juga bisa dilakukan dengan konsep integrasi pertanian - perikanan - peternakan.

Petak lahan di perkarangan rumah dapat dimanfaatkan untuk tiga kegiatan pertanian sekaligus perikanan yakni pertama bisa dibuat kolam kecil sekitar 2 X 4 meter diisi dengan ikan air tawar.

Kemudian kegiatan kedua di atas permukaan air kolam dibuat rakit yang bisa mengapungkan pot atau polybag untuk diisi tanaman seperti cabai dan aneka jenis sayuran.

Kegiatan pertanian ketiga di sisi samping kiri dan kanan kolam bisa ditempatkan pot atau polybag untuk tanaman yang merambat vertikal seperti kacang panjang.

Rambatan tanaman itu bisa diarahkan vertikal dan horizontal sehingga berfungsi sebagai naungan kolam dari panas paparan sinar matahari.

Berbagai jenis tanaman cocok untuk kegiatan pertanian rumah tangga perkotaan, namun bisa dipilih tanaman cabai dan sayuran yang memiliki bentuk serta warna menarik.

Tanaman cabai yang bisa ditanam di perkarangan rumah seperti cabai merah, cabai pisang dan cabai jenis lainnya.

Sedangkan sayuran yang memiliki bentuk serta warna menarik yang bisa ditanam di perkarangan rumah seperti bayam merah, pakcoy, tomat ceri, dan selada merah.

Tanaman untuk merambat vertikal yakni kacang panjang merah, dan tanaman untuk diarahkan tumbuh merambat horizontal seperti labu madu, dan pare.

Pemanfaatan lahan perkotaan yang gencar dikenalkan kepada warga kota oleh akademisi pertanian itu selaras dengan Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan yang beberapa tahun terakhir menggalakkan program Gerakan Sumsel Mandiri Pangan (GSMP).

Posisi urban farming di Kota Palembang dan beberapa daerah Sumsel lainnya, sekarang ini masuk fase pengembangan komunitas dan program pemberdayaan, belum sampai ke tahap industri profit besar.

Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (Distan TPH) Sumsel mendorong program urban farming melalui kelompok wanita tani (KWT) perkotaan, serta Pekarangan Pangan Lestari (P2L) untuk ketahanan pangan keluarga dan bisa dijual ke pasar.

Kepala Distan TPH Sumsel Bambang Pramono mengatakan pihaknya mendorong program urban farming skala komunitas dan pekarangan di tingkat RT/RW, sekolah, dan kelompok wanita tani dengan rutin menggelar pelatihan hidroponik serta urban farming.

Tujuan utamanya ketahanan pangan keluarga, penghijauan, edukasi lingkungan, mendukung program GSMP dan menekan inflasi harga sayur.

Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026

#pangan #produksi-pangan-pertanian-perkotaan #urban #urban-farming #aksi #aksu-3-in-1

https://www.antaranews.com/berita/5582065/aksi-3-in-1-siasati-keterbatasan-lahan-pertanian-di-palembang