Produksi Kopi Jatim 78.800 Ton pada 2025, Serapan Lokal Hanya 50%
Produksi kopi Jawa Timur diproyeksikan mencapai 78.800 ton pada 2025, namun serapan lokal hanya 50%. Surplus kopi diekspor atau dipasarkan ke luar daerah.
(Bisnis.Com) 30/05/26 20:52 235880
Bisnis.com, SURABAYA — Produksi kopi di Jawa Timur mencapai 78.800 ton sepanjang 2025. Namun, serapan pasar domestik di provinsi tersebut diperkirakan baru sekitar separuh dari total produksi, sehingga sebagian hasil panen masih bergantung pada pasar di luar daerah maupun ekspor.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Perkebunan Jawa Timur Heru Suseno mengatakan konsumsi kopi di Jawa Timur diperkirakan mencapai sekitar 34.000 ton pada tahun ini.
"Tahun 2025 ini, produksi kami bisa sampai 78.800 ton. Nah, kalau bicara konsumsi memang Jawa Timur ini walaupun penghasil kopi, tetapi konsumsinya masih 50%, sekitar 34.000 ton, tetapi ini data kan masih harus dicek ya," ungkap Heru di sela Indonesia Coffee Expo (ICX) di Convention Hall Grand City Surabaya, Jumat (29/5/2026).
Menurut dia, kondisi tersebut membuat produksi kopi Jawa Timur mengalami surplus. Meski demikian, surplus tidak serta-merta diserap oleh pasar lokal karena perdagangan kopi juga dipengaruhi karakteristik varietas dan kebutuhan pasar di berbagai daerah.
"Surplus itu kan kemudian kalau kopi itu polanya tidak bisa punya Jawa Timur dikirim ke luar provinsi misalnya Sulawesi, Sumatra. Kami bertukar karena varietas dari masing-masing wilayah itu sangat beda dan agroklimatnya beda-beda. Kami punya peran penting sekali terhadap industri kopi nasional karena posisi produksi Jawa Timur itu nomor empat di Indonesia, setelah Sumatra Selatan kemudian Lampung, Sumatra Utara, dan Jawa Timur," bebernya.
Heru menambahkan Jawa Timur merupakan salah satu sentra produksi kopi nasional dengan sejumlah produk yang telah dikenal luas di pasar domestik. Kopi arabika dari kawasan Ijen, Raung, dan Argopuro serta kopi robusta Dampit menjadi beberapa produk unggulan dari provinsi tersebut.
"Jawa Timur itu kan dikenal karena arabika. Terutama arabika yang di Ijen, Raung, dan Argopuro yang paling dikenal. Kalau robusta pasti dikenal Dampit ya. Dampit itu luar biasa namanya. Artinya, kita juga punya ciri khas kopi yang memang dikenal secara nasional," ucapnya.
Dia berharap penyelenggaraan Indonesia Coffee Expo dapat mendorong pengembangan industri kopi nasional sekaligus memperluas pasar konsumsi domestik.
"Kalau misalnya dia punya keahlian khusus kami ajari mulai dari tanam sampai kemudian jadi di cangkir. Ada beberapa anak-anak muda yang sudah kami latih mulai dari hulunya. Dengan adanya pameran ini selain meningkatkan perekonomian daerah, itu juga bisa meningkatkan tingkat konsumtif masyarakat kita," jelasnya.
Sementara itu, Vice Project Director ICX Rumpoko Hadi mengatakan industri kopi nasional terus menunjukkan perkembangan positif. Menurutnya, kopi kini tidak hanya menjadi komoditas konsumsi, tetapi juga bagian dari gaya hidup dan aktivitas bisnis.
“Pertumbuhan tersebut tentunya membutuhkan sebuah wadah, sebuah komunitas untuk mempertemukan para pelaku industri, komunitas, pencipta kopi sehingga masyarakat luas dalam suatu kolaborasi dengan pengembangan ekosistem yang lebih lengkap dan menyatu,” tuturnya.
Dia menjelaskan Surabaya dipilih sebagai salah satu lokasi penyelenggaraan ICX karena pertumbuhan ekosistem kopi yang dinilai cukup pesat.
"Surabaya menjadi tempat industri kopi yang cukup besar, sebagai kota pembuka karena antusiasme masyarakat serta pertumbuhan ekosistem kopi itu sangat masif. Dengan tema briefing business, shaping lifestyle dan coffee excellence, kami sangat bangga pada gelaran ini yang akan diikuti oleh lebih dari 75 brand yang siap menyajikan inovasi produk yang terbaik yang mereka miliki," ucapnya.
Di sisi lain, Direktur Manajemen Risiko Bank Tabungan Negara (BTN) Setiyo Wibowo menilai konsumsi kopi masyarakat Indonesia masih relatif rendah dibandingkan sejumlah negara lain. Berdasarkan data yang dipaparkannya, konsumsi kopi per kapita di Indonesia baru mencapai sekitar 1,1 kilogram per tahun.
"Amerika Serikat itu 4,8 kilogram per tahun per kapita. Eropa itu 5,7 kilogram per tahun. Brasil 6,4 kilogram per tahun, dan ternyata yang banyak minum kopi itu bangsa-bangsa Nordik ternyata, 8 sampai 12 kilogram per tahun. Jadi itu menunjukkan bahwa tingkat konsumsi kita termasuk rendah," sebutnya.
Karena itu, dia berharap penyelenggaraan Indonesia Coffee Expo dapat menjadi sarana edukasi sekaligus mendorong peningkatan konsumsi kopi nasional.
"Harapan kami tentunya ICX itu bukan hanya edukasi mengenai perkopian, tapi juga sebagai katalis mengenai industri kopi. Mudah-mudahan nanti banyak makin banyak kafe, warkop supaya kita menuju kayak bangsa-bangsa di Nordik tadi 8–12 kilogram per tahun per kapita," pungkasnya.
#produksi-kopi-jatim #serapan-kopi-lokal #konsumsi-kopi-jatim #surplus-kopi-jatim #kopi-arabika-ijen #kopi-robusta-dampit #industri-kopi-nasional #pasar-kopi-domestik #indonesia-coffee-expo #ekosistem