Nilai Tukar Petani Sumut Melemah, Biaya Produksi dan Kebutuhan Hidup Jadi Beban Utama
Nilai Tukar Petani Sumut turun Mei 2026 karena biaya produksi dan kebutuhan hidup naik, sementara harga jual hasil pertanian menurun, menurut pengamat UISU.
(Bisnis.Com) 04/06/26 06:15 239329
Bisnis.com, MEDAN — Pengamat sekaligus Akademisi dari Universitas Islam Sumatra Utara (UISU) Gunawan Benjamin menyoroti penurunan nilai tukar petani (NTP) di Sumut periode Mei 2026 yang diakibatkan oleh turunnya mayoritas indeks harga yang diterima petani, sedangkan indeks harga yang dibayar (pengeluaran) oleh petani mengalami kenaikan.
Sebagaimana diketahui, NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/ daya beli petani di pedesaan. BPS Sumut mencatat NTP gabungan di Sumut turun dari 162,45 pada April 2026 menjadi 159,92 pada bulan Mei.
Hampir seluruh subsektor kompak menunjukkan penurunan, kecuali NTP Tanaman Hortikultura (NTPH) yang naik 8,89% dari periode sebelumnya. Persentase penurunan NTP terbesar datang dari subsektor tanaman perkebunan rakyat yang mencapai 2,78%.
Berdasarkan data BPS, penurunan NTP di Sumut diakibatkan oleh meningkatnya indeks harga yang dibayar (pengeluaran) petani sebesar 1,50% pada bulan Mei, terutama dari komoditas cabai merah, tomat, bawang merah, pupuk, hingga upah pemanenan.
Sementara indeks harga yang diterima (pemasukan usaha) petani mengalami penurunan 0,09% yang disumbang oleh komoditas kelapa sawit, kopi, dan ayam ras pedaging.
Gunawan menilai fenomena peningkatan indeks harga yang dibayar petani yang terjadi serentak di semua subsektor sebagai penyebab penurunan NTP di Sumut.
“Peningkatan indeks harga yang dibayar atau pengeluaran petani terjadi serentak di semua subsektor, baik subsektor tanaman pangan, tanaman perkebunan rakyat, peternakan, maupun perikanan. Ini yang menjadi biang keladi penurunan NTP secara keseluruhan,” kata Gunawan, Rabu (3/6/2026).
Data BPS menunjukkan indeks harga yang dibayar petani subsektor tanaman pangan naik sebesar 1,6%. Untuk tanaman hortikultura, pengeluaran petani naik 1,07%.
Lalu, pengeluaran petani tanaman perkebunan rakyat dan peternakan naik masing-masing 1,51%, serta perikanan naik 1,13%. Kenaikan pengeluaran petani secara serentak mengakibatkan NTP mengalami tekanan.
“Ini menunjukkan bahwa petani tengah menghadapi masalah kenaikan biaya hidup, serta kenaikan pada biaya input produksi,” jelas Gunawan.
Dari sisi kenaikan biaya input produksi, lanjutnya, hal tersebut akan berdampak pada naiknya harga produk pertanian maupun peternakan yang berpotensi menekan daya beli masyarakat.
Dia juga menyebut situasi ini dilematis bagi petani maupun peternak. Dari pantauan di lapangan Gunawan menemukan ada peternak yang sengaja menahan harga agar harga jual daging tidak terlalu mahal. Namun, dalam jangka waktu lama kondisi ini dapat merugikan peternak lantaran beban pengeluaran membengkak sementara indeks harga yang diterima stabil atau bahkan turun.
“Situasi seperti ini rawan membuat peternak alami kerugian. Yang pada akhirnya NTP sulit naik karena terbebani dengan peningkatan pengeluaran,” tambahnya.
Lebih jauh dia menjelaskan, NTP yang rendah karena beban pengeluaran tinggi memunculkan kerentanan pada dua kemungkinan besar, yakni terjadinya inflasi atau penutupan aktivitas kerja (PHK).
Gunawan menyebut kunci pemulihan NTP di situasi ini yakni dengan memperbaiki belanja atau daya beli masyarakat.
#nilai-tukar-petani #ntp-sumut #penurunan-ntp #biaya-produksi-petani #kebutuhan-hidup-petani #indeks-harga-petani #daya-beli-petani #subsektor-pertanian #kenaikan-biaya-produksi #harga-produk-pertanian