NVIDIA Sebut Arsitektur AI-RAN Indonesia Selangkah Lebih Maju dari RAN Tradional
Pendekatan infrastruktur komputasi AI-RAN mampu menghantarkan jaringan akses radio sebagai wadah perangkat lunak, sekaligus mendistribusikan kapabilitas AI
(Bisnis.Com) 10/06/26 12:50 245832
Bisnis.com, JAKARTA — Raksasa teknologi global NVIDIA memaparkan lompatan besar dalam evolusi infrastruktur telekomunikasi di Indonesia melalui implementasi jaringan AI-RAN.
Arsitektur mutakhir ini dinilai selangkah lebih maju karena perangkat Radio Access Network (RAN) tidak lagi sekadar berfungsi mengantarkan konektivitas jaringan tradisional melalui udara, melainkan menjelma sebagai infrastruktur komputasi multi-fungsi berbasis perangkat lunak yang mengintegrasikan kecerdasan buatan.
Senior Vice President (SVP) Telecoms NVIDIA, Ronnie Vasishta, menjelaskan pergeseran mendasar dari pola pikir tradisional industri seluler.
Melalui pendekatan baru ini, infrastruktur komputasi mampu menghantarkan jaringan akses radio sebagai wadah perangkat lunak (software container), sekaligus mendistribusikan kapabilitas AI sebagai perangkat lunak secara simultan.
Integrasi tersebut memungkinkan infrastruktur telekomunikasi memiliki fungsi ganda (dual use) atau multi-fungsi, untuk kebutuhan operasional AI sekaligus jaringan akses radio. Selain itu, NVIDIA juga menilai bahwa AI-RAB yagn dikembangkan di Indonesia membantu dalam meningkatkan efisiensi penggunaan spektrum frekuensi.
“Ini pertama kalinya hal seperti itu terjadi. Begitu Anda beralih ke jaringan yang digerakkan oleh perangkat lunak (software-defined network), tiba-tiba peluang baru terbuka lebar,” ujar Ronnie di Jakarta, Selasa (10/6/2026).
Menurut Ronnie, kehadiran arsitektur ini membuka ruang bagi kehadiran aplikasi baru untuk jaringan akses radio.
Dengan memanfaatkan AI, sistem dapat mendongkrak efisiensi spektral, mempelajari dinamika lingkungan sekitar secara mandiri, serta menyesuaikan diri secara real-time. Hasil akhirnya adalah peningkatan efisiensi konsumsi daya operasional yang jauh lebih baik bagi perusahaan telekomunikasi.
Di samping peningkatan teknis, efisiensi ini mengubah dinamika bisnis secara luar biasa karena operator dapat memonetisasi infrastruktur dengan berbagai skema baru, baik melalui optimalisasi AI maupun kapasitas RAN itu sendiri. Skalabilitas ini juga memungkinkan penghantaran berbagai aplikasi AI komparatif langsung di atas jaringan akses radio tanpa harus menanti siklus teknologi berikutnya.
“Jenis aplikasi baru seperti yang baru saja kita dengar tadi. Tetapi tentu saja, apa yang mulai kita lihat adalah semua itu dapat digelar di era 5G. Anda tidak perlu menunggu sampai era 6G,” kata Ronnie.
Dari sisi peta jalan industri global, inisiatif ini sejatinya telah diinisiasi sekitar dua tahun lalu ketika beberapa korporasi teknologi utama, termasuk Nokia dan NVIDIA, berkumpul untuk membentuk AI RAN Alliance. Hingga saat ini, aliansi tersebut telah merangkul lebih dari 150 anggota di seluruh dunia.
Kendati demikian, implementasi yang tengah berjalan di Indonesia dinilai menjadi sebuah pencapaian krusial bagi NVIDIA. Ronnie menyebut aktivitas di Tanah Air merupakan pembuktian nyata dari eksekusi visi global aliansi tersebut.