Niat Menabung Naik, Tapi Isi Dompet Belum Mengikuti

Niat Menabung Naik, Tapi Isi Dompet Belum Mengikuti

Keinginan masyarakat Indonesia untuk menabung mulai menguat pada Mei 2026.

(Kompas.com) 17/06/26 16:16 252294

JAKARTA, KOMPAS.com – Keinginan masyarakat Indonesia untuk menabung mulai menguat pada Mei 2026.

Semakin banyak konsumen yang merasa saat ini merupakan waktu yang tepat untuk menyisihkan pendapatan dan mempersiapkan kondisi keuangan pada masa mendatang.

Namun, semangat tersebut belum sepenuhnya diikuti oleh kemampuan finansial rumah tangga. Di tengah berbagai kebutuhan pengeluaran, terutama untuk pendidikan dan kebutuhan sehari-hari, kemampuan masyarakat untuk menyisihkan uang masih tertahan.

FREEPIK/FREEPIK Ilustrasi menabung.

Kondisi itu tercermin dari hasil Survei Konsumen dan Perekonomian (SKP) yang dirilis Lembaga Penjamin Simpanan (LPS). Survei tersebut menunjukkan Indeks Menabung Konsumen (IMK) pada Mei 2026 naik tipis menjadi 80,2 dari 79,7 pada April 2026.

Kenaikan IMK terutama didorong oleh membaiknya komponen Indeks Kemauan Menabung (IKMM), sementara Indeks Kemampuan Menabung (IKPM) tidak mengalami perubahan.

LPS mencatat, IKMM meningkat 1 poin menjadi 86,7 pada Mei 2026. Sebaliknya, IKPM tetap berada di level 73,6.

Perkembangan ini menggambarkan adanya jarak antara keinginan dan kemampuan masyarakat dalam mengelola keuangan.

Di satu sisi, konsumen mulai memiliki niat yang lebih besar untuk menabung. Di sisi lain, kemampuan untuk benar-benar menyisihkan uang masih belum mengalami perbaikan yang berarti.

LPS menyebutkan, perbaikan kemauan menabung konsumen mengindikasikan adanya peningkatan intensi menabung, meskipun kemampuan menabung masih relatif tertahan di tengah kebutuhan pengeluaran rumah tangga, termasuk untuk pendidikan dalam beberapa bulan mendatang.

KOMPAS.com/SAKINA RAKHMA DIAH SETIAWAN Di tengah berbagai kebutuhan pengeluaran, terutama untuk pendidikan dan kebutuhan sehari-hari, kemampuan masyarakat untuk menyisihkan uang masih tertahan.

Semakin banyak yang menganggap saat ini waktu yang tepat untuk menabung

Meningkatnya IKMM tercermin dari perubahan persepsi masyarakat mengenai waktu yang tepat untuk menabung.

Persentase responden yang menilai bahwa saat ini merupakan waktu yang tepat untuk menabung meningkat dari 23,5 persen pada April 2026 menjadi 25,5 persen pada Mei 2026.

Artinya, seperempat responden mulai melihat adanya peluang untuk memperbaiki kondisi keuangan dan menambah tabungan.

Sementara itu, pandangan masyarakat terhadap kondisi tiga bulan ke depan relatif tidak berubah. Persentase responden yang menyatakan tiga bulan mendatang merupakan waktu yang tepat untuk menabung tetap berada di level 33,7 persen.

Data ini menunjukkan optimisme untuk menabung tidak hanya muncul dalam jangka pendek, tetapi juga masih terjaga untuk beberapa bulan mendatang.

Meski demikian, kenaikan kemauan menabung belum otomatis membuat masyarakat lebih mampu menyisihkan uang.

LPS menilai kemampuan menabung masih tertahan oleh berbagai kebutuhan rumah tangga yang harus dipenuhi.

Rajin menabung, tapi nominalnya belum sesuai harapan

Stabilnya IKPM menunjukkan perbaikan kemampuan menabung masyarakat masih berjalan terbatas.

Di satu sisi, terdapat peningkatan jumlah masyarakat yang lebih rutin menabung.

FREEPIK/JCOMP Ilustrasi menabung, menabung harian.

Persentase responden yang mengaku sering menabung naik dari 16,7 persen pada April 2026 menjadi 18,9 persen pada Mei 2026.

Kenaikan ini menunjukkan, semakin banyak rumah tangga yang berusaha mempertahankan kebiasaan menabung, meskipun kondisi keuangan belum sepenuhnya longgar.

Namun, di sisi lain, target tabungan yang ingin dicapai belum sepenuhnya terpenuhi.

Porsi responden yang menyatakan bahwa jumlah uang yang berhasil ditabung lebih kecil dibandingkan rencana justru naik tipis dari 38,9 persen menjadi 39,1 persen.

Dengan kata lain, masyarakat tetap berupaya menyisihkan pendapatan, tetapi hasil yang diperoleh belum sesuai harapan.

Fenomena ini memperlihatkan aktivitas menabung masih dilakukan, tetapi ruang keuangan yang tersedia belum cukup besar untuk mencapai target yang diinginkan.

Karena itu, meskipun IMK mengalami kenaikan, level indeks tersebut masih berada di bawah angka 100.

LPS menjelaskan, level IMK di atas 100 menunjukkan niat dan kemampuan menabung konsumen yang tinggi. Sebaliknya, angka di bawah 100 menunjukkan bahwa kemampuan dan kemauan menabung masyarakat secara umum masih belum berada pada tingkat yang kuat.

IMK terdiri dari dua komponen penyusun, yakni IKPM dan IKMM.

IKPM menunjukkan penilaian konsumen tentang intensitas dan kemampuan menabung, sedangkan IKMM menggambarkan penilaian konsumen terhadap waktu yang tepat untuk menabung atau niat untuk menabung.

Tekanan terlihat di hampir semua kelompok pendapatan

PEXELS/Ahsanjaya Ilustrasi menabung tapi masih terlihat miskin.

Jika dilihat berdasarkan kelompok pendapatan rumah tangga, kemampuan dan kemauan menabung pada Mei 2026 justru cenderung melemah pada mayoritas kelompok.

Penurunan terbesar terjadi pada rumah tangga dengan pendapatan di atas Rp 7 juta per bulan.

Kelompok ini mencatat penurunan IMK sebesar 4,5 poin dibandingkan bulan sebelumnya.

Penurunan juga terjadi pada rumah tangga dengan pendapatan di atas Rp 3 juta hingga Rp 7 juta per bulan yang turun 1,7 poin.

Sementara itu, rumah tangga dengan pendapatan hingga Rp 1,5 juta per bulan mengalami penurunan IMK sebesar 1,2 poin.

Di tengah pelemahan yang terjadi di berbagai kelompok pendapatan tersebut, hanya rumah tangga dengan pendapatan Rp 1,5 juta hingga Rp 3 juta per bulan yang mencatat kenaikan IMK.

Kelompok ini mengalami kenaikan sebesar 5 poin dibandingkan bulan sebelumnya.

Meski mengalami penurunan, rumah tangga dengan pendapatan di atas Rp 7 juta per bulan masih memiliki IMK di atas level 100.

Menurut LPS, kondisi tersebut menunjukkan kemampuan dan kemauan menabung kelompok pendapatan tersebut tetap relatif kuat dibandingkan kelompok lainnya.

Namun, tren penurunan yang terjadi menunjukkan, bahkan kelompok dengan daya tahan finansial lebih baik pun mulai menghadapi tantangan dalam mempertahankan kemampuan dan kemauan menabung.

Kepercayaan konsumen mulai membaik

Di tengah kondisi kemampuan menabung yang masih terbatas, persepsi masyarakat terhadap perekonomian justru menunjukkan perbaikan.

FREEPIK/FREEPIK Ilustrasi menabung.

Hal itu tercermin dari Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) yang naik 2,8 poin menjadi 92 pada Mei 2026.

Kenaikan IKK ditopang oleh membaiknya dua komponen utama, yakni Indeks Situasi Saat Ini (ISSI) dan Indeks Ekspektasi (IE).

ISSI meningkat 3,8 poin menjadi 72,3, sedangkan IE naik 2,1 poin menjadi 108,2.

LPS menyatakan, perkembangan ini mengindikasikan adanya perbaikan persepsi konsumen terhadap kondisi perekonomian.

"Perkembangan ini mengindikasikan adanya perbaikan persepsi konsumen terhadap kondisi perekonomian, terutama seiring membaiknya penilaian terhadap kondisi ekonomi lokal dan lapangan kerja saat ini. Di saat yang sama, konsumen masih tetap optimis terhadap prospek ekonomi dan pendapatan pada masa mendatang," tulis LPS dalam hasil surveinya, ditulis pada Rabu (17/6/2026).

Dengan kata lain, masyarakat mulai melihat adanya perbaikan pada kondisi ekonomi di sekitarnya, sekaligus tetap menyimpan harapan terhadap kondisi ekonomi dan pendapatan pada masa depan.

Optimisme ditopang bansos dan lapangan kerja

LPS mencatat, terdapat sejumlah faktor yang mendorong kenaikan IKK pada Mei 2026.

Beberapa di antaranya adalah adanya bantuan sosial (bansos), penambahan lapangan kerja yang memadai, perbaikan infrastruktur umum, keberadaan proyek pemerintah maupun swasta, serta mulai beroperasinya usaha baru.

Faktor-faktor tersebut dinilai memberi dorongan positif terhadap persepsi masyarakat mengenai kondisi ekonomi.

Meski demikian, penguatan kepercayaan konsumen masih berlangsung secara terbatas.

LPS menyebutkan, masih terdapat sejumlah faktor yang menahan laju kenaikan IKK.

Shutterstock Ilustrasi menabung.

"Namun demikian, penguatan IKK masih relatif terbatas akibat adanya gangguan pada sektor pertanian yang menyebabkan kegagalan panen pada masa panen raya, serta kenaikan harga BBM nonsubsidi dan elpiji," ungkap LPS.

Artinya, di tengah meningkatnya optimisme dan kemauan untuk menabung, masyarakat masih menghadapi berbagai tekanan ekonomi yang memengaruhi kondisi keuangan rumah tangga.

Kelompok pendapatan rendah justru paling optimistis

Berdasarkan kelompok pendapatan, kenaikan IKK terjadi hampir di seluruh lapisan rumah tangga.

Kenaikan terbesar terjadi pada rumah tangga berpendapatan hingga Rp 1,5 juta per bulan.

Kelompok ini mencatat kenaikan IKK sebesar 8,2 poin dibandingkan April 2026.

Selanjutnya, rumah tangga berpendapatan di atas Rp 1,5 juta hingga Rp 3 juta per bulan mengalami kenaikan IKK sebesar 3,7 poin.

Adapun rumah tangga dengan pendapatan di atas Rp 3 juta hingga Rp 7 juta per bulan mencatat kenaikan sebesar 1,9 poin.

Sebaliknya, rumah tangga dengan pendapatan di atas Rp 7 juta per bulan justru mengalami penurunan IKK sebesar 5,4 poin.

Meski demikian, kelompok berpendapatan di atas Rp 7 juta per bulan masih memiliki IKK di atas level 100.

Menurut LPS, kondisi itu menunjukkan bahwa optimisme kelompok tersebut terhadap kondisi perekonomian masih tetap terjaga.

Data tersebut memperlihatkan gambaran yang menarik mengenai kondisi konsumen Indonesia pada Mei 2026.

Kemauan menabung mulai menguat dan kepercayaan terhadap ekonomi berangsur membaik. Namun, kemampuan untuk benar-benar menyisihkan pendapatan masih bergerak terbatas, sementara tekanan pengeluaran rumah tangga tetap membayangi berbagai kelompok pendapatan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#menabung #lps #indeks-menabung-konsumen #waktu-yang-tepat-untuk-menabung #kemampuan-menabung

https://money.kompas.com/read/2026/06/17/161600526/niat-menabung-naik-tapi-isi-dompet-belum-mengikuti