BI Rate dan Harga Pertamax Naik, Bluebird Pilih Ekspansi Secara Terukur

BI Rate dan Harga Pertamax Naik, Bluebird Pilih Ekspansi Secara Terukur

Bluebird tetap menyiapkan capex hingga Rp 1,9 triliun pada 2026 meski BI Rate dan harga Pertamax naik.

(Kompas.com) 18/06/26 18:06 253671

JAKARTA, KOMPAS.com - PT Blue Bird Tbk (BIRD) menyatakan kenaikan harga BBM nonsubsidi Pertamax dan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) tidak menghambat rencana ekspansi perusahaan.

Direktur Keuangan PT Blue Bird Tbk Irawaty Salim mengatakan, Bluebird terus memantau kenaikan suku bunga acuan BI.

"Ada beberapa counterpart kita juga sudah mulai menaikkan interest rate-nya," kata dia dalam konferensi pers, Kamis (18/6/2026).

Irawaty mengatakan, kenaikan suku bunga tidak menjadi penghalang bagi Bluebird untuk berekspansi.

"Karena yang kita lihat ke depannya bagaimana demand dari market itu sendiri teradaptasi dulu. Apakah kita memang harus menambah armada atau tidak, kita melakukan ekspansi secara terukur," terang dia.

Menurut Irawaty, kenaikan suku bunga acuan BI merupakan bagian dari mekanisme pasar.

Ia menilai regulator juga memperhatikan iklim bisnis di Indonesia.

Bluebird saat ini bekerja sama dengan lima bank untuk pendanaan perusahaan.

Perusahaan juga menyiapkan belanja modal atau capital expenditure (capex) sebesar Rp 1,7 triliun sampai Rp 1,9 triliun pada 2026.

Bluebird akan menggunakan capex tersebut untuk penggantian kendaraan, penambahan armada, dan pengembangan infrastruktur pendukung.

Direktur Utama PT Blue Bird Tbk Adrianto Djokosoetono mengatakan, kenaikan harga Pertamax juga berdampak terbatas terhadap operasional perusahaan.

Mayoritas kendaraan Bluebird saat ini menggunakan Pertalite dan Biosolar.

"Jadi secara mayoritas, opersionalnya tidak terpengaruh terhadap kenaikan harga Pertamax," imbuh dia.

Meski begitu, Andre mengatakan, sebagian kecil divisi Bluebird masih menggunakan BBM nonsubsidi Pertamax.

"Tapi impact-nya tidak besar karena kontribusi dari divisi tersebut masih kecil," ungkap dia.

Andre berharap Bluebird tetap tumbuh seperti tahun sebelumnya meski kondisi geopolitik global masih bergejolak.

Ia mengakui, tekanan global tetap berdampak pada mobilitas masyarakat, baik regional maupun internasional.

"Saya kira secara makro kalau Indonesia masih positive growth, kita tetap optimistis kita juga bisa postive growth bersama GDP growth-nya Indonesia," tutup dia.

Sepanjang 2025, Bluebird membukukan pendapatan bersih Rp 5,7 triliun. Angka itu naik 13 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan menjadi pendapatan tertinggi sejak perseroan melantai di bursa.

EBITDA Bluebird tercatat Rp 1,4 triliun, tumbuh 13 persen secara tahunan.

Laba tahun berjalan perusahaan juga naik 9 persen menjadi Rp 643,4 miliar.

Bluebird turut memperkuat kapasitas operasional dengan mengoperasikan lebih dari 26.000 armada.

Operasional perusahaan ditopang 58 pool, lebih dari 1.300 outlet, serta layanan di 22 kota di Indonesia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

#bbm #bluebird #bi-rate #bird

https://money.kompas.com/read/2026/06/18/180606626/bi-rate-dan-harga-pertamax-naik-bluebird-pilih-ekspansi-secara-terukur