Pupuk Indonesia Jajaki Ekspansi Ekspor Urea Cs di Asia, dari Bangladesh hingga India
PT Pupuk Indonesia berencana ekspansi ekspor pupuk ke Asia, termasuk Bangladesh dan India, setelah memenuhi kebutuhan domestik.
(Bisnis.Com) 23/06/26 15:15 257434
Bisnis.com, BRISBANE — PT Pupuk Indonesia (Persero) menjajaki peluang ekspor pupuk ke sejumlah negara di Asia Selatan dan kawasan lainnya setelah mengamankan kontrak jangka panjang pasokan urea ke Australia.
Pupuk Indonesia menegaskan ekspansi ekspor tetap dilakukan setelah kebutuhan pupuk domestik terpenuhi. Perseroan menyebut Indonesia memiliki surplus struktural kapasitas produksi pupuk sehingga sebagian produksi memang dirancang untuk pasar ekspor.
Presiden Direktur Pupuk Indonesia Rahmad Pribadi mengatakan perseroan telah memulai kerja sama pemerintah ke pemerintah atau government-to-government (G2G) dengan Australia dan kini tengah menjajaki sejumlah pasar lain.
“Kita sudah mulai dengan Australia, kita sedang berbicara dengan beberapa negara lain, dengan Bangladesh, dengan India, dengan beberapa negara lain yang ada di Asia maupun di Australia,” kata Rahmad usai seremoni kedatangan kapal pengangkut urea Indonesia di Port of Brisbane, Australia, Senin (22/6/2026).
Menurutnya, minat negara-negara tersebut muncul seiring meningkatnya kesadaran akan pentingnya diversifikasi sumber pasokan pupuk di tengah gejolak geopolitik global. Pupuk Indonesia juga menyesuaikan distribusi ekspor dengan musim tanam di masing-masing negara tujuan.
Meski demikian, Rahmad menegaskan prioritas utama perusahaan tetap memastikan kebutuhan petani dalam negeri terpenuhi sebelum menyalurkan surplus produksi ke pasar ekspor.
“Penuhi dulu kebutuhan dalam negeri. Karena desain industri kita memang sebagian untuk ekspor, maka kita tidak boleh menggunakan pupuk sebagai alat untuk mengganggu kestabilan negara,” ujarnya.
Ekspansi pasar itu dilakukan setelah Pupuk Indonesia mengirimkan kapal MV Medi Luna yang membawa 47.250 ton urea dari Bontang ke Brisbane. Pengiriman tersebut merupakan pengapalan pertama dalam skema G2G antara Indonesia dan Australia.
Kargo tersebut merupakan bagian dari kontrak pasokan jangka panjang sebanyak 250.000 ton urea antara Pupuk Indonesia dan Incitec Pivot Fertilisers Australia sebagai pelaksana kesepakatan kedua negara. Pengiriman akan dilakukan secara bertahap dengan rata-rata satu kapal setiap bulan selama lima bulan ke depan.
Rahmad menilai kerja sama tersebut menjadi bukti posisi Indonesia sebagai pemasok pupuk yang andal di kawasan. Menurutnya, terdapat tiga faktor utama yang kini menjadi pertimbangan pasar global, yakni diversifikasi pasokan, kedekatan geografis, dan keandalan pemasok.
Duta Besar Indonesia untuk Australia Siswo Pramono mengatakan kerja sama pupuk tersebut memperkuat integrasi ketahanan pangan kedua negara. Australia membutuhkan pupuk untuk mendukung produksi kapas dan gandum yang menjadi komoditas penting bagi industri tekstil dan pangan Indonesia.
Pemerintah Australia juga menyambut positif masuknya pasokan urea dari Indonesia. First Assistant Secretary Department of Agriculture, Fisheries and Forestry Australia Amanda Chalmers menyebut pasokan tersebut memberikan kepastian bagi petani Australia sekaligus memperkuat ketahanan pangan kawasan.
Kinerja Ekspor Pupuk RI
Kinerja ekspor pupuk dengan kode HS 31 menunjukkan tren yang fluktuatif dalam 5 tahun terakhir, meskipun mulai kembali menguat pada 2025. Merujuk Satu Data Kementerian Perdagangan (Kemendag) dari Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor pupuk tercatat sebesar US$863,7 juta pada 2021 dan meningkat tajam menjadi US$1,17 miliar pada 2022.
Namun, kinerja tersebut mengalami koreksi cukup dalam pada 2023 menjadi US$656,3 juta dan kembali turun ke level US$574 juta pada 2024. Memasuki 2025, ekspor pupuk mulai pulih dengan nilai mencapai US$855,8 juta atau tumbuh 49,09% dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Secara tren, sepanjang 2021—2025, ekspor pupuk Indonesia masih mencatat kontraksi rata-rata sebesar 7,11%. Sementara itu, pangsa ekspor pupuk terhadap total ekspor nonmigas Indonesia pada 2025 tercatat sekitar 0,32%. Pada Januari—Maret 2026, ekspor pupuk tercatat sebesar US$73,8 juta atau turun 31,07% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai US$107,1 juta.
#ekspor-pupuk #pupuk-indonesia #ekspansi-ekspor #pasar-asia #urea-indonesia #surplus-produksi #pasar-ekspor #diversifikasi-pasokan #ketahanan-pangan #kerja-sama-g2g #pasar-global #distribusi-ekspor #ke