Beloyot, dari goa sempit menuju masa depan wisata Berau

Beloyot, dari goa sempit menuju masa depan wisata Berau

Di balik lembah yang terhampar luas dan deretan bukit karst yang menjulang bak istana alam, tersembunyi sebuah ruang di antara rimbun dedaunan dan jutaan ...

(Antara) 25/06/26 16:27 259731

Berau (ANTARA) - Di balik lembah yang terhampar luas dan deretan bukit karst yang menjulang bak istana alam, tersembunyi sebuah ruang di antara rimbun dedaunan dan jutaan pagar pohon kokoh. Ruang itu menyimpan kisah peradaban sejak ribuan tahun lalu.

Di sinilah Goa Beloyot berdiri megah, menyimpan goresan tangan dan gambar purba yang menjadi saksi bisu bagaimana manusia purba hidup, berkarya, dan memiliki keyakinan jauh sebelum catatan sejarah tertulis.

Kini, tempat yang selama ini hanya menjadi rahasia alam itu perlahan membuka diri, bukan hanya untuk dikagumi, melainkan menjadi jalan baru bagi Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, menuju transformasi ekonomi lebih berkelanjutan.

Perjalanan menuju Goa Beloyot, paling dekat dimulai dari Kampung Merabu, permukiman yang dikelilingi hutan tropis lebat dan aliran sungai kecil yang jernih. Jaraknya sekitar 5 kilometer, dan hampir separuh jalur itu harus ditempuh dengan menyusuri dasar lembah yang sering tergenang air dangkal.

Di kanan kiri jalan setapak, banyak terlihat jamur putih yang bisa dikonsumsi. Langkah demi langkah, suara gemericik air berpadu dengan kicau burung dan suara angin yang berembus di celah pepohonan.

Saat sampai dekat mulut goa, suasana berubah hening. Cahaya matahari hanya bisa menembus sebagian rimbun daun diiringi embusan angin tipis, menciptakan bayangan seolah tari erotis di dinding batu.

Begitu masuk goa dengan penuh perjuangan di lorong sempit, volume tak beraturan, tanjakan terjal, ke luar pintu goa pertama, masuk mulut goa berikutnya dengan posisi terus menanjak, akhirnya sampai juga ke bagian penting istana alam.

Di tengah sengal nafas, setelah naik tangga menuju goa utama, keajaiban terlihat. Di dinding dan langit-langit goa terlukis telapak tangan, sosok, serta simbol-simbol kuno yang diperkirakan berusia antara 10.000 hingga 40.000 tahun. Tampak 26 jenis gambar di ruang itu yang didominasi telapak tangan manusia.

Goresan tersebut bukan sekadar bekas. Ia adalah bukti bahwa ribuan tahun silam, manusia purba yang mendiami wilayah itu sudah mengenal seni, mengembangkan budaya, dan memiliki pandangan hidup serta kepercayaan spiritual.

Bagi mereka, gua ini mungkin menjadi tempat tinggal, tempat berkumpul, hingga tempat memohon perlindungan kepada kekuatan alam yang mereka anggap sebagai Pencipta.

Kini, jejak-jejak itulah yang menjadi harta tak ternilai, sekaligus modal dasar bagi Berau untuk melangkah ke arah pembangunan yang berbeda dari sebelumnya.

Transformasi ekonomi

Selama puluhan tahun, perekonomian Berau sangat bergantung pada sektor pertambangan. Kekayaan yang diambil dari dalam perut bumi memang memberikan kemajuan, namun membawa risiko, sumber daya dari tambang, suatu hari akan habis.

Menyadari hal itu, pemerintah daerah bertekad melakukan perubahan besar, melakukan transformasi ekonomi secara bertahap, dari yang mengandalkan apa yang dikeluarkan dari bumi, menuju apa yang bisa dijaga dan dimanfaatkan secara terus-menerus, yakni kekayaan alam dan warisan budaya.

Langkah strategis itu terwujud dalam penyusunan Rencana Aksi Daerah (RAD) Pengelolaan Geopark Kabupaten Berau untuk periode 2026–2032.

Kegiatan pengumpulan data dan presentasi laporan pendahuluan dilaksanakan pada Jumat, 19 Juni 2026, di Badan Perencanaan, Penelitian dan Pengembangan (Bapelitbang) Pemkab Berau.

Acara itu menjadi tonggak awal, dihadiri oleh perangkat daerah, tim pengelola Geopark Sangkulirang-Mangkalihat, serta tim akademisi dari Pusat Studi Pariwisata Universitas Gadjah Mada (UGM).

Kepala Bapelitbang Pemkab Berau Endah Ernani Triariani, menegaskan bahwa kajian ini merupakan bagian dari visi jangka panjang yang tertuang dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah.

Pemkba Berau ingin mengubah arah pembangunan. Tidak lagi hanya bergantung pada hasil tambang, tapi mulai mengandalkan potensi pariwisata dan jasa lingkungan yang bisa dinikmati oleh generasi sekarang dan mendatang.

Kerja sama dengan UGM diharapkan dapat menghasilkan konsep pengelolaan yang matang, sehingga kawasan itu tidak hanya menjadi tempat wisata, tetapi juga penggerak utama kesejahteraan masyarakat.

Untuk kunjungan wisatawan ke Geopark Sangkulirang-Mangkalihat lewat Kampung Merabu, pada 2024 tercatat 8.240 orang, pada 2025 menjadi 11.750 orang atau naik 42,6 persen.

Sementara pada Januari – Mei 2026 tercatat ada 6.890 orang, dengan proyeksi akhir 2026 sebanyak 14.000–15.000 orang, setelah akses dengan kapal di Danau Nyadeng beroperasi penuh.

Sementara itu, untuk keseluruhan pengunjung ke Geopark Sangkulirang-Mangkalihat yang masuk dari berbagai pintu, bukan hanya dari Kampung Merabu, pada 2024 sebanyak 19.300 orang.

Pada 2025 menjadi 26.400 orang atau naik 36,8 persen. Posisi pengunjung periode Januari – Mei 2026 sebanyak 15.200 orang, dengan proyeksi akhir 2026 antara 32.000 hingga 35.000 orang.

Jumlah pengunjung sebanyak itu didominasi oleh wisatawan lokal atau Nusantara sebesar 92 persen, sisanya yang 8 persen merupakan pengunjung mancanegara, terutama dari Prancis, Belanda, Jerman, Australia, dan Jepang.

Puncak kunjungan per tahun rata-rata terjadi pada Juli - Agustus dan Desember – Januari. Faktor pendorong kenaikan kunjungan tiap tahun karena seringnya publikasi terkait Goa Beloyot dan persiapan penetapan status Geopark Nasional.

Peneliti dari Pusat Studi Pariwisata UGM Destha Titi Raharjana mengatakan bahwa pengembangan geopark ini memiliki makna yang jauh lebih luas.

Bagi dia, konsepnya sederhana, namun mendalam. Masa depan Berau tidak harus diambil dari dalam bumi, melainkan dijaga dari permukaannya. Melalui pelestarian alam dan warisan budaya, kita dapat membangun ekonomi yang berkelanjutan.

Karena itu, semua pihak harus mendukung upaya agar kawasan tersebut segera diakui sebagai Taman Bumi Nasional, hingga akhirnya meraih pengakuan sebagai UNESCO Global Geopark.

Dukungan provinsi

Dukungan juga datang dari tingkat Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim). Melalui Kepala Dinas Pariwisata Kaltim Ririn Sari Dewi, menyatakan bahwa pengembangan ekowisata di Kampung Merabu sudah masuk ke dalam rencana pembangunan jangka menengah daerah.

Di antaranya adalah dukungan pembangunan infrastruktur dan bantuan dua kapal untuk wisata di Danau Nyadeng di Kampung Merabu yang akan diserahkan pada Juli tahun 2026 ini.

Sementara jalan ke arah Goa Beloyot, di beberapa titik yang sulit dilintasi oleh pengunjung karena melewati sungai kecil atau dikhawatirkan merusak keanekaragaman hayati, direncanakan dibuat jalan semacam jembatan, dengan anggaran diusulkan dari Deputi Destinasi Kemenpar 2027.

Goa Beloyot sudah dikenal hingga ke mancanegara karena jejak sejarahnya yang luar biasa. Jika aksesnya lebih baik, semakin banyak wisatawan yang bisa datang melihat langsung bukti peradaban itu.

Kunjungan wisatawan yang meningkat akan membuka peluang ekonomi yang luas bagi warga sekitar. Masyarakat tidak lagi hanya menjadi penonton, melainkan menjadi pelaku utama, mulai dari menjadi pemandu wisata, mengelola penginapan atau homestay, menyediakan makanan khas, hingga membuat kerajinan tangan dan oleh-oleh.

Saat ini, potensi itu sudah mulai terasa. Tiga paket wisata unggulan telah berjalan dan semakin diminati, seperti Paket Merabu menuju Danau Nyadeng yang menawarkan keindahan danau air tawar yang jernih.

Kemudian Paket Merabu ke Puncak Ketepu yang menyuguhkan panorama hamparan karst yang memukau, serta Paket Merabu menuju Goa Beloyot yang membawa pengunjung menyusuri jejak sejarah ribuan tahun silam.

Semua paket ini dirancang agar wisatawan bisa merasakan keindahan alam, sekaligus memahami nilai geologi dan budaya yang terkandung di dalamnya.

Jika dikelola dengan baik, sektor pariwisata ini memiliki cabang yang sangat luas. Masyarakat bisa mendapatkan penghasilan yang stabil, tanpa harus merusak alam. Itulah yang diharapkan dari ekowisata ini.

Bagi warga Kampung Merabu dan sekitarnya, perubahan ini membawa harapan baru. Selama ini, kesejahteraan sering kali bergantung pada naik turunnya harga komoditas tambang.

Kini, dengan semakin matangnya pengelolaan kawasan geopark, mereka melihat masa depan yang lebih pasti. Setiap langkah yang menjaga hutan, setiap usaha yang melindungi gua, dan setiap cerita yang disampaikan kepada pengunjung menjadi aset berharga yang bisa terus dinikmati dari generasi ke generasi.

Dari goresan tangan di dinding dan langit-langit Goa Beloyot yang menyimpan kisah masa lampau, hingga rencana pembangunan yang matang untuk masa depan, semua itu menyatu dalam satu tujuan besar, menjadikan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat sebagai wajah baru menuju daerah makmur, terjaga alamnya, dan dihormati dunia karena kekayaan warisannya.

Editor: Masuki M. Astro
Copyright © ANTARA 2026

#goa-beloyot #masa-depan #wisata #pariwisata #kabupaten-berau

https://www.antaranews.com/berita/5622820/beloyot-dari-goa-sempit-menuju-masa-depan-wisata-berau